Logan, Perpisahan Manis Wolverine

Sebagai pengagum Hugh Jackman dan Wolverine, pastinya film Logan memang film yang sudah saya nantikan. Saya sudah mengaguminya sejak film X Men yang pertama. Bahkan kalau boleh jujur, saya lebih fokus pada tokoh Wolverine ketimbang tokoh X-Men yang lain.

Dan sekira akhir pekan lalu, saya berkesempatan menonton Logan.

Saya masuk telat dan film sudah mulai. Tapi mudah-mudahan tidak mengurangi pemahaman saya terhadap filmnya yes. Lagipula, saya di sini tidak akan menceritakan jalannya film. Nanti spoiler lagi.

Kalau dari tokoh Wolverinenya, jelas film Logan masuk ke dalam film superhero yang pastinya melibatkan banyak adegan berantem-beranteman.  Namun sepanjang saya menonton filmnya, saya pikir Logan bukan sekedar film superhero. Malah cenderung ke drama. Bagaimana keinginan Professor Xavier memiliki keluarga dan hidup normal, Wolverine yang sudah ditempa dengan berbagai macam mara-bahaya dan perihnya kehidupan, tiba-tiba bertemu Laura, anaknya. Wolverine yang biasa kasar, tiba-tiba harus bersikap seperti bapak terhadap Laura. Ini sempat membuat Wolverine kikuk.

Kiranya saya setuju dengan pendapat Joko Anwar yang dalam twitternya menyebut Logan bukan sekedar film superhero. Film ini bahkan bisa membuat penontonya mengeluarkan air mata lho. Terutama pas adegan…..

Film ini bisa membuat kita berpikir,  how precious our family is.

By the way  sebelum Anda memutuskan untuk membawa serta anak-anak, nanti dulu yes. Soalnya adegan berantem-beranteman di film ini tergolong brutal sih.  Gak sedikit saya lihat penonton yang menutup mata begitu adegan sadis berantem-beranteman muncul.

Terlepas dari adegan family yang cukup membuat kita berpikir, saya juga sedih gak bisa lihat Hugh Jackman jadi Wolverine lagi. Sebab denger-denger sih  ini film terakhirnya dia sebagai Wolverine. Isunya, Shahrukh Khan  bakal jadi pengganti. Are you serious?  Nanti sebelum berantem, Wolverine joget dulu lagi. Hehehe.

Advertisements

Jangan Terlalu Berharap (Pada Media)

“Kambing. Media-media sekarang tuh kaya t*i tau gak sih lo,” maki Emir kesal.

“Jadi kaya kambing apa kaya t*i nih,” sahut Amri menanggapi.

“Kaya t*i kambing juga boleh. Terserah lu,” timpal Emir lagi.

===
Kekesalan yang dialami Emir jamak kita lihat ketika Pemilu. Masyarakat dibuat bingung akan hal itu. Mereka bertanya-tanya, bagaimana mendapatkan informasi yang benar sesungguhnya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita menengok salah satu pandangan yang terkenal dalam dunia teks, Paradigma Kritis.

Mengutip Eriyanto dalam buku Analisis Wacana, paradigma kritis bersumber dari pemikiran sekolah Frankfurt. Dalam paradigma ini, media bukanlah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok dominan.

Paradigma kritis ini kemudian dikembangkan oleh seorang ahli bernama Stuart Hall. Lebih jauh, Hall merumuskan Paradigma Kritis secara lebih tajam. Menurutnya, media adalah pemeran utama dari pertarungan kekuasaan. Media memilih nilai-nilai dan apa yang seharusnya masyarakat terima atau inginkan.

Dalam praktek di lapangan, wartawan sebagai bagian dari lingkup yang lebih besar yakni media, yang diterjunkan untuk meliput suatu peristiwa, akan membangun kembali peristiwa itu dengan angle pemberitaan tertentu. Wartawan membangun suatu peristiwa utuh menjadi sebuah realitas.

Realitas dapat ditandakan secara berbeda pada perstiwa yang sama. Makna yang berbeda dapat dilekatkan pada peristiwa yang sama.

Kesimpulannya, ketika masyarakat melihat suatu berita, itu adalah hasil rekonstruksi yang dibangun oleh sang wartawan yang meliput peristiwa tersebut.

Apakah tindakan wartawan melakukan rekonstruksi atas suatu peristiwa yang terjadi itu salah? Tidak juga. Sebab wartawan juga punya nilai yang dia pegang.

Ambil contoh begini, wartawan yang bersikap apolitis, akan menulis berita soal janji-janji para politisi dengan nada sinis dikarenakan oleh nilai politik t*i kucing yang dia pegang. Lain cerita jika si wartawan menganggap politisi ini punya sesuatu yang menjanjikan atau dia berpihak pada seorang politisi, kemungkinan besar –kalau tak mau ditulis pasti- berita soal politisi itu akan bernada positif atau istilahnya lebih kalemlah.

Lalu pertanyaan lainnya, masih adakah berita atau katakan media yang netral? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama adalah buang jauh-jauh kata netral karena yang ada adalah jujur dan adil.

Robert Scheer dari Los Angeles Times mengatakan, yang lebih penting bukan Apakah Anda bisa netral, tetapi bagaimana Anda (dalam hal ini wartawan) mengerjakan pekerjaan Anda dengan cara yang adil dan jujur.

Koran Washington Post bisa dijadikan acuan terkait sikap adil yaitu:

  • Berita itu tidak adil bila mengabaikan fakta-fakta yang penting. Jadi adil adalah lengkap.
  • Berita itu tidak adil bila dimasukkan informasi yang tidak relevan. Jadi adil adalah relevansi.
  • Berita itu tidak adil bila secara sadar maupun tidak, menggiring pembaca ke arah yang salah atau menipu. Jadi adil adalah jujur.
  • Berita itu tidak adil bila wartawan menyembunyikan prasangka atau emosinya di balik kata-kata halus yang merendahkan. Jadi adil menuntut keterusterangan.

Lantas kembali ke pertanyaan pertama, bagaimana cara masyarakat menentukan kebenaran suatu informasi? Bertrand Russell pernah berkata kepada mahasiswanya

“Lakukan pengamatan sendiri. Aristoteles dapat menghindari kekeliruan tentang perkiraannya bahwa wanita mempunyai jumlah gigi lebih sedikit dari pria, andai saja dia meminta istrinya membuka mulut dan menghitung sendiri. Menganggap kita tahu, padahal tidak, adalah kesalahan fatal yang cenderung kita lakukan,”

Ya, masyarakat dengan nilai-nilai yang mereka dapat, sebetulnya mampu menentukan dan memilah-milah informasi yang benar dan salah. Sebagai contoh, seorang pecandu sepak bola pasti tahu informasi yang menyebut Zlatan Ibrahimovic bermain di Persija Jakarta adalah salah.

Terlepas dari paparan di atas, ini adalah opini penulis, sebaiknya kita jangan terlalu berharap lebih kepada media. Karena koran sekaliber Washington Post dan Los Angeles Times pun penulis yakin masih melakukan pilih kasih dalam berita (soal terorisme misalnya, pihak mana yang sering disudutkan? Mengapa label terorisme hanya melekat pada pihak tertentu itu?).

Jadi sekali lagi, jangan terlalu berharap, karena berharap, apalagi terlalu itu sakit. Utamanya kalau soal cinta #eeh.

Daftar Pustaka

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana, Pengantar Teks Media , Jakarta: LKIS
Ishwara,Luwi, 2011. Jurnalisme Dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Fitur Status, Penegasan dari Whatsapp

whatsappUpdate terbaru Whatsapp mungkin membuat sebagian penggunanya mengernyitkan dahi. Apa-apaan nih, kok ada fitur status di tengah? Di Whatsapp edisi terbaru, fitur contacts yang biasa ada di tengah antara tab chats dan calls sekarang pindah ke kanan atas. Sebagai ganti, ada fitur status yang berada di tengah di antara fitur chats dan calls.

Di fitur status tersebut, penulisan status di Whatsapp yang biasanya statis, berubah. Dengan fitur status, pengguna bisa mengunggah video, gif atau foto dengan keterangan (caption). Sederhananya, fitur status ini bisa disamakan dengan fitur Instagram Stories pada Instagram.

Seperti yang sudah disebut di atas, sebagian pengguna Whatsapp mengeluhkan adanya fitur status ini. Garis besar dari keluhan itu rata-rata mereka sebetulnya pengin Whatsapp tetap sederhana, tanpa ada fitur status. Sayangnya nasi sudah menjadi bubur.

Terlepas dari pro kontra, adanya fitur status menurut saya bisa meningkatkan interaksi antara pengguna Whatsapp.  Kita tinggal menekan tombol reply untuk mengomentari status yang baru diupdate oleh teman kita.

Pengguna Whatsapp juga bisa lebih eksis dengan fitur yang memungkinkan mereka membagi video, gif, atau foto. Bandingkan dengan fitur status Whatsapp edisi sebelumnya yang hanya berupa teks.

Lebih lanjut, kehadiran fitur status itu bisa dibaca sebagai penegasan. Whatsapp ingin benar-benar jadi aplikasi media sosial yang menunjang interaksi dan keinginan unjuk eksistensi penggunanya, seperti aplikasi media sosia lain semisal Facebook, Instagram, Path, atau Twitter. Bukankah aplikasi-aplikasi itu media sosial banget? Nah Whatsapp ternyata tidak mau ketinggalan. Dengan fitur ini, Whatsapp mau menegaskan kalau mereka juga aplikasi media sosial lho.

Tipu-tipu ala Jakarta

Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
(Doa di Jakarta, W.S Rendra)

“Wah asik banget kalau Jakarta tiap hari kayak gini: jalan lowong, udara lumayan seger. Pasti warga Jakarta, tingkat kebahagiaanya nambah. Gak stres karena macet,” gumam saya begitu keluar dari kantor, pagi ini.

Saya berasumsi, jika Jakarta bisa seperti ini setiap saat, tingkat warga yang stres turun, warganya bisa lebih sabar. Jakarta mungkin bisa lebih bagus dan cantik.

Berangkat dari asumsi itu, saya coba iseng cari-cari data di Badan Pusat Statistik (BPS) buat cari indeks kebahagiaan provinsi DKI Jakarta dibanding dengan provinsi lain di Indonesia. Dan Alhamdulillah ketemu.

Dikutip dari  laporan tersebut, indeks kebahagiaan adalah indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang secara substasi bersama-sama merefleksikan tingkat kebahagiaan yang meliputi kepuasan terhadap  1)  kesehatan,  2)  pendidikan, 3) pekerjaan, 4)  pendapatan  rumah tangga, 5)  keharmonisan  keluarga,  6)  ketersediaan  waktu  luang,  7)  hubungan sosial,  8)  kondisi  rumah  dan  aset,  9) keadaan lingkungan,  dan  10) kondisi keamanan.

Semakin  tinggi  nilai  indeks  menunjukkan  tingkat  kehidupan  yang  semakin bahagia,   demikian   pula   sebaliknya,   semakin   rendah   nilai   indeks   maka penduduk semakin tidak bahagia (Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Juli 2015, hlm 140).

Data soal indeks kebahagiaan ada di Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Bulan Juli 2015. Saya coba cari yang terbaru, gak ketemu. Dari data tahun 2015 , indeks kebahagiaan DKI mencapai 69,21 . Bukan yang tertinggi dibanding provinsi lain di Indonesia.

Bahkan, angka ini kalah dengan provinsi yang secara pembangunan infrastruktur masih kalah dari Jakarta, semisal Maluku (72,12) dan Papua Barat (70,45). Angka tertinggi jadi milik provinsi Kepulauan Riau (72,42). Sementara, angka terendah ada di provinsi Papua (60,97).

Mengherankan juga ya, dengan segala gemerlap (mall, pusat hiburan, kecanggihan teknologi) dan pembangunannya, Jakarta ternyata tak lantas membuat warganya jadi yang paling bahagia di Indonesia. Tapi ya tetep, masih banyak aja yang pengin datang ke Jakarta.

Tampaknya, Jakarta memang telah sukses menipu kita. Dengan gemerlap dan dinamikanya, kita berpikir itu bisa membuat kita bahagia. Ternyata….

Berhubung sekarang lagi pilkada, semoga gubernur yang terpilih nanti bisa membuat kota Jakarta jadi kota yang memberikan kebahagiaan yang hakiki buat rakyatnya. Bukan kebahagiaan semu. Akan sangat kelewatan, jika untuk berkuasa di kota yang penuh tepu-tepu ini, kita masih juga pakai cara curang dan menipu. Semoga jangan.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” (Menjadi Tua di Jakarta- Seno Gumira Ajidarma)

Biarkan Mereka, Kita, Saya, Anda, Memilih Pemimpin Karena Agamanya

Berpikiran sempit, tidak open minded, tidak ilmiah, bigot dan semacamnya. Saya tak habis pikir (jika) ada orang yang menyematkan sebutan-sebutan itu pada orang yang memilih pemimpin berdasarkan agamanya. Seolah-olah yang menyebut adalah yang paling open minded, paling ilmiah, visioner dll.

Mereka yang memilih pemimpin berdasarkan agama juga pasti punya pertimbangan matang. Tidak asal pilih. Bagi mereka, agama adalah kriteria penting dalam memilih pemimpin. Bahkan bisa lebih diprioritaskan ketimbang wajah, perilaku, atau… visi dan misi sekalipun.

Jika mau beranalogi, memilih pemimpin barangkali bisa dianalogikan seperti memilih pasangan. Ada yang memilih pasangan karena kekayaan, kebagusan wajah, status keturunan, dan agamanya. Anda mau memilih karena kekayaan, silakan. Mau memilih karena terpesona kebagusan wajah, monggo. Atau status keturunan, sah-sah saja. Itu semua hak Anda.

Tapi yang saya tahu, mayoritas tetap memprioritaskan kesamaan agama ketimbang yang lain. Wanita memilih pria yang seagama dengan harapan bisa menjadi imam yang baik. Pria memilih wanita yang seagama dengan harapan wanitanya bisa jadi istri dan ibu yang baik bagi anaknya.

Lagipula, mereka yang menjadikan agama sebagai prioritas utama, tak lantas abai dengan visi dan misi, program, atau perilaku calon pemimpin yang bersangkutan. Mereka yakin, ada kebaikan yang hanya bisa diraih, jika pemimpin mereka seagama dengan mereka.

Kebaikan-kebaikan seperti yang dimiliki oleh mereka yang memilih pasangan segama: pergi ke rumah ibadah yang sama, dan bersama-sama, mengimani Tuhan yang sama, memohon pada Tuhan yang sama.

Hal mana yang lebih Anda prioritaskan dalam memilih pemimpin, itu mutlak menjadi hak Anda masing-masing. Lagipula, seperti kata Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin: Kita bangsa religius yg menjadikan agama sebagai acuan bersikap. Memilih cagub berdasar keyakinan agama sama sekali tak langgar konstitusi.

#tabik

Plis Wenger, Berubah Dong

arsene-wenger

Arsene Wenger (Sumber: mirror.co.uk)

Gimana gak sakit coba: udah bela-belain gak pulang, eh tapi tim kesayangan lo kalah, 3-1 pula. Itu sih bukan sakitnya tuh di sini lagi, tapi di sana, di mana-mana.

Kalah dari Chelsea di pekan ke-24 membuat gue berpikir: udah lah, ini gagal lagi aja juara Liga. Dengan sisa 14 pertandingan lagi, apapun bisa terjadi sih. Tapi ngeliat performa Chelsea yang stabil plus sisa lawan mereka, rasanya trofi Liga musim ini udah hampir pasti menuju ke Stamford Bridge.

Terus Arsenal? Gue sebagai fans sih berharapnya juara. Tapi realistis lah, paling-paling dapat posisi ketiga atau runner up. Itupun kalau performa mereka stabil terus. Kalau gak, buruk-buruknya terlempar dari lima besar dan masuk Liga Europa musim depan.

Kalau musim ini gagal lagi, itu berarti udah 14 musim Arsenal gak meraih gelar juara Liga. Terakhir kali Arsenal juara itu musim 2003/04, waktu acara musik yang kebanyakan lipsync belum banyak di Indonesia.

Sebagai analis amatir, ada beberapa hal yang menurut gue jadi biang kerok kegagalan Arsenal yang terus menerus ini.

Satu hal yang selalu gue amati ketika tim-tim besar khususnya tim-tim Liga Inggris main lawan Arsenal. Liat deh, pas Arsenal nyerang, mereka numpuk pemain di kotak penalti.

Ini karena kebiasaan Arsenal buat ngurung pertahanan lawan dengan permainan passingnya. Kalau dirunut, cara main Arsenal di 1/3 daerah penalti lawan gini nih: 1-2 passing, oper ke pemain sayap lalu ada dua pilihan, umpan silang atau permainan one-two pass. Gitu terus.

Alhasil, Mereka nunggu pemain Arsenal buat salah oper lalu counter attack. Simak aja kata-kata Sir Alex Ferguson soal cara dia saat lawan Arsenal sewaktu masih ngelatih Manchester United.

“Wenger punya pakem bagaimana dia melihat pemain dan cara bermain. Kami tidak perlu memenangkan bola melawan Arsenal. Kami harus mengintersepnya. Anda butuh pemain bagus yang bisa mengintersep,” tulis Sir Alex Ferguson di otobiografinya soal taktik Wenger.

Berangkat dari ucapan Ferguson, gue coba ngeliat statistik Whoscored. Ternyata bener juga kata Ferguson. Arsenal udah lima kali kalah musim ini. Di lima kekalahan itu, jumlah intersep tim-tim yang menang dari Arsenal selalu lebih banyak. Kecuali pas kalah lawan Manchester City dan Liverpool.

Southampton, waktu menang 2-0, ngebuat 22 kali intersep berbanding 11 milik Arsenal. Watford ngebuat 22 kali, Arsenal cuma 8. Chelsea semalem, bikin 17 intersep sementara Arsenal, 11.

Amati juga jumlah operan tim-tim tersebut. Rata-rata mereka membuat jumlah operan yang lebih sedikit dari Arsenal (kecuali Manchester City karena ada Guardiola). Tapi ya menang. Itu karena mereka ngopernya efektif. Mereka langsung melancarkan serangan balik.

Masih kata Ferguson. Menurut dia, ada ruang di Arsenal yang bisa digunakan tim lawan untuk menyerang balik. “Ruang untuk serangan balik, biasanya di temukan di posisi melebar. Tidak peduli di kandang atau tandang, full back Arsenal biasanya lebih sering berada di daerah pertahanan lawan, sembari berharap secara naif, rekan setim mereka tidak kehilangan bola,” kata Ferguson.

Kalau udah gini, mau nyalahin Arsene Wenger? Gak juga, tapi jangan naif kalau Wenger tentu harus tanggungjawab: dia manajernya, dia yang atur taktik, dia yang memutuskan beli pemain.

Gue pribadi berharap Wenger mau berubah dan jangan keras kepala soal taktiknya. Entah gimana caranya, dia harus menemukan taktik yang efektif. Jangan tanya gue, karena gue gak punya lisensi kepelatihan dan gak tau gimana taktik yang efektif. Kenapa Wenger? Sebab mau gak mau, cuma dia yang bisa membalikkan keadaan saat ini. Gak tau kalau musim depan.

Akhir pekan lalu, saya berkesempatan mendatangi salah satu negeri jiran Indonesia, Singapura. Saya menghabiskan waktu empat hari di sana dari mulai tanggal 19 Januari hingga 23 Januari. Saya mengunjungi Singapura untuk keperluan kerja: meliput turnamen golf di Sentosa Golf Club. Ini adalah kali pertama, saya ke luar negeri. Jadi, maaf kalau tulisan ini sedikit norak. 🙂

Selain untuk meliput, saya menggunakan kesempatan ini untuk membeli buku. Ya, dari sebelum berangkat, saya sudah browsing toko buku di sana. Saya menemukan Kinokuniya di Orchard Road punya koleksi buku sepak bola yang selama ini saya inginkan. Maka saya begitu excited saat hari keberangkatan tiba.

Saya gak akan menceritakan gimana liputannya. Karena gak jauh beda sama liputan di Indonesia: pantau, nulis, kirim. Malah saya mengandalkan rilis karena tak bisa interview si pegolfnya. :p

Hari Pertama (19 Januari 2017)

langit-soetta

Saat baru take off dari Bandara Soetta (Photo: Pribadi)

Saya sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta sejak pukul 06:30 WIB. Dengan diantar Ayah, saya menuju Terminal 2D Bandara Soetta. Saya akan berangkat dengan pesawat Singapore Airlines, flight pukul 08:30 WIB. Di dalam tiket, tertera jam kedatangan saya di Bandara Changi yaitu sekitar pukul 11:30 waktu Singapura.

Di dalam pesawat, ada layar kecil yang memuat informasi soal rute penerbangan kami dari Jakarta ke Singapura. Rupanya, kami melewati menyusuri sisi utara pantai Sumatera, lalu kemudian berbelok melewati langit Batam untuk menuju Changi. Pukul 11:30 waktu Singapura, saya akhirnya menginjakkan kaki di Singapura, tepatnya di Bandara Changi. Kru pesawat memberitahu kalau waktu Singapura lebih cepat satu jam dari Jakarta. Saya pun menyetel jam tangan saya, sesuai waktu Singapura.

“Biasa saja ah,” pikir saya soal penampilan Bandara Changi. Sebelum ke sini, saya sempat mendengar kabar, kalau Changi adalah salah satu bandara terbaik di dunia. Menurut saya sih, kalau dari penampilannya, Changi biasa saja. Mungkin dia masuk kategori terbaik karena kerapihan dan ketepatan jadwal penerbangannya.

Tiba di Changi saya bertemu dengan salah satu wartawan Indonesia. Sedari tadi, ia memang satu pesawat dengan saya, namun saya ragu untuk menyapa karena hanya pernah satu kali melihat wajahnya saat meliput Indonesia Open. “Dicky dari Jakarta Post,” katanya memperkenalkan diri.

Saat hendak melewati pintu imigrasi, petugas imigrasi Singapura meminta saya menempelkan dua jempol saya untuk pendataan. Tahu saya dari Indonesia, Ia sempat menanyakan bagaimana orang Indonesia mengucapkan kata jempol pada saya.

Luar biasa mewah. Bersama Mas Dicky, saya dijemput dengan menggunakan mobil BMW seri terbaru yang sangat nyaman. Saya lupa seri berapa. “Lumayan kan, kalau nanti lihat orang pakai mobil ini di Jakarta, kita bisa bilang ‘Gue udah ngerasain naik mobil itu mah,” kata Mas Dicky.

Rapi, bersih, dan tertata. Itulah kesan yang saya dapat selama melihat pemandangan di jalan dari Bandara ke hotel. Tak ada sampah yang berserakan. Saya juga melihat banyak mobil pick up yang biasa ada di film Jackie Chan. Itu lho yang depannya pipih. Saya juga melihat gedung Marina Bay yang terkenal itu. Dari bandara ke hotel saya yaitu Shangri-La Rasa, Sentosa hanya membutuhkan waktu 30 menit. Dari hotel, saya langsung liputan.

Malam harinya, saya nekat pergi ke Orchard. Sendirian. Dengan bermodalkan peta dan tanya sana-sini, saya naik MRT dari stasiun Harbour Front ke Orchard. Oh ya, dari hotel ke Harbour Front ada shuttle bus. Ada dua line dari Harbour Front menuju Orchard. Yang pertama Circle Line (warna kuning) dan kedua North East Line (warna ungu). Seharusnya, saya mengambil rute yang kedua. Namun saya mengambil rute yang pertama, yang membuat saya harus transit dua kali untuk ke Orchard.”Gak apa-apalah, sekalian explore jalur,” pikir saya. Namanya juga baru pertama kali.

mrt-map-dt

Peta MRT di Singapura (mytransport.sg)

Saya ternyata tak langsung tiba di Orchard Road melainkan dua blok dari jalan yang terkenal sebagai pusat belanja tersebut. Setelah bertanya ke salah satu warga sana, saya ternyata harus berjalan sekitar beberapa meter lagi untuk sampai ke Orchard, tepatnya ke Kinokuniya. Toko buku asal Jepang itu ternyata berada di lantai empat gedung bernama Takashimaya.

orchard-road

Salah satu sudut Orchard Road, ION Mall. (Photo: Pribadi)

Saya hampir saja kalap untuk membeli beberapa buku di sana. Koleksi buku-buku sepak bolanya benar-benar lengkap.Gila!.  Akhirnya, saya bisa menyentuh buku-buku yang selama ini hanya bisa saya lihat lewat internet. Butuh waktu lama untuk memutuskan buku mana yang akan saya beli. Dan pada akhirnya, saya memutuskan untuk membeli dua buku: The Number’s Game karya Chris Anderson dan David Sally serta Soccernomics karangan Stefan Syzmanski dan Simon Kuper. Saya harus merogoh kocek hingga 54 dollar Singapura untuk membeli kedua buku itu.

Hari pertama di Singapura saya akhiri di patung Merlion. Saya ke sana dengan teman saya, Risa dan satu fotografer Kompas, Mas Adrian. Kebetulan, Risa memang juga mendapat tugas peliputan ke Singapura dari kantor kami.

Patung Merlion dan Marina Bay memang cukup memesona. Banyak orang menghabiskan waktu untuk berfoto-foto di dua tempat yang ikonik tersebut. “Alam dia gak punya. Ya inilah yang dijual oleh Singapura ke wisatawan: gedung-gedung, tata kota yang rapi, dan transportasi yang bagus,” kata Mas Adrian.

Seperti wisatawan lain, kami pun berfoto-foto di sana. Fotonya masih di Mas Adrian.

Hari Kedua (20 Januari 2017)

Pagi hari kedua di Singapura saya menghabiskan waktu berjalan ke Museum Nasional Singapura bersama dengan Risa dan Mas Adrian. Museum ini ada di Stamford Road, beberapa kilometer dari Orchard Road.Gedung museum ini berarsitektur gedung-gedung kolonial. Mirip-miriplah sama yang ada di Kota Tua. Tapi gedungnya rapi. Saya kira, gedung ini bukan gedung lama, hanya arsitekturnya saja.

di-museum-singapura

Berpose di depan National Museum of Singapore. Pura-pura lihat peta, padahal petanya terbalik. (Photo: Pribadi)

Ada tiga kategori tiket Museum. Selengkapnya bisa dicek di nationalmuseum.sg. Kami memilih tiket seharga 18 dollar Singapura agar bisa memasuki semua galeri. Sebetulnya kita bisa memilih, galeri mana yang akan kita kunjungi lebih dulu. Tapi oleh petugas, kita akan diarahkan menuju Glass Rotunda lebih dulu.

Dari sekian galeri, yang berkesan buat saya adalah galeri yang memuat sejarah Singapura. Kalau kata Mas Adrian sih, barang-barangnya gak jauh beda dari yang ada di Indonesia. Dan memang bener. Ada mainan anak kecil kayak perahu-perahuan, baskom nasi uduk, hehehe dll. Buat saya, yang bagus itu ya poster-poster soal invasi Jepang ke Singapura, yang fotonya saya taruh di paling atas post ini. Saya baru tahu kalau Singapura juga kena invasi Jepang.

pajangan-di-museum-singapura

Salah satu pajangan di National Museum of Singapore (Photo: pribadi)

Puas main di National Museum of Singapore, kami jalan ke Orchard. Ternyata lumayan jauh, hahahaha. Beberapa kali kami harus duduk istirahat. Kami juga sempat membeli eskrim gerobak untuk menghilangkan lapar dan haus. Eskrimnya rasa durian dan disajikan dengan roti. Penjualnya kakek dan nenek yang boleh dibilang tidak bisa berbahasa Inggris.

Setelah sekitar 30 menit jalan, kami sampai di Orchard. Di Lucky Plaza, kami membeli oleh-oleh yang mayoritas coklat. Dengan uang 10 dollar Singapura, kita sudah bisa membeli tiga bungkus coklat. Overall, harga barang di Lucky Plaza murah-murah. Lucky Plaza bisa dianalogikan seperti Tanah Abang lah.

Di Orchard Road, saya berpisah dengan Risa dan Mas Adrian. Saya balik ke hotel untuk liputan, Risa dan Mas Adrian pulang ke Indonesia.

Hari Ketiga dan Keempat (21-22 Januari 2017)

Di hari ketiga, saya kembali ke Orchard untuk membeli oleh-oleh yang belum sempat saya beli ketika hari pertama. Kali ini, Mas Dicky turut serta.

Saya mengulangi kesalahan di hari pertama: mengambil Circle Line dari Harbour Front untuk ke Orchard. Namun karena sudah sedikit paham rutenya, saya sedikit relaks. Berbeda dengan saya, Mas Dicky menaiki MRT dengan tiket harian, sedangkan saya menggunakan Singapore Tourist Pass (STP) yang telah saya gunakan sejak hari pertama. Untuk membelinya, kita cukup mengunjungi Ticketing Office di tiap stasiun MRT. Maksimal pemakaian adalah tiga hari setelah tiket ini dibeli. Untuk tiga hari, harga tiket STP yaitu 30 dollar Singapura. Ada deposit 10 dollar Singapura yang bisa kita ambil kembali. Dengan tiket ini, kita bebas menggunakan moda transportasi yang ada di Singapura, kecuali taksi.

Di Orchard, saya kembali mengunjungi toko yang sama di Lucky Plaza. Mas Dicky dan saya membeli coklat. Saya menambahnya dengan gantungan kunci. Karena sudah malam, kami tak lama di Orchard dan langsung pulang ke hotel. Oh ya, kami sempat bertukar pikiran soal gaya pacaran orang Singapura. “Kalau di Indonesia, yang begini mah alay,” kata Mas Dicky. Saya sepakat.

Sore harinya, saya sempat kembali ke stasiun Harbour Front untuk mengembalikan kartu STP sekaligus mengambil deposit 10 dollar Singapura. Lumayan loh.

Hari Kelima (23 Januari 2017)

Tak ada jalan-jalan. Pagi harinya, kami check out dan sarapan. Lagi, saya dijemput dengan mobil mewah. Hujan deras yang turun sempat membuat kami berpikir, pesawat kami akan delay. Kami beruntung, hujan deras reda begitu kami tiba di Changi.

Sekitar jam 13:15 WIB, kami tiba di Soetta.

Kesan-kesan selama di Singapura

Negaranya rapi, orangnya juga cukup ramah. Saya awalnya ragu untuk menanyakan tempat, karena pikir saya, orang Singapura cukup individualis. Maklum, negara maju. Tapi ternyata tak juga. Sewaktu saya di bus, salah satu penumpang bahkan sempat mengingatkan saya untuk turun di halte menuju Orchard.

Soal makanan? Terus terang saya tak banyak mencicipi makanan khas Singapura. Tapi buat yang beragama Islam, berhati-hatilah karena daging babi tersebar di mana-mana. Hehehe.

Yang bikin Ilfeel

Toiletnya bikin ilfeel. Gak ada semprotan untuk cebok.

Soal tempat menyebrang jalan juga. Sebenarnya ini bagus, kita jadi gak sembarangan untuk nyebrang jalan. Namun kadang menyulitkan, kita harus benar-benar cari tempat yang ditujukan untuk nyebrang dan kadang itu butuh waktu.

Saat makan juga usahakan membawa tisu sendiri. Dari pantauan saya, rata-rata tempat makan di Singapura tidak menyediakan tisu. Saat saya makan di tempat semacam food court di ION Mall, di sebelah saya ada empat ibu-ibu orang Indonesia. Mereka membawa tisu sendiri. Mungkin tidak adanya tisu agar orang tidak membuang sampah sembarangan.

Dari beberapa tempat yang saya kunjungi, sangat sulit juga untuk menemukan tong sampah. Herannya, tak ada sampah yang berserakan. Karena faktor denda yang tinggi kali ya. Jadi orang tidak buang sampah sembarangan dan malas makan sambil jalan.

pintu-keluar-kecemasan

Anda cemas? Sila ambil kiri (Photo: pribadi)

Nama kocak

Buat kalian mungkin nama-nama ini terdengar biasa. Tapi entah kenapa, nama-nama berikut ini kocak saja buat saya. Hehehe unik dan lucu kalau diucapkan.

Yang pertama adalah Siloso. Ini adalah satu stasiun kereta gantung yang pas berada di depan hotel saya. Setiap mengucapkan kata ini, saya selalu ingin menambahkan kata Rabu, Kamis, Sabtu, Minggu. Jadinya: Siloso, Rabu, Kamis, Sabtu, Minggu. Selain hari-hari itu saya juga mengucapkannya dengan begini, Siloso, cie, duo, tigo. Lupakan.

Nama yang kedua adalah Telok Blangah. Setiap mengucapkan kata Telok, saya menirukan gaya-gaya orang melayu yang ada di serial Upin-Ipin. Kebayang gak cara ucapinnya gimana? Kalau gak, yaudah. Gak usah dipikirin.

Nah, yang terakhir ada Dhoby Ghaut. Ini adalah salah satu stasiun transit MRT di Singapura. Does the name remember you of something? Yep, kata Dhoby itu mengingatkan gue pada tokoh Doby di serial Harry Potter, atau anjing Dalmantian.

Demikian pengalaman saya di Singapura. Kalau bukan karena jadi wartawan, entah kapan kaki saya bisa menapak di sana. Kalau Red Hot Chili Peppers bilang My music is my aeroplane, mungkin gue juga bisa bilang my job is my aeroplane. Tapi… sampai kapan ya jadi wartawan?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Singapura, Weekend Lalu