Karena Karius bukan Moacir Barbosa

You can cry, ain’t no shame in it. –Will Smith.

Laki-laki tak boleh menangis. Persetan dengan anggapan tersebut. Semua orang berhak menangis, laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, orang dewasa. Ketika kita tidak bisa lagi berbicara, menangis bisa jadi salah satu pilihan mengungkapkan perasan.

Dan pada Minggu malam di Stadion Olimpiyskiy, Ukraina, Loris Karius telah memilih untuk menangis. Ia tanggalkan sesaat maskulinitas sebagai seorang pemain bola. Ia menghampiri fans Liverpool yang berada di tribun sembari menampakkan gestur meminta maaf. Tanpa kata-kata. Hanya menangis.

Karius sadar, dua kesalahannya pada pertandingan melawan Real Madrid di Final Liga Champions telah menyebabkan Liverpool kalah. Yang dia kecewakan pun bukan dirinya sendiri, melainkan pelatih, staf, dan rekan setim di Liverpool.

Bahkan jauh daripada itu, Karius sadar ia telah mengecewakan fans Liverpool di seluruh dunia. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, laki-laki sampai perempuan. Dari yang datang langsung ke stadion, atau menonton laga final itu lewat televisi di belahan dunia lain. Ya, Karius sadar telah mengecewakan mereka semua.

“Saya minta maaf kepada semuanya — dari tim, dari seluruh klub — karena kesalahannya sangat fatal. Kalau saya bisa mengulang waktu, saya akan melakukannya. Saya merasa bersalah. Saya tahu saya mengecewakan mereka hari ini,” kata Karius tak lama setelah pertandingan.

Karius tahu, ada kepercayaan yang gagal ia bayar dengan lunas. Maka ketika perasaan sedih, kesal, dan kecewa itu berkecamuk di pikiran, ia hanya bisa menangis.

***

Dalam Bahasa Inggris, ada kata fallible yang menurut Cambridge Dictionary berarti able or likely to make mistakes. Kata fallible yang merupakan kata sifat lalu bisa berubah menjadi kata benda, fallibilty. Di sini, Cambridge Dictionary memberi contoh the play deals with the fallibilty of human nature.

Dari contoh itu, kiranya kita bisa melihat bahwa falibilitas atau kecenderungan untuk membuat kesalahan, sejatinya adalah sifat alami dalam diri manusia. Sayangnya, kita seringnya tidak tahu, kapan sifat alamiah berupa falibilitas itu muncul.

Sialnya bagi Karius sifat falibilitas itu muncul saat ia tengah berada di Final Liga Champions, panggung yang justru sama sekali tak mengizinkan kesalahan terjadi. Tidak tanggung-tanggung, dua kesalahan dibuatnya sekaligus!

Kesalahan pertama dibuat Karius saat hendak melempar bola ke rekan setimnya. Alur bola itu lalu dipotong oleh Striker Real Madrid, Karim Benzema yang berada dekat dengan Karius. Bola lalu menggelinding masuk jala gawang Liverpool. Gol. 1-0 untuk Real Madrid.

Setelah Sadio Mane mencetak gol penyeimbang, Liverpool kembali tertinggal lewat gol salto Gareth Bale. Namun gol itu tak menyurutkan semangat Liverpool. Sayang, sedang semangat-semangatnya mengejar ketinggalan, Karius kembali membuat kesalahan.

Pemuda Jerman ini salah mengantisipasi tendangan keras Gareth Bale dari luar kotak penalti. Bola yang memantul, kemudian masuk ke dalam gawang. Gol. 3-1 untuk Real Madrid. Bek Liverpool, Dejan Lovren tesungkur lesu, menutup wajahnya dengan tangan.

Pertandingan memang masih menyisakan tujuh menit. Suporter Liverpool terus menyanyikan anthem kebanggaan mereka You’ll Never Walk Alone, berharap Miracle of Istanbul  pada 2005 terulang di Kiev. Para pemain Liverpool pun terus mencari-cari gol. Mereka berusaha di antara himpitan harapan dan kenyataan.

Sayangnya, kali ini kenyataan menang. Harapan Liverpool untuk menyamakan kedudukan dan juara, pupus.

***

Kekalahan memerlukan kambing hitam. Kali ini, yang menjadi kambing hitam adalah Karius. Maka caci maki dan cemoohan pun diarahkan kepadanya. Oliver Kahn menyebut kesalahan Karius sangat berat. Paul Scholes menilai kualitas Karius belum cocok untuk Liverpool.

Bahkan tak main-main, ada segelintir fans Liverpool yang bahkan mengancam keselamatan Karius. Kepolisian Merseyside pun tidak tinggal diam dan menganggap serius ancaman tersebut.

Falibilitas Karius dianggap fatal setidaknya karena dua hal. Pertama, dia membuat kesalahan itu berbuah gol dan terjadi di pentas Final Liga Champions. Kedua, Karius adalah seorang kiper.

Almarhum Mantan Pelatih Timnas Wales, Garry Speed pernah berkata, “Setiap orang membuat kesalahan, tetapi ketika kiper yang membuatnya, akibatnya sungguh fatal. Tetapi itulah alamiah seorang kiper,”

Kesalahan yang dibuat Karius mengamini perkataan Speed. Posisi kiper dan pemain belakang adalah posisi yang paling penting tetapi di saat bersamaan posisi paling rapuh di sepak bola. “Attack wins you games, defence wins you title,”  kata Manajer Legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson.

Jika penyerang atau gelandang membuat kesalahan, akibat kesalahan itu mungkin tidak akan sefatal jika kesalahan dibuat pemain belakang dan kiper. Tetapi jika pemain belakang dan kiper yang membuat kesalahan, kemungkinan besar akan terjadi gol. “Menjadi striker adalah pilihan terbaik. Jika Anda gagal di lima peluang, lalu Anda mencetak satu gol kemenangan, Anda adalah pahlawan. Sebaliknya bagi kiper, Anda bisa bermain brilian dalam satu pertandingan, tetapi jika Anda membiarkan sekali saja kebobolan, Anda adalah penjahatnya,” kata Legenda Liverpool, Ian Rush. Rush adalah seorang striker.

Sayangnya, orang justru tak menghargai kiper atau pemain belakang, seperti mereka menghargai gelandang atau pemain depan. Tengok saja daftar pemenang Ballon d’Or atau Pemain Terbaik FIFA yang mayoritas diisi gelandang dan pemain depan.

Hanya Franz Beckenbauer dan Fabio Cannavaro, bek yang mendapat penghargaan pemain terbaik dunia. Kiper? Sejauh ini cuma Lev Yashin yang pernah meraihnya.

***

Di antara cerita kiper yang membuat kesalahan, cerita Moacir Barbosa bisa jadi yang paling menyedihkan. Moacir dikutuk menjadi kambing hitam seumur hidupnya atas kekalahan timnas Brasil atas timnas Uruguay di Final Piala Dunia 1950.

Kala itu, Piala Dunia dihelat di Brasil. Sebagai tuan rumah, hasrat untuk juara sangat menggebu dalam diri masyarakat Brasil. Apalagi setahun sebelumnya, mereka berhasil menjuarai Copa America.

Selecao –julukan timnas Brasil- pun melalui Piala Dunia dengan mulus. Dipimpin pemain legendaris, Zizinho, Brasil akhirnya melenggang ke partai final dan bertemu Uruguay di Stadion Maracana, Rio de Janiero. Publik Brasil yakin tim pujaan mereka akan meraih trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Beberapa koran di Brasil sudah memprediksi kalau timnas mereka akan menang. Walikota Rio de Janeiro berujar bahwa beberapa jam lagi para pemain akan menjadi juara dunia. Bahkan, medali emas dengan ukiran nama-nama pemain timnas Brasil sudah dibuat.

Harapan itu seolah-olah bakal terwujud ketika Friaca membuat timnas Brasil unggul pada menit 47. Namun Uruguay ternyata menyamakan kedudukan pada menit 66 berkat gol Juan Alberto Schiaffino.

Pada menit ke-79, mimpi buruk publik Brasil khususnya Moacir datang. Alchides Gigghia melesatkan tendangan yang salah diantisipasi Moacir. Uruguay unggul 2-1 sampai pertandingan berakhir. Uruguay juara dunia, mendiamkan sekitar 210 ribu penonton di Maracana.

Yang dijadikan kambing hitam kala itu adalah Moacir. Publik Brasil benar-benar tak memberi ruang maaf baginya. Di jalan-jalan, Moacir menerima pelecehan rasialis. Rumahnya bahkan sempat diancam akan dibakar.

Di antara yang paling menyedihkan bagi Moacir terjadi 20 tahun selepas tragedi Maracana. Di sebuah supermarket,  seorang ibu menunjukkan tangan ke arah Moacir, sembari berkata kepada anaknya. “Lihat nak, dia adalah orang yang membuat seluruh rakyat Brasil menangis,”

Pada 1994 atau 44 tahun setelah peristiwa di Maracana itu terjadi, Mario Zagallo bahkan melarang Moacir bertemu para pemain Brasil. Alasannya? Zagallo takut kesialan Moacir menular kepada timnya. Publik Brasil bahkan mengaitkan tragedi Maracana dengan kulit hitam Moacir.

Sejak saat itu, Brasil jarang memanggil kiper kulit hitam. Seingat saya, hanya Dida mungkin yang mendapat pengecualian.

Moacir meninggal pada 7 April 2000. Sebelum meninggal, Moacir mempertanyakan kenapa hukuman publik Brasil begitu keras kepada dirinya. “Di Brasil, hukuman penjara maksimal 30 tahun. Tetapi hukuman saya ternyata berlangsung 50 tahun,”

“Sembari berlinang air mata, dia menangis di atas bahu saya. Sampai akhir, dia selalu mengatakan, saya tak bersalah. Ada 11 pemain di sana,” kata seorang teman Moacir

***

Orang bilang, sejarah mengulang dirinya sendiri. Tetapi untuk kali ini, rasanya publik khususnya fans Liverpool, tak perlu mengulang tragedi Moacir kepada Karius. Karena seperti komentator televisi yang mengomentari blunder Karius, “Whatever mistakes you make in football, its never intentional.”

Kesalahan ada untuk diperbaiki.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Narasi Edmond Dantes dalam laga Persija Vs Persib di Solo

the count of monte cristo

Perdebatan soal keputusan wasit menganulir gol striker Persib Bandung Ezechiel N’Douassel ke gawang Persija Jakarta masih berlangsung di media sosial. Ada yang menyinggung soal fair play pemain Persija, ada juga yang hanya memanas-manasi dengan saling lempar ejekan.

Bagi yang belum tahu, pertandingan Persija Vs Persib di Stadion Manahan, Solo, Jumat (3/11/2017) menyisakan kontroversi setelah wasit asal Australia, Shaun Evans menganulir gol N’Douassel. Padahal dari tayangan ulang, bola telah melewati garis dan bahkan menyentuh jala gawang.

Kontroversi belum berhenti sampai di situ. Pertandingan terpaksa dihentikan di menit 83 setelah para pemain Persib dianggap enggan melanjutkan alias walk out. Meskipun, Manajer Persib, Umuh Muchtar membantah timnya enggan melanjutkan pertandingan.

Beragam komentar dan reaksi muncul setelah pertandingan. Dari pihak Persib, mereka telah berencana mengirim surat ke PSSI sebagai bentuk protes. Namun yang menarik adalah pernyataan kiper Persija, Andritany soal gol N’Douassel.

Dalam tulisan di blognya (yang entah kemudian dihapus mungkin), Andritany mengakui kalau gol N’Douassel memang sah. “Sampai saat ini saya, dan Bepe tidak berkata bahwa bola itu tidak goal. Bola itu mutlak goal”, tulis Andritany di blog pribadinya, seperti saya kutip dari bolasport.

“Penjaga gawang bola gol kan?” tanya Ezechiel.

“Gol, tapi wasit mempunyai keputusannya” ucap Andritany kala itu.

Lalu, mengapa Andritany tidak mengatakan pada wasit kalau bola memang masuk saat pertandingan?

***

Membaca pernyataan Andritany, saya jadi teringat cerita Edmond Dantes di dalam film The Count of Monte Cristo yang digarap berdasarkan novel karangan Alexandre Dumas. Diceritakan, Dantes adalah tokoh yang jujur dan lugu, seorang yang noble.

Sayangnya, kejujuran dan keluguan membawa Dantes justru menjadi korban konspirasi. Fernand Mondego, temannya sendiri, mantan kapten kapal Dantes, Danglard, dan Villefort, pejabat di kota Marseille, Prancis bekerjasama menjebak Dantes untuk keuntungan masing-masing.

Ketiganya lalu bekerjasama menuduh Dantes sebagai seorang Bonapartist, simpatisan Napoleon Bonaparte, karena memiliki surat dari Napoleon untuk mata-matanya di Marseille. Tanpa sepengetahuan Dantes, Mondego yang turut berkelana bersama Dantes ke Pulau Elba dan bertemu Napoleon, dan Danglard lalu memberitahu Villefort terkait surat Napoleon pada Dantes.

Lewat interogasi oleh Villefort Dantes dengan kejujurannya memberitahu kalau surat tersebut ditujukan pada Monsieur Clarion, yang tak lain adalah rekan dekat Villefort sendiri. Villefort yang merasa terancam atas surat tersebut kemudian menjebloskan Dantes ke penjara Chateau d’If karena takut surat tersebut akan mengancam posisinya sebagai administrator di kota Marseille.

Konspirasi ketiganya menjatuhkan Dantes berhasil. Villefort tetap aman di posisinya malah kemudian naik jabatan sebagai jaksa di Paris, sementara Mondego mendapatkan Mercedes, kekasih Dantes yang ia idam-idamkan. Danglard? Ia naik menjadi kepala perusahaan pengiriman barang, Morell and Company.

Bahwa kejujuran adalah nilai yang mulia, itu tidak bisa dibantah. Namun apakah kejujuran itu selalu tepat? Bagi Edmond Dantes kejujuran ternyata bukan hal tepat. Karena kejujuran ia justru mendapat petaka. Dantes harus ditahan di penjara Chateau d’If selama enam tahun. Ia kehilangan kekasihnya, Mercedes, juga ayahnya yang bunuh diri setelah tahu Dantes dipenjara.

Pada lakon Persija Vs Persib di Solo, Andritany dan para pemain Persija tidak ingin menjadi Edmond Dantes. Andritany bisa saja berlari ke wasit lalu mengatakan bahwa bola memang telah masuk. Namun jika ia mengatakan hal itu, Persija tertinggal 0-1 dan bisa saja kalah. Meskipun, ia mungkin akan disanjung oleh suporter Persib sebagai pemain yang sportif.

Legenda timnas Jerman, Miroslav Klose pernah mengakui golnya tidak sah saat membela Lazio melawan Napoli. Paolo Di Canio pernah membatalkan golnya sendiri saat membela West Ham di partai melawan Everton karena melihat kiper Everton, Paul Gerrard cedera. Padahal, jika Di Canio tetap ingin gol itu tercipta, West Ham bisa menang. Atas aksinya ini, FIFA menganugerahi Di Canio gelar FIFA Fair Play Award tahun 2000.

Akan tetapi, berharap kisah-kisah serupa selalu terjadi di sepak bola adalah harapan yang naif.  Sepak bola adalah pertarungan dan yang bisa kita harapkan adalah perjuangan diri kita sendiri. Berharap lawan akan  selalu bersikap jujur dan ‘berpihak’ pada kita adalah hal yang sia-sia. Namanya juga lawan, tugasnya adalah mempersulit dan menjadi lawan kita di pertandingan.

Republik Irlandia harus rela gagal lolos ke Piala Dunia 2010 setelah kalah agregat 1-2 dari timnas Prancis. Padahal, gol William Gallas di leg kedua bermula dari handball Thierry Henry. Dalam rekaman ulang, Henry memang terlihat sengaja mengarahkan bola dengan tangannya, dan ia pun mengakui hal tersebut. Henry pun lalu dikecam tak hanya oleh rakyat Irlandia melainkan rakyat Prancis dan beberapa eks pemain timnas Prancis.

Namun, Pelatih Timnas Irlandia kala itu, Giovanni Trapattoni ternyata tidak menyalahkan Henry atau meminta pertarungan ulang. “Saya yakin, FIFA akan berbuat sesuatu terkait insiden handball Henry. Bukan menjadi kewajiban Henry untuk mengakui kalau ia handball,” kata Trapattoni.

Trapattoni paham Henry tidak mungkin mengakui handballnya saat pertandingan. Ia toh bukan pemain timnas Irlandia. Lagipula, Prancis juga membutuhkan kemenangan agar lolos ke Piala Dunia 2010.

Kembali ke film The Count of Monte Cristo, Dantes berhasil kembali menghirup udara bebas setelah enam tahun di Chateau d’If. Lebih dari itu, ia menjadi seorang kaya raya berkat harta karun Spada. Ia menemukan harta karun itu berkat peta dari seorang pendeta, Abbe Faria yang ia temui di penjara Chateau d’If. Abbe Faria pula yang mengajari Dantes membaca, ilmu pengetahuan, dan ilmu pedang.

Berkat bekal harta dan ilmu dari Faria, Dantes berhasil membalaskan dendam pada Villefort, Danglard dan Mondego. Di scene akhir, Dantes semula ingin mengampuni Mondego. Sayang, Mondego yang terbakar amarah dan dendam justru menantang Dantes berduel pedang.

Sebelum mati, Mondego meminta ampun kepada Dantes. Namun Dantes ternyata telah berubah pikiran  dan  berkata: “Saya bukan santo, saya seorang count (bangsawan)” Maksud Dantes jelas, ia bukan santo atau orang suci yang selalu baik dan bebas dari kesalahan, yang dengan begitu saja mengampuni lawannya. Sebaliknya, Dantes ‘hanya’ seorang bangsawan.

Andritany dan para pemain Persija mungkin juga bisa mengucapkan seperti Dantes saat ditanya N’douassel atau fans Persib, mengapa ia tak mengaku kalau bola masuk, ketika pertandingan berlangsung. Andritany bisa menjawab:

“Saya bukan orang suci, saya pemain bola. Pemain Persija. Bukan Persib,”

Dan seperti manusia pada umumnya, pemain bola toh bebas memilih, kapan ia harus jujur, kapan ia harus berbohong.

Ke Mana Angin Kota London Berhembus?

Lewat novel Orlando, Virginia Woolf menggambarkan betapa cepat cuaca di London bisa berubah. “all was light, order, and, serenity…. “No sooner had the words left his lips than the first stroke of midnight sounded. Orlando then for the first time noticed a small cloud gathered behind the dome of St. Paul’s. As the stroke sounded, the cloud increased, and she saw it darken and spread with extraordinary speed.

Alexandre Lacazette mungkin tak pernah membaca novel Orlando yang pertama kali terbit pada 1928. Namun striker Arsenal asal Prancis ini toh mengalami sendiri apa yang dialami Orlando: menghadapi cuaca London yang berubah-ubah.

“Saya harus terbiasa dengan cuaca dari cerah ke hujan hanya dalam beberapa detik saja,” kata Lacazette, yang baru menetap tiga bulan di London.

Seperti cuaca di London yang cepat berubah, seperti itu pula suasana dalam ruang ganti tim sepak bola. Saat meraih kemenangan, tim berada dalam mood yang bagus. Namun jika tim Anda kalah, mood yang semula bagus itu bisa berubah seketika jadi buruk. “Kalah adalah momen yang menyulitkan,” kata Gelandang Manchester United (MU), Marouanne Fellaini.

Manajer Arsenal, Arsene Wenger memang tak bisa menjaga cuaca kota London tetap cerah setiap saat. Namun ia pasti harus bisa menjaga mood pasukannya agar selalu dalam kondisi terbaik. Itulah misi yang dia emban saat bertandang ke Stamford Bridge menantang juara bertahan, Chelsea, Minggu (17/9/2017) untuk melakoni Derby London.

Mood pasukan Arsenal sedang lumayan positif setelah meraih dua kemenangan masing-masing atas Bournemouth (3-0) dan FC Koln di Liga Europa (3-1). Akan tetapi, Chelsea jelas berbeda dari dua tim tersebut.

Kualitas The Blues ada di atas keduanya. Maka di partai inilah sesungguhnya kebangkitan Arsenal akan dibuktikan. Apakah kebangkitan itu semu, atau sejati. Apakah Arsenal hanya bisa menang melawan tim yang kualitasnya di bawah mereka, atau mereka benar-benar bisa menang melawan tim yang kualitasnya setara.

“Chelsea punya tim yang bagus dan selalu sulit untuk meraih kemenangan tandang atas mereka,” kata Wenger.

Sial bagi Arsenal, angin kota London saat ini sedang berhembus ke arah Chelsea. Itu karena skuat asuhan Antonio Conte sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Setelah kalah 1-3 dari Bournemouth di pekan pertama, Chelsea memetik empat kemenangan termasuk melibas Qarabag 6-0 di Liga Champions.

“Bukan hanya permainan bagus di atas lapangan, tapi Chelsea juga punya suasana yang lebih harmonis di ruang ganti,” kata eks Chelsea, Graeme Le Saux.

Yang diacu oleh Le Saux adalah kisruh soal kontrak dua bintang Arsenal, Alexis Sanchez dan Mesut Ozil. Kontrak keduanya belum diperpanjang pihak klub. Padahal, kontrak keduanya akan habis akhir musim ini.

Sanchez kabarnya sempat ingin pindah ke Manchester City karena ingin main di Liga Champions. Sementara Ozil meminta gaji tinggi. Meski keduanya akhirnya bertahan, rumor tak sedap ini tetap bertahan dan mengudara saat Arsenal kalah.

“Dari sudut pandang pemain, itu situasi yang tak enak. Anda hanya ingin fokus latihan, pemulihan, dan bermain di pertandingan berikutnya. Segala gangguan adalah negatif,” kata  Le Saux.

Namun demikian, bukan Wenger namanya jika tak keras kepala. Ia tak peduli dengan anggapan miring terhadap timnya jelang laga ini. Jangankan anggapan miring, desakan suporter agar ia mundur pun tak digubris. Wenger sendiri telah 21 tahun menangani Arsenal.

Wenger seakan menghayati benar ucapan penyair Samuel Johnson yang mengatakan,  ‘When a man is tired of London, he’s tired of life.’ Dalam kamus Wenger, perkataan itu berubah: “Ketika saya menyerah di Arsenal, saya menyerah terhadap hidup saya,”

Karakter keras kepala juga sebetulnya dimiliki Antonio Conte. Yang sedikit membedakan mungkin tampilan dan perlakuan pada pemain di lapangan. Conte tak segan untuk berbicara dan bertindak keras terhadap siapapun yang mengganggu timnya. Lihat caranya menyingkirkan Diego Costa yang dianggapnya tak lagi berguna bagi tim. Lewat sms! Padahal, Costa adalah salah satu tumpuan Chelsea saat diasuh Jose Mourinho.

Wenger dan Antonio Conte sama-sama perantau di Inggris. Bedanya, Wenger berasal dari Strasbourg, kota di timur Prancis, sementara Conte berasal dari Lecce, kota di selatan Italia. Saat kedua manajer keras kepala ini berduel besok, ke mana angin kota London berhembus?

Tak Ada Musik Klasik di Royal Albert Hall

royal albert hall
Royal Albert Hall (sumber, londonandpartners.com)

Royal Albert Hall, bangunan yang saya sebut ini barangkali adalah salah satu tempat konser musik paling bergengsi di Eropa bahkan dunia. Di kota London, tepatnya bangunan berasitektur Italianate ini berdiri.

Royal Albert Hall mulai dibangun pada 1867 dan selesai pada 1871, tepatnya pada 29 Maret. Pada mulanya, bangunan ini direncanakan bernama Central Hall of Arts and Sciences. Namun oleh Ratu Victoria, bangunan ini berubah nama menjadi Royal Albert Hall untuk menghormati Pangeran Albert yang meninggal enam tahun sebelum Royal Albert Hall dibangun.

Secara umum, bangunan Royal Albert Hall berbentuk oval dengan tinggi 41 meter dengan luas 5200 meter persegi. Pada bagian luar bangunan, tersemat dekorasi tulisan tentang cerita dan tujuan pembangunan Royal Albert Hall serta puja-puji pada Tuhan. “The wise and their works are in the hand of God. Glory be to God on high and on Earth peace.”  Demikian sebagian bunyi kalimat tersebut.

Selama 146 tahun umurnya, beragam musisi dan acara pernah diselenggarakan. Rasa-rasanya, tak ada musisi, band, atau orkestra yang tak mau tampil di bangunan yang mendapat tiga kali penghargaan International Venue Of The Year tersebut. Mulai dari Eric Clapton, Paul McCartney, hingga Adele pernah unjuk kebolehan di sini.

Bukan hanya sekadar tempat menggelar konser musik, Royal Albert Hall juga sering menjadi saksi bisu sejarah dunia tercipta. Salah satunya pada 3 Oktober 1933 yaitu saat Albert Einstein berpidato dalam acara The Refugee Assistance Committee yang dihadiri 8000 orang dan berhasil mengumpulkan dana 500 ribu dollar AS. Dalam pidatonya, Einstein menggunakan Bahasa Inggris dan menyinggung krisis yang sedang terjadi di Eropa saat itu.

How can we save mankind and it’s spiritual acquisitions of which we are the heirs and how can one save Europe from a new disaster?”  kata Einstein.

***

Jika Royal Albert Hall kita ibaratkan turnamen sepak bola, ia mungkin sejajar dengan Liga Champions. Ya, tak ada klub Eropa dan pemain yang rasanya enggan bermain di Liga Champions.

“Liga Champions adalah kompetisi yang semua orang ingin ikut berpartisipasi,” kata Legenda Liverpool, Steven Gerrard.

Sederet bintang sepak bola pernah adu kaki di Liga Champions. Siapa yang tidak tahu Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Mundur ke belakang, pesona Zidane dan Ronaldinho pernah menyihir dunia lewat Liga Champions. Di Asia khususnya Indonesia, orang rela begadang hanya untuk menonton aksi bintang-bintang tersebut di Liga Champions.

Bukan cuma ajang pamer para bintang, sejarah juga banyak tercipta di turnamen yang dimulai sejak 1955 ini. Berbicara final paling dramatis misalkan, silakan pilih final musim 1998/99 antara Manchester United Vs Bayern Munchen, atau final 2004/05 antara Liverpool Vs AC Milan.

Saking hebatnya pesona Liga Champions, Manajer Legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson  berujar kalau turnamen ini lebih besar dari Piala Dunia!

“Liga Champions lebih besar dari Piala Dunia. Semua pemain terbaik berada di sini. Ketika Anda punya pemain seperti Zinedine Zidane, Luis Figo, dan Ronaldo, itu adalah koleksi kelas dunia,” ujar Ferguson 2004 silam.

***

Semua gemerlap Liga Champions itu sayangnya tak bisa dinikmati oleh Arsenal musim ini. Keterpurukan musim lalu membuat pasukan Arsene Wenger harus rela duduk di bangku penonton ditemani popcorn, menyaksikan Liga Champions.

Pada Liga Inggris musim 2016/17, Meriam London hanya berhasil finis di tempat kelima dengan 75 poin. Mereka kalah bersaing dengan Chelsea, Tottenham Hotspur, Manchester City, dan Liverpool.

Catatan buruk ini adalah yang pertama sejak Arsenal ditangani Wenger mulai Oktober 1996. Ya, sejak Wenger masuk ke klub, Arsenal selalu bisa mentas di Liga Champions. Prestasi tertinggi mereka adalah runner up musim 2005/06.

Liga Champions adalah idaman Arsenal, tapi Liga Champions pulalah yang meremukkan mereka musim lalu. Pada Babak 16 Besar, Arsenal dilumat Bayern Munchen dengan agregat 10-2! Sejak kekalahan memalukan itu, Arsenal bagai ayam tanpa kepala. Akibatnya, performa Arsenal sempat anjlok di Liga Inggris.

Desakan mundur pun bagai memekakan  telinga Wenger. Fans menganggap Manajer berjuluk The Professor itu sudah tak lagi mampu mengangkat prestasi Arsenal. Beruntung, keberhasilan menjuarai Piala FA sedikit meregangkan ketegangan syaraf Wenger, pemain, dan fans.

Manajer Liverpool, Jurgen Klopp pernah mengandaikan Arsenal dengan sosok Arsene Wenger sebagai sebuah orkestra yang memainkan musik klasik.  Kala itu, Klopp masih menukangi Borussia Dortmund dan diisukan akan menggantikan Wenger.

“Dia (Wenger) suka memainkan bola, bermain, mengoper. Seperti orkestra. Tapi itu lagu yang tak berbunyi. Saya lebih suka heavy metal. Saya selalu ingin yang nyaring,” kata Klopp seperti dikutip Goal.

Jarak Royal Albert Hall dengan Emirates Stadium -markas Arsenal- hanya memakan waktu 40 menit perjalanan. Namun bagi orkestra bernama Arsenal, jarak menuju Royal Albert Hall adalah paling tidak satu musim kompetisi alias 10 bulan. Pasalnya, mereka harus mentas dulu di Liga Europa, turnamen yang kerap disebut turnamen kasta kedua. Jumat (15/9/2017) dinihari WIB nanti, mereka akan memulai perjalanannya dengan menjamu klub Jerman, FC Koln.

Jadi, kapan lagi ada musik klasik di Royal Albert Hall? Hanya Tuhan dan waktu yang mampu menjawabnya.

Surat Terbuka pada Michael Essien dan Marquee Player lain di Indonesia (Jika Ada)

Selamat datang di Indonesia, Michael Essien dan Carlton Cole. Selamat bergabung di Persib Bandung, salah satu klub legendaris di Liga Indonesia. Terima kasih juga,  Kang Essien bilang kalau Kang Essien berharap kedatangan Akang bisa menarik pemain kelas dunia lain main di Indonesia. Maaf surat ini agak terlambat saya buat dari sejak kedatangan Anda pertengahan Maret lalu (dengan harga transfer yang fantastis).

Senang sekali, pemain kelas dunia seperti Anda mau main di Indonesia. Negara yang tim sepak bolanya pernah disanksi FIFA karena ribut-ribut di luar lapangan sepak bola. Jika dibanding dengan negara-negara tempat Anda pernah bermain, sepak bola Indonesia tentu masih jauh kualitasnya.

Namun yang harus Kang Essien paham, soal fanatisme pada sepak bola, Indonesia boleh diadu dengan negara lain, bahkan dengan Inggris atau Italia sekalipun! Kalau Kang Essien tidak percaya, tanyakan ke suporter Persib soal cara bagaimana mereka berangkat ke Palembang, Sumatera Selatan untuk nonton Final Liga Indonesia lawan Persipura Jayapura. Di sini pula Kang, sepak bola mungkin sudah berada di luar nalar, karena saking fanatiknya, antara suporter rela baku hantam dan bahkan ada yang meninggal.

Karena fanatisme pada sepak bola (dalam kasus Anda, pada Persib Bandung) itulah, latihan perdana Anda bersama Persib dipadati banyak penonton. Yang saya baca dari salah satu media, hal itu bahkan membuat Anda heran. Saya kutip dari Sportsatu, agen Anda Amogou Mathieu bilang “Mereka bilang kaget. Essien juga bilang, animonya luar biasa. Karena, katanya di Eropa tidak ada suporter menyaksikan latihan sedekat ini dengan jumlah banyak,”

Yang harus juga Anda tahu Kang Essien, kedatangan Anda ke Indonesia bahkan sampai membuat PSSI bikin aturan soal marquee player. Kata Ketua PSSI, Edy Rahmayadi Kang, setiap klub teh boleh punya maksimal lima marquee player. Padahal: “Ini (aturan marquee player) sangat mengejutkan karena tidak dibahas dalam kongres, tapi kami masih menunggu perkembangan, tidak mau berandai-andai dulu,” kata Faisal Mursyid, Sekretaris PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) seperti saya kutip dari Four Four Two.

Kedatangan Anda juga memantik pro-kontra. Ada yang setuju, tapi banyak juga yang menilai sebaiknya marquee player seperti Kang Essien belum (kalau mau dibilang tidak) perlu di Indonesia. Calon lawan Anda nanti di Liga 1, Ponaryo Astaman yang main di Pusamania Borneo FC (PBFC) mengatakan di situs resmi PBFC. “Menurut saya secara pribadi, tidak terlalu perlu. Secara teknis marquee player yang terjangkau oleh klub-klub [Indonesia] sekarang sudah lewat peak performance-nya. Dalam arti, tidak dalam level terbaik mereka lagi,” Untuk informasi Kang Essien, Ponaryo ini salah satu gelandang senior dan mantan kapten timnas Indonesia lho.

Lain Ponaryo, lain juga kata Pelatih PSM Makassar (ini juga klub legendaris di Indonesia, Kang Essien), Robert Rene Albert. Di Four Four Two, Meneer Albert bilang:

“Waktu penetapannya salah, mengapa harus satu bulan dekat pelaksanaan liga? Tidak semua tim memiliki kemampuan mendatangkan pemain bintang. Saya rasa mereka tidak pikirkan konsekuensinya dengan menjalankan regulasi ini. Ini tidak adil, karena tak semua bisa memenuhi regulasi ini,”

Terlepas dari pro-kontra itu Kang Essien, Anda sudah (terlanjur) gabung dengan Persib. Dengan reputasi mentereng Anda yang pernah main bareng Frank Lampard, mencium trofi Liga Champions, dan mentas di Piala Dunia, harapan pecinta sepak bola Indonesia khususnya suporter Persib pada Anda bukan main tingginya Kang. Suporter Persib yang biasa disebut Viking dan Bobotoh (kalau Kang Essien belum tahu) pastinya pengin lihat Kang Essien main bal na kasep. Karena Kang Essien gelandang bertahan, yang diharapkan mungkin bukan gol Kang, tapi minimal pertahanan Persib tidak gampang bobol dan lini tengah Persib mainnya jadi alus pisan. Jangan sampai atuh Kang Essien malah kalah sama teman setim akang, Mas Hariono yang alus pisan main bal na. Muaranya sih, Kang Essien bisa bawa Persib juara deui.

Oh iya Kang, di Bandung banyak kuliner yang enak dari mulai surabi, brownis, seblak, sampai iga bakar, terus juga ada kaos-kaos distro yang bisa bikin Kang Essien makin kasep. Tidak kalah Kang sama merek-merek pakaian ternama yang biasa Kang Essien temui waktu di Eropa. Main-main di Bandung teh asik. Kang Essien harus coba.

Tapi ingat ya Kang, hehehe. Kang Essien harus tetap konsentrasi main bola dan kasih kontribusi buat Persib khususnya dan sepak bola Indonesia pada umumnya. Buktikan kalau Kang Essien teh belum habis. Lagipula, maneh kan tos dibayar awis Kang Essien, hehehe.

Sekian dulu surat saya Kang Essien. Sukur kalau Kang Essien baca, kalau tidak ya tidak apa-apa. Tapi kalau Kang Essien baca, sampaikan juga surat ini ke Akang Carlton Cole ya. Juga ke marquee player lain jika Kang Essien bisa. Kalau dari jejak rekam Kang Essien yang pernah main di Eropa dan Piala Dunia, pemain yang beredar di Liga Indonesia memang ada di bawah Akang. Tapi mesti diingat juga Kang, jangan pernah Kang Essien meremehkan dan tampil di bawah standarKarena mata Viking dan Bobotoh, juga suporter sepak bola Indonesia akan tertuju ke Akang. Nuhun, hehehe.

Sumber foto: Four Four Two.

 

 

Plis Wenger, Berubah Dong

arsene-wenger
Arsene Wenger (Sumber: mirror.co.uk)

Gimana gak sakit coba: udah bela-belain gak pulang, eh tapi tim kesayangan lo kalah, 3-1 pula. Itu sih bukan sakitnya tuh di sini lagi, tapi di sana, di mana-mana.

Kalah dari Chelsea di pekan ke-24 membuat gue berpikir: udah lah, ini gagal lagi aja juara Liga. Dengan sisa 14 pertandingan lagi, apapun bisa terjadi sih. Tapi ngeliat performa Chelsea yang stabil plus sisa lawan mereka, rasanya trofi Liga musim ini udah hampir pasti menuju ke Stamford Bridge.

Terus Arsenal? Gue sebagai fans sih berharapnya juara. Tapi realistis lah, paling-paling dapat posisi ketiga atau runner up. Itupun kalau performa mereka stabil terus. Kalau gak, buruk-buruknya terlempar dari lima besar dan masuk Liga Europa musim depan.

Kalau musim ini gagal lagi, itu berarti udah 14 musim Arsenal gak meraih gelar juara Liga. Terakhir kali Arsenal juara itu musim 2003/04, waktu acara musik yang kebanyakan lipsync belum banyak di Indonesia.

Sebagai analis amatir, ada beberapa hal yang menurut gue jadi biang kerok kegagalan Arsenal yang terus menerus ini.

Satu hal yang selalu gue amati ketika tim-tim besar khususnya tim-tim Liga Inggris main lawan Arsenal. Liat deh, pas Arsenal nyerang, mereka numpuk pemain di kotak penalti.

Ini karena kebiasaan Arsenal buat ngurung pertahanan lawan dengan permainan passingnya. Kalau dirunut, cara main Arsenal di 1/3 daerah penalti lawan gini nih: 1-2 passing, oper ke pemain sayap lalu ada dua pilihan, umpan silang atau permainan one-two pass. Gitu terus.

Alhasil, Mereka nunggu pemain Arsenal buat salah oper lalu counter attack. Simak aja kata-kata Sir Alex Ferguson soal cara dia saat lawan Arsenal sewaktu masih ngelatih Manchester United.

“Wenger punya pakem bagaimana dia melihat pemain dan cara bermain. Kami tidak perlu memenangkan bola melawan Arsenal. Kami harus mengintersepnya. Anda butuh pemain bagus yang bisa mengintersep,” tulis Sir Alex Ferguson di otobiografinya soal taktik Wenger.

Berangkat dari ucapan Ferguson, gue coba ngeliat statistik Whoscored. Ternyata bener juga kata Ferguson. Arsenal udah lima kali kalah musim ini. Di lima kekalahan itu, jumlah intersep tim-tim yang menang dari Arsenal selalu lebih banyak. Kecuali pas kalah lawan Manchester City dan Liverpool.

Southampton, waktu menang 2-0, ngebuat 22 kali intersep berbanding 11 milik Arsenal. Watford ngebuat 22 kali, Arsenal cuma 8. Chelsea semalem, bikin 17 intersep sementara Arsenal, 11.

Amati juga jumlah operan tim-tim tersebut. Rata-rata mereka membuat jumlah operan yang lebih sedikit dari Arsenal (kecuali Manchester City karena ada Guardiola). Tapi ya menang. Itu karena mereka ngopernya efektif. Mereka langsung melancarkan serangan balik.

Masih kata Ferguson. Menurut dia, ada ruang di Arsenal yang bisa digunakan tim lawan untuk menyerang balik. “Ruang untuk serangan balik, biasanya di temukan di posisi melebar. Tidak peduli di kandang atau tandang, full back Arsenal biasanya lebih sering berada di daerah pertahanan lawan, sembari berharap secara naif, rekan setim mereka tidak kehilangan bola,” kata Ferguson.

Kalau udah gini, mau nyalahin Arsene Wenger? Gak juga, tapi jangan naif kalau Wenger tentu harus tanggungjawab: dia manajernya, dia yang atur taktik, dia yang memutuskan beli pemain.

Gue pribadi berharap Wenger mau berubah dan jangan keras kepala soal taktiknya. Entah gimana caranya, dia harus menemukan taktik yang efektif. Jangan tanya gue, karena gue gak punya lisensi kepelatihan dan gak tau gimana taktik yang efektif. Kenapa Wenger? Sebab mau gak mau, cuma dia yang bisa membalikkan keadaan saat ini. Gak tau kalau musim depan.