Dua Setan Informasi

Terus terang, saya baru tahu kalau kemarin, Rabu (3/5/2017) itu Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day). Sebagai wartawan junior izinkan saya untuk mengucapkan selamat. Semoga dunia pers Indonesia semakin baik. Seperti kata novelis sekaligus wartawan, Albert Camus: Freedom is nothing, but a chance to be better.

Presiden Joko Widodo dalam pidatonya menyerukan media-media untuk menghentikan berita palsu (hoax) dan ujaran-ujaran kebencian. “Media semestinya meluruskan kalau ada berita-berita yang tidak benar, ada berita-berita bohong, ada hoax, ada ujaran-ujaran yang tidak baik,” kata Jokowi setelah berpidato dalam acara Hari Kebebasan Pers Sedunia 2018, JCC, Jakarta, Rabu (3/5/2017) seperti dikutip dari Detik.com.

Yang dikatakan Presiden tentu benar. Dengan maraknya media sosial dan media online, banjir informasi adalah sebuah keniscayaan. Sayangnya, ada saja oknum-oknum yang memanfaatkan ini untuk menyebar berita palsu. Akibatnya tentu jelas, masyarakat menjadi bingung: mana yang benar, mana yang salah. Maka dari itu, belakangan ini muncul gerakan literasi media (media literacy) untuk menangkal hoax dan mengedukasi masyarakat di tengah bajirnya informasi.

Namun yang tidak kalah penting dari menangkal hoax adalah menyikapi media-media partisan yang sekarang ini ada. Yang saya maksud media partisan adalah media yang jadi tempat penyalur syahwat politik si pemiliknya. Saya tentu tak usah menyebut media mana yang partisan. Biar sadar sendiri, dan masyarakat pun sudah tahu.

Buat saya pribadi, informasi yang disebar oleh media-media partisan tak kalah mengerikan dibanding hoax.  Media jadi corong kampanye politik tokoh tertentu yang dekat atau didukung si pemilik media yang bersangkutan. Padahal Dewan Pers telah mengingatkan para pemilik media untuk tetap menjaga integritas medianya.  Pers tidak boleh menggoyahkan sendiri kebebasan dan independensi sekadar menjadi alat keberpihakan kepentingan politik sesaat (Robertadhiksp.net, Independensi Media dan Pemilu).

Jauh sebelum Dewan Pers berkata demikian, Pramoedya Ananta Toer telah mengingatkan soal independensi lewat pesan tokoh Ter Haar pada Minke dalam novel Jejak Langkah. Pada halaman 370,Ter Haar berkata: Janganlah harian Tuan yang sudah baik itu dipergunakan untuk melampiaskan ambisi-ambisi pribadi. Harian Tuan dan Tuan sendiri sudah jadi milik bangsa Tuan, bangsa Hindia.

Saya harap, Pak Jokowi seperti tokoh Ter Haar, berani mengingatkan rekan-rekannya yang jadi pemilik media. Jangan di satu sisi mengkampanyekan anti hoax, tapi di sisi lain menikmati selingkuhnya pemilik media terhadap prinsip independen pers, karena merasa tak enak, telah terpiih berkat peran media massa (pendukung) #eh.

Sebab selain hoax, media partisan adalah dua setan informasi.

Advertisements

Surat Terbuka pada Michael Essien dan Marquee Player lain di Indonesia (Jika Ada)

Selamat datang di Indonesia, Michael Essien dan Carlton Cole. Selamat bergabung di Persib Bandung, salah satu klub legendaris di Liga Indonesia. Terima kasih juga,  Kang Essien bilang kalau Kang Essien berharap kedatangan Akang bisa menarik pemain kelas dunia lain main di Indonesia. Maaf surat ini agak terlambat saya buat dari sejak kedatangan Anda pertengahan Maret lalu (dengan harga transfer yang fantastis).

Senang sekali, pemain kelas dunia seperti Anda mau main di Indonesia. Negara yang tim sepak bolanya pernah disanksi FIFA karena ribut-ribut di luar lapangan sepak bola. Jika dibanding dengan negara-negara tempat Anda pernah bermain, sepak bola Indonesia tentu masih jauh kualitasnya.

Namun yang harus Kang Essien paham, soal fanatisme pada sepak bola, Indonesia boleh diadu dengan negara lain, bahkan dengan Inggris atau Italia sekalipun! Kalau Kang Essien tidak percaya, tanyakan ke suporter Persib soal cara bagaimana mereka berangkat ke Palembang, Sumatera Selatan untuk nonton Final Liga Indonesia lawan Persipura Jayapura. Di sini pula Kang, sepak bola mungkin sudah berada di luar nalar, karena saking fanatiknya, antara suporter rela baku hantam dan bahkan ada yang meninggal.

Karena fanatisme pada sepak bola (dalam kasus Anda, pada Persib Bandung) itulah, latihan perdana Anda bersama Persib dipadati banyak penonton. Yang saya baca dari salah satu media, hal itu bahkan membuat Anda heran. Saya kutip dari Sportsatu, agen Anda Amogou Mathieu bilang “Mereka bilang kaget. Essien juga bilang, animonya luar biasa. Karena, katanya di Eropa tidak ada suporter menyaksikan latihan sedekat ini dengan jumlah banyak,”

Yang harus juga Anda tahu Kang Essien, kedatangan Anda ke Indonesia bahkan sampai membuat PSSI bikin aturan soal marquee player. Kata Ketua PSSI, Edy Rahmayadi Kang, setiap klub teh boleh punya maksimal lima marquee player. Padahal: “Ini (aturan marquee player) sangat mengejutkan karena tidak dibahas dalam kongres, tapi kami masih menunggu perkembangan, tidak mau berandai-andai dulu,” kata Faisal Mursyid, Sekretaris PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) seperti saya kutip dari Four Four Two.

Kedatangan Anda juga memantik pro-kontra. Ada yang setuju, tapi banyak juga yang menilai sebaiknya marquee player seperti Kang Essien belum (kalau mau dibilang tidak) perlu di Indonesia. Calon lawan Anda nanti di Liga 1, Ponaryo Astaman yang main di Pusamania Borneo FC (PBFC) mengatakan di situs resmi PBFC. “Menurut saya secara pribadi, tidak terlalu perlu. Secara teknis marquee player yang terjangkau oleh klub-klub [Indonesia] sekarang sudah lewat peak performance-nya. Dalam arti, tidak dalam level terbaik mereka lagi,” Untuk informasi Kang Essien, Ponaryo ini salah satu gelandang senior dan mantan kapten timnas Indonesia lho.

Lain Ponaryo, lain juga kata Pelatih PSM Makassar (ini juga klub legendaris di Indonesia, Kang Essien), Robert Rene Albert. Di Four Four Two, Meneer Albert bilang:

“Waktu penetapannya salah, mengapa harus satu bulan dekat pelaksanaan liga? Tidak semua tim memiliki kemampuan mendatangkan pemain bintang. Saya rasa mereka tidak pikirkan konsekuensinya dengan menjalankan regulasi ini. Ini tidak adil, karena tak semua bisa memenuhi regulasi ini,”

Terlepas dari pro-kontra itu Kang Essien, Anda sudah (terlanjur) gabung dengan Persib. Dengan reputasi mentereng Anda yang pernah main bareng Frank Lampard, mencium trofi Liga Champions, dan mentas di Piala Dunia, harapan pecinta sepak bola Indonesia khususnya suporter Persib pada Anda bukan main tingginya Kang. Suporter Persib yang biasa disebut Viking dan Bobotoh (kalau Kang Essien belum tahu) pastinya pengin lihat Kang Essien main bal na kasep. Karena Kang Essien gelandang bertahan, yang diharapkan mungkin bukan gol Kang, tapi minimal pertahanan Persib tidak gampang bobol dan lini tengah Persib mainnya jadi alus pisan. Jangan sampai atuh Kang Essien malah kalah sama teman setim akang, Mas Hariono yang alus pisan main bal na. Muaranya sih, Kang Essien bisa bawa Persib juara deui.

Oh iya Kang, di Bandung banyak kuliner yang enak dari mulai surabi, brownis, seblak, sampai iga bakar, terus juga ada kaos-kaos distro yang bisa bikin Kang Essien makin kasep. Tidak kalah Kang sama merek-merek pakaian ternama yang biasa Kang Essien temui waktu di Eropa. Main-main di Bandung teh asik. Kang Essien harus coba.

Tapi ingat ya Kang, hehehe. Kang Essien harus tetap konsentrasi main bola dan kasih kontribusi buat Persib khususnya dan sepak bola Indonesia pada umumnya. Buktikan kalau Kang Essien teh belum habis. Lagipula, maneh kan tos dibayar awis Kang Essien, hehehe.

Sekian dulu surat saya Kang Essien. Sukur kalau Kang Essien baca, kalau tidak ya tidak apa-apa. Tapi kalau Kang Essien baca, sampaikan juga surat ini ke Akang Carlton Cole ya. Juga ke marquee player lain jika Kang Essien bisa. Kalau dari jejak rekam Kang Essien yang pernah main di Eropa dan Piala Dunia, pemain yang beredar di Liga Indonesia memang ada di bawah Akang. Tapi mesti diingat juga Kang, jangan pernah Kang Essien meremehkan dan tampil di bawah standarKarena mata Viking dan Bobotoh, juga suporter sepak bola Indonesia akan tertuju ke Akang. Nuhun, hehehe.

Sumber foto: Four Four Two.

 

 

Tentang Tertawa

tertawa
Herman Lantang (Lukman Sardi), Soe Hok Gie (Nicolas Saputra), Deny (Indra Birowo) dalam salah satu scene film Gie (2005)

Jika menangis tak hanya berarti kesedihan mustikah kita mengidentikan tertawa, melulu dengan ekspresi kesenangan?

Gie (Nicholas Saputra) berhenti sejenak di depan pintu pagar rumah Ira (Sita Nursanti). Ia menoleh ke belakang kemudian tertawa. Menghela nafas, lalu tertawa lagi. Menghela nafas dalam-dalam, tertawa, lalu pergi. Gie baru saja ditolak bertemu wanita yang belakangan baru ia sadari, ia cintai.

Itu adalah potongan adegan film Gie garapan sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana. Gie bercerita tentang kehidupan aktivis tahun 60’an, Soe Hok Gie yang juga mahasiswa jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Film itu dibuat berdasarkan buku harian Gie yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran.

Dalam film tersebut, Gie memang diceritakan tercebur dalam kubangan kesendirian. Teman-teman yang menemani semasa kuliah, telah pergi menempuh jalan masing-masing. Ira, sahabat sekaligus wanita yang sebetulnya ia cintai menjauh. Gie juga punya banyak musuh lantaran tulisan-tulisannya yang keras mengkritik pemerintah.

Cerita Gie dalam film ini sedikit banyak adalah pengejawantahan dari curhatan Gie pada kakaknya Arief Budiman (Soe Hok Djien). Arief lalu menuliskan cerita ini sebagai pengantar buku Catatan Seorang Demonstran terbitan 1993.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.

Menyimak cerita Gie siapa bisa bilang kalau tertawanya Gie  di pintu pagar rumah Ira karena ia sedang senang? Sebaliknya, tertawa itu adalah sikapnya atas keadaan yang bergerak di luar nalar. Ia menertawakan dirinya sendiri.

Bukankah kita juga terkadang menghadapi keadaan, di mana menangis saja memang tak cukup? Saking tak cukupnya untuk mengekspresikan kesedihan, kebingungan atas keadaan yang terjadi, kita kemudian tertawa. Menertawakan keadaan, menertawakan diri sendiri. Anda pernah melakukannya?

Jika iya, maka selamat. Sebab kemampuan menertawakan diri sendiri ternyata berharga. Setidaknya kita telah lebih dulu tertawa atas kekonyolan nasib kita di saat banyak orang (mungkin) lupa kalau nasibnya juga perlu ditertawakan oleh dirinya sendiri ketimbang sibuk menertawakan nasib orang lain. Kemahiran menertawakan diri sendiri sungguh berharga.

“I laugh because I must not cry, that is all, that is all. ”  kata Abraham Lincoln.

Logan, Perpisahan Manis Wolverine

Sebagai pengagum Hugh Jackman dan Wolverine, pastinya film Logan memang film yang sudah saya nantikan. Saya sudah mengaguminya sejak film X Men yang pertama. Bahkan kalau boleh jujur, saya lebih fokus pada tokoh Wolverine ketimbang tokoh X-Men yang lain.

Dan sekira akhir pekan lalu, saya berkesempatan menonton Logan.

Saya masuk telat dan film sudah mulai. Tapi mudah-mudahan tidak mengurangi pemahaman saya terhadap filmnya yes. Lagipula, saya di sini tidak akan menceritakan jalannya film. Nanti spoiler lagi.

Kalau dari tokoh Wolverinenya, jelas film Logan masuk ke dalam film superhero yang pastinya melibatkan banyak adegan berantem-beranteman.  Namun sepanjang saya menonton filmnya, saya pikir Logan bukan sekedar film superhero. Malah cenderung ke drama. Bagaimana keinginan Professor Xavier memiliki keluarga dan hidup normal, Wolverine yang sudah ditempa dengan berbagai macam mara-bahaya dan perihnya kehidupan, tiba-tiba bertemu Laura, anaknya. Wolverine yang biasa kasar, tiba-tiba harus bersikap seperti bapak terhadap Laura. Ini sempat membuat Wolverine kikuk.

Kiranya saya setuju dengan pendapat Joko Anwar yang dalam twitternya menyebut Logan bukan sekedar film superhero. Film ini bahkan bisa membuat penontonya mengeluarkan air mata lho. Terutama pas adegan…..

Film ini bisa membuat kita berpikir,  how precious our family is.

By the way  sebelum Anda memutuskan untuk membawa serta anak-anak, nanti dulu yes. Soalnya adegan berantem-beranteman di film ini tergolong brutal sih.  Gak sedikit saya lihat penonton yang menutup mata begitu adegan sadis berantem-beranteman muncul.

Terlepas dari adegan family yang cukup membuat kita berpikir, saya juga sedih gak bisa lihat Hugh Jackman jadi Wolverine lagi. Sebab denger-denger sih  ini film terakhirnya dia sebagai Wolverine. Isunya, Shahrukh Khan  bakal jadi pengganti. Are you serious?  Nanti sebelum berantem, Wolverine joget dulu lagi. Hehehe.

Jangan Terlalu Berharap (Pada Media)

“Kambing. Media-media sekarang tuh kaya t*i tau gak sih lo,” maki Emir kesal.

“Jadi kaya kambing apa kaya t*i nih,” sahut Amri menanggapi.

“Kaya t*i kambing juga boleh. Terserah lu,” timpal Emir lagi.

===
Kekesalan yang dialami Emir jamak kita lihat ketika Pemilu. Masyarakat dibuat bingung akan hal itu. Mereka bertanya-tanya, bagaimana mendapatkan informasi yang benar sesungguhnya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita menengok salah satu pandangan yang terkenal dalam dunia teks, Paradigma Kritis.

Mengutip Eriyanto dalam buku Analisis Wacana, paradigma kritis bersumber dari pemikiran sekolah Frankfurt. Dalam paradigma ini, media bukanlah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok dominan.

Paradigma kritis ini kemudian dikembangkan oleh seorang ahli bernama Stuart Hall. Lebih jauh, Hall merumuskan Paradigma Kritis secara lebih tajam. Menurutnya, media adalah pemeran utama dari pertarungan kekuasaan. Media memilih nilai-nilai dan apa yang seharusnya masyarakat terima atau inginkan.

Dalam praktek di lapangan, wartawan sebagai bagian dari lingkup yang lebih besar yakni media, yang diterjunkan untuk meliput suatu peristiwa, akan membangun kembali peristiwa itu dengan angle pemberitaan tertentu. Wartawan membangun suatu peristiwa utuh menjadi sebuah realitas.

Realitas dapat ditandakan secara berbeda pada perstiwa yang sama. Makna yang berbeda dapat dilekatkan pada peristiwa yang sama.

Kesimpulannya, ketika masyarakat melihat suatu berita, itu adalah hasil rekonstruksi yang dibangun oleh sang wartawan yang meliput peristiwa tersebut.

Apakah tindakan wartawan melakukan rekonstruksi atas suatu peristiwa yang terjadi itu salah? Tidak juga. Sebab wartawan juga punya nilai yang dia pegang.

Ambil contoh begini, wartawan yang bersikap apolitis, akan menulis berita soal janji-janji para politisi dengan nada sinis dikarenakan oleh nilai politik t*i kucing yang dia pegang. Lain cerita jika si wartawan menganggap politisi ini punya sesuatu yang menjanjikan atau dia berpihak pada seorang politisi, kemungkinan besar –kalau tak mau ditulis pasti- berita soal politisi itu akan bernada positif atau istilahnya lebih kalemlah.

Lalu pertanyaan lainnya, masih adakah berita atau katakan media yang netral? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama adalah buang jauh-jauh kata netral karena yang ada adalah jujur dan adil.

Robert Scheer dari Los Angeles Times mengatakan, yang lebih penting bukan Apakah Anda bisa netral, tetapi bagaimana Anda (dalam hal ini wartawan) mengerjakan pekerjaan Anda dengan cara yang adil dan jujur.

Koran Washington Post bisa dijadikan acuan terkait sikap adil yaitu:

  • Berita itu tidak adil bila mengabaikan fakta-fakta yang penting. Jadi adil adalah lengkap.
  • Berita itu tidak adil bila dimasukkan informasi yang tidak relevan. Jadi adil adalah relevansi.
  • Berita itu tidak adil bila secara sadar maupun tidak, menggiring pembaca ke arah yang salah atau menipu. Jadi adil adalah jujur.
  • Berita itu tidak adil bila wartawan menyembunyikan prasangka atau emosinya di balik kata-kata halus yang merendahkan. Jadi adil menuntut keterusterangan.

Lantas kembali ke pertanyaan pertama, bagaimana cara masyarakat menentukan kebenaran suatu informasi? Bertrand Russell pernah berkata kepada mahasiswanya

“Lakukan pengamatan sendiri. Aristoteles dapat menghindari kekeliruan tentang perkiraannya bahwa wanita mempunyai jumlah gigi lebih sedikit dari pria, andai saja dia meminta istrinya membuka mulut dan menghitung sendiri. Menganggap kita tahu, padahal tidak, adalah kesalahan fatal yang cenderung kita lakukan,”

Ya, masyarakat dengan nilai-nilai yang mereka dapat, sebetulnya mampu menentukan dan memilah-milah informasi yang benar dan salah. Sebagai contoh, seorang pecandu sepak bola pasti tahu informasi yang menyebut Zlatan Ibrahimovic bermain di Persija Jakarta adalah salah.

Terlepas dari paparan di atas, ini adalah opini penulis, sebaiknya kita jangan terlalu berharap lebih kepada media. Karena koran sekaliber Washington Post dan Los Angeles Times pun penulis yakin masih melakukan pilih kasih dalam berita (soal terorisme misalnya, pihak mana yang sering disudutkan? Mengapa label terorisme hanya melekat pada pihak tertentu itu?).

Jadi sekali lagi, jangan terlalu berharap, karena berharap, apalagi terlalu itu sakit. Utamanya kalau soal cinta #eeh.

Daftar Pustaka

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana, Pengantar Teks Media , Jakarta: LKIS
Ishwara,Luwi, 2011. Jurnalisme Dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Fitur Status, Penegasan dari Whatsapp

whatsappUpdate terbaru Whatsapp mungkin membuat sebagian penggunanya mengernyitkan dahi. Apa-apaan nih, kok ada fitur status di tengah? Di Whatsapp edisi terbaru, fitur contacts yang biasa ada di tengah antara tab chats dan calls sekarang pindah ke kanan atas. Sebagai ganti, ada fitur status yang berada di tengah di antara fitur chats dan calls.

Di fitur status tersebut, penulisan status di Whatsapp yang biasanya statis, berubah. Dengan fitur status, pengguna bisa mengunggah video, gif atau foto dengan keterangan (caption). Sederhananya, fitur status ini bisa disamakan dengan fitur Instagram Stories pada Instagram.

Seperti yang sudah disebut di atas, sebagian pengguna Whatsapp mengeluhkan adanya fitur status ini. Garis besar dari keluhan itu rata-rata mereka sebetulnya pengin Whatsapp tetap sederhana, tanpa ada fitur status. Sayangnya nasi sudah menjadi bubur.

Terlepas dari pro kontra, adanya fitur status menurut saya bisa meningkatkan interaksi antara pengguna Whatsapp.  Kita tinggal menekan tombol reply untuk mengomentari status yang baru diupdate oleh teman kita.

Pengguna Whatsapp juga bisa lebih eksis dengan fitur yang memungkinkan mereka membagi video, gif, atau foto. Bandingkan dengan fitur status Whatsapp edisi sebelumnya yang hanya berupa teks.

Lebih lanjut, kehadiran fitur status itu bisa dibaca sebagai penegasan. Whatsapp ingin benar-benar jadi aplikasi media sosial yang menunjang interaksi dan keinginan unjuk eksistensi penggunanya, seperti aplikasi media sosia lain semisal Facebook, Instagram, Path, atau Twitter. Bukankah aplikasi-aplikasi itu media sosial banget? Nah Whatsapp ternyata tidak mau ketinggalan. Dengan fitur ini, Whatsapp mau menegaskan kalau mereka juga aplikasi media sosial lho.

Tipu-tipu ala Jakarta

Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
(Doa di Jakarta, W.S Rendra)

“Wah asik banget kalau Jakarta tiap hari kayak gini: jalan lowong, udara lumayan seger. Pasti warga Jakarta, tingkat kebahagiaanya nambah. Gak stres karena macet,” gumam saya begitu keluar dari kantor, pagi ini.

Saya berasumsi, jika Jakarta bisa seperti ini setiap saat, tingkat warga yang stres turun, warganya bisa lebih sabar. Jakarta mungkin bisa lebih bagus dan cantik.

Berangkat dari asumsi itu, saya coba iseng cari-cari data di Badan Pusat Statistik (BPS) buat cari indeks kebahagiaan provinsi DKI Jakarta dibanding dengan provinsi lain di Indonesia. Dan Alhamdulillah ketemu.

Dikutip dari  laporan tersebut, indeks kebahagiaan adalah indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang secara substasi bersama-sama merefleksikan tingkat kebahagiaan yang meliputi kepuasan terhadap  1)  kesehatan,  2)  pendidikan, 3) pekerjaan, 4)  pendapatan  rumah tangga, 5)  keharmonisan  keluarga,  6)  ketersediaan  waktu  luang,  7)  hubungan sosial,  8)  kondisi  rumah  dan  aset,  9) keadaan lingkungan,  dan  10) kondisi keamanan.

Semakin  tinggi  nilai  indeks  menunjukkan  tingkat  kehidupan  yang  semakin bahagia,   demikian   pula   sebaliknya,   semakin   rendah   nilai   indeks   maka penduduk semakin tidak bahagia (Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Juli 2015, hlm 140).

Data soal indeks kebahagiaan ada di Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Bulan Juli 2015. Saya coba cari yang terbaru, gak ketemu. Dari data tahun 2015 , indeks kebahagiaan DKI mencapai 69,21 . Bukan yang tertinggi dibanding provinsi lain di Indonesia.

Bahkan, angka ini kalah dengan provinsi yang secara pembangunan infrastruktur masih kalah dari Jakarta, semisal Maluku (72,12) dan Papua Barat (70,45). Angka tertinggi jadi milik provinsi Kepulauan Riau (72,42). Sementara, angka terendah ada di provinsi Papua (60,97).

Mengherankan juga ya, dengan segala gemerlap (mall, pusat hiburan, kecanggihan teknologi) dan pembangunannya, Jakarta ternyata tak lantas membuat warganya jadi yang paling bahagia di Indonesia. Tapi ya tetep, masih banyak aja yang pengin datang ke Jakarta.

Tampaknya, Jakarta memang telah sukses menipu kita. Dengan gemerlap dan dinamikanya, kita berpikir itu bisa membuat kita bahagia. Ternyata….

Berhubung sekarang lagi pilkada, semoga gubernur yang terpilih nanti bisa membuat kota Jakarta jadi kota yang memberikan kebahagiaan yang hakiki buat rakyatnya. Bukan kebahagiaan semu. Akan sangat kelewatan, jika untuk berkuasa di kota yang penuh tepu-tepu ini, kita masih juga pakai cara curang dan menipu. Semoga jangan.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” (Menjadi Tua di Jakarta- Seno Gumira Ajidarma)