Dari Uncle Ben untuk Montella

vincenzo montella

Pelatih AC Milan, Vincenzo Montella hanya bisa tertunduk lesu.  Minggu (24/9/2017), papan skor di stadion Luigi Ferraris menunjukkan angka 0-2 untuk kemenangan tuan rumah, Sampdoria. Bagi AC Milan, ini adalah kekalahan kedua setelah kekalahan melawan 1-4 melawan Lazio.

Kekalahan atas Sampdoria dan Lazio mungkin bisa sedikit dimengerti oleh para petinggi AC Milan, jika dua kekalahan itu terjadi sebelum pemilik AC Milan menyuntikkan dana besar untuk belanja pemain. Namun kali ini beda soal. Pemilik AC Milan sudah menggelontorkan sekitar 200 juta euro atau Rp 3,1 triliun untuk membeli 10 pemain baru!

Sepuluh pemain baru tersebut adalah Leonardo Bonucci, Lucas Biglia, Hakan Calhanoglu, Frank Kessie, Andre Silva, Ricardo Rodriguez, Fabio Borini, Antonio Donnarumma, Mateo Musacchio, dan Andrea Conti.

Uang sebanyak itu tentu digelontorkan dengan tujuan mengembalikan kejayaan AC Milan yang meredup dalam beberapa musim terakhir. Namun dengan dua kekalahan yang membuat mereka tercecer di peringkat enam dengan 12 poin, telunjuk para petinggi AC Milan mulai tertuju pada hidung Montella selaku allenatore.

Jika dibahasakan secara kasar, para petinggi AC Milan mungkin hendak berkata begini pada Montella: Udah gue modalin besar, tapi tim masih anjlok. Bisa gak si lo ngelatih? Sinyal kalau para petinggi AC Milan mulai garuk-garuk kepala dengan kinerja Montella terlihat dari pernyataan Montella sendiri.

Seperti dilansir ESPN, dua petinggi AC Milan, Marco Fassone dan Massimiliano Mirabelli sudah mengadakan pertemuan dengan Montella membahas performa tim. Sesudah pertemuan itu, Montella mengakui kalau performa timnya di bawah standar. Montella menuturkan dalam pertemuan itu, ia tidak dikambinghitamkan, meski ia mengakui para petinggi mulai gusar.

“Ini bukan soal mencari kambing hitam. Manajemen meminta saya untuk bertindak untuk memastikan tak ada lagi hasil yang seperti ini, tanpa membicarakan soal sistem dan para pemain,” ujar Montella.

Bukan pers Inggris dan Italia namanya jika tak gemar meniupkan rumor. Meski Montella menolak kekalahan ini bakal jadi pintu pemecatannya, media-media Inggris dan Italia sudah kasak-kusuk menulis siapa pengganti Si Pesawat Terbang –julukan Montella. Manajer Chelsea, Antonio Conte dan Pelatih Bayern Munchen, Carlo Ancelotti mengemuka sebagai kandidat pengganti Montella.

Sebetulnya, AC Milan sempat mengilap dalam beberapa pertandingan. Empat kemenangan sudah dikoleksi Leonardo Bonucci dan kawan-kawan, hingga pekan keenam Liga Italia.  Sayangnya, dalam perburuan gelar juara liga, kekalahan hukumnya haram! Apalagi di saat bersamaan, tiga pesaing AC Milan: Napoli, Inter Milan, dan Juventus belum tersentuh kekalahan dan berada di papan atas.

AC Milan bukan tidak mungkin mengejar ketinggalan ini mengingat Liga Italia musim 2017/18 baru berumur enam pekan. Hanya saja, itu bukan tugas mudah buat Montella. Pasalnya, jika hitung-hitungan di atas kertas berlaku, ketiga klub tersebut (hanya) mungkin menelan kekalahan jika saling bertemu satu sama lain. Sulit rasanya berharap klub seperti SPAL, atau Crotone bisa mengalahkan Napoli, Juventus atau Inter. AS Roma, Fiorentina, dan Lazio mungkin iya.

Ultimatum sudah dijatuhkan saat Liga baru berusia enam pekan. Tak ada cara lain bagi Montella selain bergerak cepat mencari solusi agar AC Milan bisa mengejar ketinggalan. Jika tidak, Montella mungkin akan angkat kaki lebih cepat dari yang seharusnya.

With great powers come great responsibilty,” begitu kata Uncle Ben pada Peter Parker saat Parker baru seumur jagung menjadi Spiderman. Montella pun tampaknya harus menyadari kalau AC Milan yang ia tangani kini diisi pemain yang lebih berkualitas dari sebelumnya (setidaknya begitu menurut harga transfer mereka).  Maka tanggungjawab Montella selaku pelatih tentu lebih besar dari sebelumnya.

Lagipula, Anda tentu tak akan memberi perlakuan sama pada kendaraan jenis premium dengan kendaraan semisal Lamborghini atau Ferrari. Nah, sekarang perntanyaannya adalah bagaimana Montella mencari perlakuan dan strategi yang tepat untuk para pemain bintang AC Milan? Cepat Montella, kau tak punya waktu banyak!

Advertisements

Ke Mana Angin Kota London Berhembus?

Lewat novel Orlando, Virginia Woolf menggambarkan betapa cepat cuaca di London bisa berubah. “all was light, order, and, serenity…. “No sooner had the words left his lips than the first stroke of midnight sounded. Orlando then for the first time noticed a small cloud gathered behind the dome of St. Paul’s. As the stroke sounded, the cloud increased, and she saw it darken and spread with extraordinary speed.

Alexandre Lacazette mungkin tak pernah membaca novel Orlando yang pertama kali terbit pada 1928. Namun striker Arsenal asal Prancis ini toh mengalami sendiri apa yang dialami Orlando: menghadapi cuaca London yang berubah-ubah.

“Saya harus terbiasa dengan cuaca dari cerah ke hujan hanya dalam beberapa detik saja,” kata Lacazette, yang baru menetap tiga bulan di London.

Seperti cuaca di London yang cepat berubah, seperti itu pula suasana dalam ruang ganti tim sepak bola. Saat meraih kemenangan, tim berada dalam mood yang bagus. Namun jika tim Anda kalah, mood yang semula bagus itu bisa berubah seketika jadi buruk. “Kalah adalah momen yang menyulitkan,” kata Gelandang Manchester United (MU), Marouanne Fellaini.

Manajer Arsenal, Arsene Wenger memang tak bisa menjaga cuaca kota London tetap cerah setiap saat. Namun ia pasti harus bisa menjaga mood pasukannya agar selalu dalam kondisi terbaik. Itulah misi yang dia emban saat bertandang ke Stamford Bridge menantang juara bertahan, Chelsea, Minggu (17/9/2017) untuk melakoni Derby London.

Mood pasukan Arsenal sedang lumayan positif setelah meraih dua kemenangan masing-masing atas Bournemouth (3-0) dan FC Koln di Liga Europa (3-1). Akan tetapi, Chelsea jelas berbeda dari dua tim tersebut.

Kualitas The Blues ada di atas keduanya. Maka di partai inilah sesungguhnya kebangkitan Arsenal akan dibuktikan. Apakah kebangkitan itu semu, atau sejati. Apakah Arsenal hanya bisa menang melawan tim yang kualitasnya di bawah mereka, atau mereka benar-benar bisa menang melawan tim yang kualitasnya setara.

“Chelsea punya tim yang bagus dan selalu sulit untuk meraih kemenangan tandang atas mereka,” kata Wenger.

Sial bagi Arsenal, angin kota London saat ini sedang berhembus ke arah Chelsea. Itu karena skuat asuhan Antonio Conte sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Setelah kalah 1-3 dari Bournemouth di pekan pertama, Chelsea memetik empat kemenangan termasuk melibas Qarabag 6-0 di Liga Champions.

“Bukan hanya permainan bagus di atas lapangan, tapi Chelsea juga punya suasana yang lebih harmonis di ruang ganti,” kata eks Chelsea, Graeme Le Saux.

Yang diacu oleh Le Saux adalah kisruh soal kontrak dua bintang Arsenal, Alexis Sanchez dan Mesut Ozil. Kontrak keduanya belum diperpanjang pihak klub. Padahal, kontrak keduanya akan habis akhir musim ini.

Sanchez kabarnya sempat ingin pindah ke Manchester City karena ingin main di Liga Champions. Sementara Ozil meminta gaji tinggi. Meski keduanya akhirnya bertahan, rumor tak sedap ini tetap bertahan dan mengudara saat Arsenal kalah.

“Dari sudut pandang pemain, itu situasi yang tak enak. Anda hanya ingin fokus latihan, pemulihan, dan bermain di pertandingan berikutnya. Segala gangguan adalah negatif,” kata  Le Saux.

Namun demikian, bukan Wenger namanya jika tak keras kepala. Ia tak peduli dengan anggapan miring terhadap timnya jelang laga ini. Jangankan anggapan miring, desakan suporter agar ia mundur pun tak digubris. Wenger sendiri telah 21 tahun menangani Arsenal.

Wenger seakan menghayati benar ucapan penyair Samuel Johnson yang mengatakan,  ‘When a man is tired of London, he’s tired of life.’ Dalam kamus Wenger, perkataan itu berubah: “Ketika saya menyerah di Arsenal, saya menyerah terhadap hidup saya,”

Karakter keras kepala juga sebetulnya dimiliki Antonio Conte. Yang sedikit membedakan mungkin tampilan dan perlakuan pada pemain di lapangan. Conte tak segan untuk berbicara dan bertindak keras terhadap siapapun yang mengganggu timnya. Lihat caranya menyingkirkan Diego Costa yang dianggapnya tak lagi berguna bagi tim. Lewat sms! Padahal, Costa adalah salah satu tumpuan Chelsea saat diasuh Jose Mourinho.

Wenger dan Antonio Conte sama-sama perantau di Inggris. Bedanya, Wenger berasal dari Strasbourg, kota di timur Prancis, sementara Conte berasal dari Lecce, kota di selatan Italia. Saat kedua manajer keras kepala ini berduel besok, ke mana angin kota London berhembus?

Tak Ada Musik Klasik di Royal Albert Hall

royal albert hall

Royal Albert Hall (sumber, londonandpartners.com)

Royal Albert Hall, bangunan yang saya sebut ini barangkali adalah salah satu tempat konser musik paling bergengsi di Eropa bahkan dunia. Di kota London, tepatnya bangunan berasitektur Italianate ini berdiri.

Royal Albert Hall mulai dibangun pada 1867 dan selesai pada 1871, tepatnya pada 29 Maret. Pada mulanya, bangunan ini direncanakan bernama Central Hall of Arts and Sciences. Namun oleh Ratu Victoria, bangunan ini berubah nama menjadi Royal Albert Hall untuk menghormati Pangeran Albert yang meninggal enam tahun sebelum Royal Albert Hall dibangun.

Secara umum, bangunan Royal Albert Hall berbentuk oval dengan tinggi 41 meter dengan luas 5200 meter persegi. Pada bagian luar bangunan, tersemat dekorasi tulisan tentang cerita dan tujuan pembangunan Royal Albert Hall serta puja-puji pada Tuhan. “The wise and their works are in the hand of God. Glory be to God on high and on Earth peace.”  Demikian sebagian bunyi kalimat tersebut.

Selama 146 tahun umurnya, beragam musisi dan acara pernah diselenggarakan. Rasa-rasanya, tak ada musisi, band, atau orkestra yang tak mau tampil di bangunan yang mendapat tiga kali penghargaan International Venue Of The Year tersebut. Mulai dari Eric Clapton, Paul McCartney, hingga Adele pernah unjuk kebolehan di sini.

Bukan hanya sekadar tempat menggelar konser musik, Royal Albert Hall juga sering menjadi saksi bisu sejarah dunia tercipta. Salah satunya pada 3 Oktober 1933 yaitu saat Albert Einstein berpidato dalam acara The Refugee Assistance Committee yang dihadiri 8000 orang dan berhasil mengumpulkan dana 500 ribu dollar AS. Dalam pidatonya, Einstein menggunakan Bahasa Inggris dan menyinggung krisis yang sedang terjadi di Eropa saat itu.

How can we save mankind and it’s spiritual acquisitions of which we are the heirs and how can one save Europe from a new disaster?”  kata Einstein.

***

Jika Royal Albert Hall kita ibaratkan turnamen sepak bola, ia mungkin sejajar dengan Liga Champions. Ya, tak ada klub Eropa dan pemain yang rasanya enggan bermain di Liga Champions.

“Liga Champions adalah kompetisi yang semua orang ingin ikut berpartisipasi,” kata Legenda Liverpool, Steven Gerrard.

Sederet bintang sepak bola pernah adu kaki di Liga Champions. Siapa yang tidak tahu Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Mundur ke belakang, pesona Zidane dan Ronaldinho pernah menyihir dunia lewat Liga Champions. Di Asia khususnya Indonesia, orang rela begadang hanya untuk menonton aksi bintang-bintang tersebut di Liga Champions.

Bukan cuma ajang pamer para bintang, sejarah juga banyak tercipta di turnamen yang dimulai sejak 1955 ini. Berbicara final paling dramatis misalkan, silakan pilih final musim 1998/99 antara Manchester United Vs Bayern Munchen, atau final 2004/05 antara Liverpool Vs AC Milan.

Saking hebatnya pesona Liga Champions, Manajer Legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson  berujar kalau turnamen ini lebih besar dari Piala Dunia!

“Liga Champions lebih besar dari Piala Dunia. Semua pemain terbaik berada di sini. Ketika Anda punya pemain seperti Zinedine Zidane, Luis Figo, dan Ronaldo, itu adalah koleksi kelas dunia,” ujar Ferguson 2004 silam.

***

Semua gemerlap Liga Champions itu sayangnya tak bisa dinikmati oleh Arsenal musim ini. Keterpurukan musim lalu membuat pasukan Arsene Wenger harus rela duduk di bangku penonton ditemani popcorn, menyaksikan Liga Champions.

Pada Liga Inggris musim 2016/17, Meriam London hanya berhasil finis di tempat kelima dengan 75 poin. Mereka kalah bersaing dengan Chelsea, Tottenham Hotspur, Manchester City, dan Liverpool.

Catatan buruk ini adalah yang pertama sejak Arsenal ditangani Wenger mulai Oktober 1996. Ya, sejak Wenger masuk ke klub, Arsenal selalu bisa mentas di Liga Champions. Prestasi tertinggi mereka adalah runner up musim 2005/06.

Liga Champions adalah idaman Arsenal, tapi Liga Champions pulalah yang meremukkan mereka musim lalu. Pada Babak 16 Besar, Arsenal dilumat Bayern Munchen dengan agregat 10-2! Sejak kekalahan memalukan itu, Arsenal bagai ayam tanpa kepala. Akibatnya, performa Arsenal sempat anjlok di Liga Inggris.

Desakan mundur pun bagai memekakan  telinga Wenger. Fans menganggap Manajer berjuluk The Professor itu sudah tak lagi mampu mengangkat prestasi Arsenal. Beruntung, keberhasilan menjuarai Piala FA sedikit meregangkan ketegangan syaraf Wenger, pemain, dan fans.

Manajer Liverpool, Jurgen Klopp pernah mengandaikan Arsenal dengan sosok Arsene Wenger sebagai sebuah orkestra yang memainkan musik klasik.  Kala itu, Klopp masih menukangi Borussia Dortmund dan diisukan akan menggantikan Wenger.

“Dia (Wenger) suka memainkan bola, bermain, mengoper. Seperti orkestra. Tapi itu lagu yang tak berbunyi. Saya lebih suka heavy metal. Saya selalu ingin yang nyaring,” kata Klopp seperti dikutip Goal.

Jarak Royal Albert Hall dengan Emirates Stadium -markas Arsenal- hanya memakan waktu 40 menit perjalanan. Namun bagi orkestra bernama Arsenal, jarak menuju Royal Albert Hall adalah paling tidak satu musim kompetisi alias 10 bulan. Pasalnya, mereka harus mentas dulu di Liga Europa, turnamen yang kerap disebut turnamen kasta kedua. Jumat (15/9/2017) dinihari WIB nanti, mereka akan memulai perjalanannya dengan menjamu klub Jerman, FC Koln.

Jadi, kapan lagi ada musik klasik di Royal Albert Hall? Hanya Tuhan dan waktu yang mampu menjawabnya.

Di Setiap Diri Kita Adalah Novel

IMG_20170825_191800_918

Foto penulis favorit dengan penggemarnya

 

Pintu saya buka perlahan. Seketika, hampir semua mata mereka yang ada di ruangan itu tertuju pada saya, termasuk sang pengisi workshop menulis, Ahmad Fuadi. Saya mengangguk pelan, meminta maaf karena datang terlambat dan sedikit mengganggu workshop.

Jumat (25/8/2017) saya berkesempatan mengikuti workshop menulis bersama Ahmad Fuadi, penulis favorit saya. Workshop bertemakan Kiat Menulis dan Menerbitkan Buku itu berlangsung di ruangan Kompasiana, lantai lima gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta Barat. Meski telat, saya beruntung karena workshop belum terlalu lama berlangsung. Workshop dimulai pukul 15:00 sementara saya tiba di ruangan 15:10.

Saat pertama kali mendengarkan Uda Fuadi berbicara, terus terang saya -kalau bahasa anak sekarang- fan girling. “Wah ternyata seperti ini ya, penulis favorit saya kalau bicara. Wah ternyata orangnya begini ya begitu ya, dll.” bisik saya dalam hati.

Di awal sesi, Uda Fuadi memberikan pengantar tentang kriteria menulis yang bagus. Menurut pengarang trilogi Negeri Lima Menara ini, menulis yang bagus adalah menulis yang bisa menggetarkan perasaan orang banyak. Ia juga yakin bahwa setiap orang sejatinya punya cerita dan bisa menulis. “Yang punya cerita bagus banyak, tapi mereka gak nulis,” kata dia.

Di antara sekian sesi dalam workshop tersebut, saya kira sesi proses menulis lah yang paling penting. Di sini, Uda Fuadi tidak bercerita dari segi teknis. Sebab menurut dia, teknis menulis bukanlah bagian yang terpenting. “Teknis itu bisa dikejar,” kata Uda.

Setidaknya ada tiga hal yang menurut Uda Fuadi penting dalam proses menulis ini. Yang pertama adalah niat. Sebagai orang yang ingin menulis, kata Uda, kita harus bisa menemukan alasan kenapa kita ingin menulis. Jika sudah menemukan jawaban yang tepat, stamina menulis kita akan kuat. Sebab, proses menulis, apalagi menulis buku adalah proses yang panjang dan melelahkan. Uda Fuadi bercerita bagaimana ia harus meriset dan mengunjungi kampung halamannya di Maninjau, Sumatra Barat untuk menggali bahan untuk trilogi novelnya. Ketiga buku dari trilogi itu masing-masing membutuhkan waktu rata-rata 2,5  tahun untuk ditulis.

“Kalau sudah tahu reason, baru kita masuk ke pertanyaan kedua yaitu: what,” kata Uda.

Menulis bisa dimulai dari hal-hal yang kita tahu dan cintai. Hal-hal tersebut akan jadi bahan tulisan yang kita tak akan pernah bosan untuk menulisnya. Uda Fuadi mencontohkan trilogi novel Negeri Lima Menara yang ia tulis berdasarkan urutan kisah hidupnya sendiri. Mulai dari cerita kehidupan di pesantren, kuliah di Bandung, hingga akhirnya jadi wartawan Tempo.

Di setiap diri kita adalah novel. Tinggal memilih bagian mana yang harus dibuang, bagian mana yang harus ditulis,” kata Uda Fuadi.

Yang ketiga dari proses menulis baru lah segi teknis. Segi ini, kata Uda Fuadi bisa berbeda bagi tiap-tiap penulis. Uda Fuadi sendiri menggunakan teknik mind maping yang membuatnya punya gambaran jelas mengenai buku yang akan ia tulis. “Jadi kalau saya get lost, saya tinggal lihat lagi map nya,” kata dia. Setelah punya mid map yang jelas, kita bisa menuliskan pointer-pointer yang bisa kita turunkan lagi menjadi paragraf. Saat menjelaskan ini, Uda Fuadi memperlihatkan draft dan point-point yang ia kerjakan dulu sewaktu menulis Negeri Lima Menara.

IMG_20170825_160557

Proses menulis seorang Ahmad Fuadi

Jam sudah menunjukkan pukul 16:15 saat Uda mulai menerangkan soal bagaimana menerbitkan buku. Uda Fuadi mengaku beruntung, bukunya ditemukan penerbit dan bisa laris di pasaran. “Jadi kalau ditanya apa resep untuk jadi best-seller, saya tidak tahu,” kata Uda. Alumni Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini mengakui, jika bukan karena waktu yang tepat, bukunya mungkin tidak akan jadi best-seller dan ia tidak jadi penulis terkenal.

Proses penerbitan buku itu sendiri memakan waktu yang cukup panjang. Mulai dari penyuntingan, hingga masalah seperti pemilihan sampul buku. Uda Fuadi bercerita bagaimana ia memilih dan akhirnya memutuskan gambar untuk sampul buku terbarunya, Anak Rantau. Untuk buku ini, Uda Fuadi menyelenggarakan pemungutan suara via media sosial. Para pengikut akun media sosial Uda Fuadi di @fuadi1 dipersilakan memilih satu di antara dua gambar yang sebelumnya telah dipilih oleh tim. Dari polling itu, terpilihlah gambar anak yang sedang menggendong ransel, menatap bus di depannya yang sedang melaju. Uda bercerita, ia sebetulnya lebih suka gambar pertama, yang menampilkan tas berwarna merah bertuliskan Anak Rantau. “Tapi sebagai penulis, kita tidak bisa egois,” begitu kata dia.

IMG_20170825_161049

Alur menulis sebuah buku oleh Ahmad Fuadi

Idealis Vs Oportunis

Pada sesi terakhir, para peserta dipersilakan bertanya pada Uda Fuadi. Para penanya rata-rata menjelaskan dulu background mereka seperti apa. Di sinilah, saya melihat ternyata para peserta ini hebat-hebat betul. Ada yang sudah menulis buku, pernah membuat novel, namun tak kunjung terbit. Ada juga peserta yang mengaku sudah punya draft novel tentang pencak silat. Luar Biasa. Saya sendiri menanyakan pendapat Uda soal menulis menuruti kata hati atau menulis menurut pasar. Sebab saya berpikir, rata-rata penulis pastinya ingin bukunya dibaca banyak orang, yang berujung pada income yang lumayan.

IMG_20170825_163659

Suasana workshop menulis bersama Ahmad Fuadi

Menurut Uda Fuadi, keduanya bukan hal yang harus terpisah, malah lebih baik disatukan. Saat menulis trilogi Negeri Lima Menara, Uda Fuadi mengaku tidak berpikir bagaimana agar bukunya laku dipasaran. Sebaliknya, ia menulis karena ingin menceritakan kehidupannya yang pernah menyenyam pendidikan di pesantren. “Awalnya saya bahkan ragu bisa menulis novel. Istri saya lalu membelikan banyak buku mengenai teknik bagaimana menulis novel. Ya saya baca satu-satu,” ujar Uda Fuadi. Timing yang tepat, kata Uda, mungkin menjadi penentu bagaimana sebuah buku bisa jadi best-seller atau tidak. Uda mencontohkan bagaimana draft novel pencak silat yang dipunyai salah satu peserta, bisa saja diluncurkan jadi buku saat film Wiro Sableng muncul tahun depan.

Selain timing, Uda Fuadi berpendapat pemilihan sampul buku juga bermain peran dalam keberhasilan sebuah buku. Sebab, sampullah yang akan dilihat oleh para pengunjung toko buku pertama kali, sebelum mereka memutuskan untuk membeli buku. “Kalau sampul Negeri Lima Menara seperti ini, mungkin tidak ada yang beli kali ya,” canda Uda Fuadi sembari memerlihatkan slide tiga sampul awal Negeri Lima Menara. Saya pribadi memang menilai ketiga sampul itu tidak menarik karena lebih mirip buku motivasi atau buku agama ketimbang novel.

Seperti pepatah klasik, waktu jugalah yang memisahkan kita. Workshop penulisan ini akhirnya berakhir saat jam menunjukkan pukul 17:30, lebih panjang 30 menit dari waktu berakhir semula yaitu 17:00. Sebelum menutup workshop,, Uda mengingatkan lagi soal menulis satu halaman per satu hari. Jadi, pada akhir tahun, kami minimal sudah punya 365 halaman tulisan.

“Jadi bisa ya, akhir tahun sudah punya minimal satu buku?” kata Uda pada kami. Mudah-mudahan bisa, entah buku apa yang akan jadi. Kamu mau ikutan juga? Boleh. 🙂

 

 

 

 

 

Dua Setan Informasi

Terus terang, saya baru tahu kalau kemarin, Rabu (3/5/2017) itu Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day). Sebagai wartawan junior izinkan saya untuk mengucapkan selamat. Semoga dunia pers Indonesia semakin baik. Seperti kata novelis sekaligus wartawan, Albert Camus: Freedom is nothing, but a chance to be better.

Presiden Joko Widodo dalam pidatonya menyerukan media-media untuk menghentikan berita palsu (hoax) dan ujaran-ujaran kebencian. “Media semestinya meluruskan kalau ada berita-berita yang tidak benar, ada berita-berita bohong, ada hoax, ada ujaran-ujaran yang tidak baik,” kata Jokowi setelah berpidato dalam acara Hari Kebebasan Pers Sedunia 2018, JCC, Jakarta, Rabu (3/5/2017) seperti dikutip dari Detik.com.

Yang dikatakan Presiden tentu benar. Dengan maraknya media sosial dan media online, banjir informasi adalah sebuah keniscayaan. Sayangnya, ada saja oknum-oknum yang memanfaatkan ini untuk menyebar berita palsu. Akibatnya tentu jelas, masyarakat menjadi bingung: mana yang benar, mana yang salah. Maka dari itu, belakangan ini muncul gerakan literasi media (media literacy) untuk menangkal hoax dan mengedukasi masyarakat di tengah bajirnya informasi.

Namun yang tidak kalah penting dari menangkal hoax adalah menyikapi media-media partisan yang sekarang ini ada. Yang saya maksud media partisan adalah media yang jadi tempat penyalur syahwat politik si pemiliknya. Saya tentu tak usah menyebut media mana yang partisan. Biar sadar sendiri, dan masyarakat pun sudah tahu.

Buat saya pribadi, informasi yang disebar oleh media-media partisan tak kalah mengerikan dibanding hoax.  Media jadi corong kampanye politik tokoh tertentu yang dekat atau didukung si pemilik media yang bersangkutan. Padahal Dewan Pers telah mengingatkan para pemilik media untuk tetap menjaga integritas medianya.  Pers tidak boleh menggoyahkan sendiri kebebasan dan independensi sekadar menjadi alat keberpihakan kepentingan politik sesaat (Robertadhiksp.net, Independensi Media dan Pemilu).

Jauh sebelum Dewan Pers berkata demikian, Pramoedya Ananta Toer telah mengingatkan soal independensi lewat pesan tokoh Ter Haar pada Minke dalam novel Jejak Langkah. Pada halaman 370,Ter Haar berkata: Janganlah harian Tuan yang sudah baik itu dipergunakan untuk melampiaskan ambisi-ambisi pribadi. Harian Tuan dan Tuan sendiri sudah jadi milik bangsa Tuan, bangsa Hindia.

Saya harap, Pak Jokowi seperti tokoh Ter Haar, berani mengingatkan rekan-rekannya yang jadi pemilik media. Jangan di satu sisi mengkampanyekan anti hoax, tapi di sisi lain menikmati selingkuhnya pemilik media terhadap prinsip independen pers, karena merasa tak enak, telah terpiih berkat peran media massa (pendukung) #eh.

Sebab selain hoax, media partisan adalah dua setan informasi.

Surat Terbuka pada Michael Essien dan Marquee Player lain di Indonesia (Jika Ada)

Selamat datang di Indonesia, Michael Essien dan Carlton Cole. Selamat bergabung di Persib Bandung, salah satu klub legendaris di Liga Indonesia. Terima kasih juga,  Kang Essien bilang kalau Kang Essien berharap kedatangan Akang bisa menarik pemain kelas dunia lain main di Indonesia. Maaf surat ini agak terlambat saya buat dari sejak kedatangan Anda pertengahan Maret lalu (dengan harga transfer yang fantastis).

Senang sekali, pemain kelas dunia seperti Anda mau main di Indonesia. Negara yang tim sepak bolanya pernah disanksi FIFA karena ribut-ribut di luar lapangan sepak bola. Jika dibanding dengan negara-negara tempat Anda pernah bermain, sepak bola Indonesia tentu masih jauh kualitasnya.

Namun yang harus Kang Essien paham, soal fanatisme pada sepak bola, Indonesia boleh diadu dengan negara lain, bahkan dengan Inggris atau Italia sekalipun! Kalau Kang Essien tidak percaya, tanyakan ke suporter Persib soal cara bagaimana mereka berangkat ke Palembang, Sumatera Selatan untuk nonton Final Liga Indonesia lawan Persipura Jayapura. Di sini pula Kang, sepak bola mungkin sudah berada di luar nalar, karena saking fanatiknya, antara suporter rela baku hantam dan bahkan ada yang meninggal.

Karena fanatisme pada sepak bola (dalam kasus Anda, pada Persib Bandung) itulah, latihan perdana Anda bersama Persib dipadati banyak penonton. Yang saya baca dari salah satu media, hal itu bahkan membuat Anda heran. Saya kutip dari Sportsatu, agen Anda Amogou Mathieu bilang “Mereka bilang kaget. Essien juga bilang, animonya luar biasa. Karena, katanya di Eropa tidak ada suporter menyaksikan latihan sedekat ini dengan jumlah banyak,”

Yang harus juga Anda tahu Kang Essien, kedatangan Anda ke Indonesia bahkan sampai membuat PSSI bikin aturan soal marquee player. Kata Ketua PSSI, Edy Rahmayadi Kang, setiap klub teh boleh punya maksimal lima marquee player. Padahal: “Ini (aturan marquee player) sangat mengejutkan karena tidak dibahas dalam kongres, tapi kami masih menunggu perkembangan, tidak mau berandai-andai dulu,” kata Faisal Mursyid, Sekretaris PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) seperti saya kutip dari Four Four Two.

Kedatangan Anda juga memantik pro-kontra. Ada yang setuju, tapi banyak juga yang menilai sebaiknya marquee player seperti Kang Essien belum (kalau mau dibilang tidak) perlu di Indonesia. Calon lawan Anda nanti di Liga 1, Ponaryo Astaman yang main di Pusamania Borneo FC (PBFC) mengatakan di situs resmi PBFC. “Menurut saya secara pribadi, tidak terlalu perlu. Secara teknis marquee player yang terjangkau oleh klub-klub [Indonesia] sekarang sudah lewat peak performance-nya. Dalam arti, tidak dalam level terbaik mereka lagi,” Untuk informasi Kang Essien, Ponaryo ini salah satu gelandang senior dan mantan kapten timnas Indonesia lho.

Lain Ponaryo, lain juga kata Pelatih PSM Makassar (ini juga klub legendaris di Indonesia, Kang Essien), Robert Rene Albert. Di Four Four Two, Meneer Albert bilang:

“Waktu penetapannya salah, mengapa harus satu bulan dekat pelaksanaan liga? Tidak semua tim memiliki kemampuan mendatangkan pemain bintang. Saya rasa mereka tidak pikirkan konsekuensinya dengan menjalankan regulasi ini. Ini tidak adil, karena tak semua bisa memenuhi regulasi ini,”

Terlepas dari pro-kontra itu Kang Essien, Anda sudah (terlanjur) gabung dengan Persib. Dengan reputasi mentereng Anda yang pernah main bareng Frank Lampard, mencium trofi Liga Champions, dan mentas di Piala Dunia, harapan pecinta sepak bola Indonesia khususnya suporter Persib pada Anda bukan main tingginya Kang. Suporter Persib yang biasa disebut Viking dan Bobotoh (kalau Kang Essien belum tahu) pastinya pengin lihat Kang Essien main bal na kasep. Karena Kang Essien gelandang bertahan, yang diharapkan mungkin bukan gol Kang, tapi minimal pertahanan Persib tidak gampang bobol dan lini tengah Persib mainnya jadi alus pisan. Jangan sampai atuh Kang Essien malah kalah sama teman setim akang, Mas Hariono yang alus pisan main bal na. Muaranya sih, Kang Essien bisa bawa Persib juara deui.

Oh iya Kang, di Bandung banyak kuliner yang enak dari mulai surabi, brownis, seblak, sampai iga bakar, terus juga ada kaos-kaos distro yang bisa bikin Kang Essien makin kasep. Tidak kalah Kang sama merek-merek pakaian ternama yang biasa Kang Essien temui waktu di Eropa. Main-main di Bandung teh asik. Kang Essien harus coba.

Tapi ingat ya Kang, hehehe. Kang Essien harus tetap konsentrasi main bola dan kasih kontribusi buat Persib khususnya dan sepak bola Indonesia pada umumnya. Buktikan kalau Kang Essien teh belum habis. Lagipula, maneh kan tos dibayar awis Kang Essien, hehehe.

Sekian dulu surat saya Kang Essien. Sukur kalau Kang Essien baca, kalau tidak ya tidak apa-apa. Tapi kalau Kang Essien baca, sampaikan juga surat ini ke Akang Carlton Cole ya. Juga ke marquee player lain jika Kang Essien bisa. Kalau dari jejak rekam Kang Essien yang pernah main di Eropa dan Piala Dunia, pemain yang beredar di Liga Indonesia memang ada di bawah Akang. Tapi mesti diingat juga Kang, jangan pernah Kang Essien meremehkan dan tampil di bawah standarKarena mata Viking dan Bobotoh, juga suporter sepak bola Indonesia akan tertuju ke Akang. Nuhun, hehehe.

Sumber foto: Four Four Two.

 

 

Tentang Tertawa

tertawa

Herman Lantang (Lukman Sardi), Soe Hok Gie (Nicolas Saputra), Deny (Indra Birowo) dalam salah satu scene film Gie (2005)

Jika menangis tak hanya berarti kesedihan mustikah kita mengidentikan tertawa, melulu dengan ekspresi kesenangan?

Gie (Nicholas Saputra) berhenti sejenak di depan pintu pagar rumah Ira (Sita Nursanti). Ia menoleh ke belakang kemudian tertawa. Menghela nafas, lalu tertawa lagi. Menghela nafas dalam-dalam, tertawa, lalu pergi. Gie baru saja ditolak bertemu wanita yang belakangan baru ia sadari, ia cintai.

Itu adalah potongan adegan film Gie garapan sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana. Gie bercerita tentang kehidupan aktivis tahun 60’an, Soe Hok Gie yang juga mahasiswa jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Film itu dibuat berdasarkan buku harian Gie yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran.

Dalam film tersebut, Gie memang diceritakan tercebur dalam kubangan kesendirian. Teman-teman yang menemani semasa kuliah, telah pergi menempuh jalan masing-masing. Ira, sahabat sekaligus wanita yang sebetulnya ia cintai menjauh. Gie juga punya banyak musuh lantaran tulisan-tulisannya yang keras mengkritik pemerintah.

Cerita Gie dalam film ini sedikit banyak adalah pengejawantahan dari curhatan Gie pada kakaknya Arief Budiman (Soe Hok Djien). Arief lalu menuliskan cerita ini sebagai pengantar buku Catatan Seorang Demonstran terbitan 1993.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.

Menyimak cerita Gie siapa bisa bilang kalau tertawanya Gie  di pintu pagar rumah Ira karena ia sedang senang? Sebaliknya, tertawa itu adalah sikapnya atas keadaan yang bergerak di luar nalar. Ia menertawakan dirinya sendiri.

Bukankah kita juga terkadang menghadapi keadaan, di mana menangis saja memang tak cukup? Saking tak cukupnya untuk mengekspresikan kesedihan, kebingungan atas keadaan yang terjadi, kita kemudian tertawa. Menertawakan keadaan, menertawakan diri sendiri. Anda pernah melakukannya?

Jika iya, maka selamat. Sebab kemampuan menertawakan diri sendiri ternyata berharga. Setidaknya kita telah lebih dulu tertawa atas kekonyolan nasib kita di saat banyak orang (mungkin) lupa kalau nasibnya juga perlu ditertawakan oleh dirinya sendiri ketimbang sibuk menertawakan nasib orang lain. Kemahiran menertawakan diri sendiri sungguh berharga.

“I laugh because I must not cry, that is all, that is all. ”  kata Abraham Lincoln.