Jakarta Dalam Sebuah Gerbong Kereta

(Kereta komuter melesat, meninggalkan Jakarta menuju Bogor. Di setiap gerbong, penumpang berdesakkan. Ini jam 16:30, yang berarti waktunya pulang bagi para pekerja di Jakarta)

Perlahan, Amri mengangkat tangan kananya dari himpitan badan penumpang lain. Ia ingin mengelap keringat yang menetes dari dahinya. Sesekali, Amri mendengar penumpang lain menghembuskan nafas panjang. “Fyuuh,” hembus salah satu penumpang.

Meski berada di kereta commuter line AC, padatnya penumpang membuat AC dan kipas angin seperti hati nurani para koruptor; ada, tapi tak ada gunanya!

Kereta masih melaju, mata Amri menerawang ke hampir setiap sudut gerbong yang ia tumpangi, melihat beragam wajah penumpang. Ada yang menampilkan rona kelelahan. Ada juga yang terlihat menutup wajah dengan saputangan, merasa bau keringat orang di sebelahnya, begitu mengganggu.

Memandangi wajah-wajah mereka, Amri teringat dua paragraf pembuka dalam cerita pendek (cerpen) Kota-Harmoni di buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karangan Idrus yang baru selesai ia baca kemarin. Cerpen itu berlatar kehidupan Jakarta sekitar tahun 1945 dan buku Idrus sendiri terbit sekitar tahun 1948.

“Trem penuh sesak dengan orang, keranjang-keranjang, tong-tong kosong dan berisi, kambing dan ayam. Hari panas dan orang dan binatang keringatan. Trem bau keringat dan terasi. Ambang jendela penuh dengan air ludah dan air sirih, kemerah-merahan seperti buah tomat,”

“Dalam trem susah bernapas. Tapi orang merokok juga, menghilang bau keringat dan terasi. Seorang perempuan muda, Belanda-Indo, mengambil sapu tangan, kecil sebagai daun pembungkus lemper, dihirupnya udara di sapu tangannya, lalu katanya ‘Siapa lagi yang membawa terasi ke atas trem. Tidak tahu aturan, ini kan kelas satu,”

Jakarta telah dibangun. Tak ada lagi trem. Tak ada lagi cerita ayam naik komuter atau nenek-nenek makan sirih di transjakarta atau komuter. Gedung-gedung mewabah seperti jamur di musim hujan. Dan rumah penduduk digusur dengan dalih pembangunan. Namun toh, pikir Amri, ada satu hal yang tak berubah dari kota ini: kepadatannya.

(Kereta sampai di Stasiun Manggarai. Meski sudah penuh sesak, ada juga penumpang yang bersikukuh masuk. “Kasih yang turun dulu bu,” kata salah satu penumpang. “Aduh, jangan dorong-dorong dong mas. Sudah penuh nih,” kata penumpang lainnya. Sementara, dari pengeras suara, pembantu masinis berkata: sebentar lagi pintu kereta akan ditutup. Bagi penumpang diharapkan tidak memaksa masuk)

Paradoks, pikir Amri. Di satu sisi, kita begitu membenci kota ini karena kemacetan, kesemberonoan orang-orangnya, juga karena kemampuan luar biasa kota ini mengikis kesabaran diri kita. Akan tetapi di sisi lain, makin banyak orang berduyun-duyun datang ke Jakarta. Saat makan siang di kantor, Amri terkejut oleh penjaga warteg yang wajahnya tak ia kenal. “Baru ya mba?” tanya Amri. “Iya mas, diajak mba saya. Sekalian kalau bisa cari kerja lain,” jawabnya.

Ah ya, jawabannya tentu saja karena uang. Bukankah upah Jakarta adalah yang tertinggi di Jakarta, sekitar Rp 3,6 juta. Jumlah itu sekitar satu juta lebih tinggi dari kota yang pekan lalu didatangi Amri saat dinas luar kota. Uang, kata Amri, memang tidak bisa membeli ketenangan yang mungkin didapat jika kita tinggal di kota lain yang lebih kecil dan jauh dari Jakarta. Tapi dengan uang lah kita membayar KPR, tagihan listrik dan keperluan rumah tangga. Maka persetan dengan ketenangan. Memang bisa hidup tenang jika cicilan motor dan KPR tak terbayar?

Hp dalam saku celana Amri bergetar. Susah payah, Amri mencoba mengambilnya. Terlihat di layar hp, pesan Whatsapp dari bosnya, “Jangan lupa laporan dinas kemarin. Deadline lusa,” Amir membalas singkat, siap. Hp kembali meluncur ke kantongnya. Selang satu penumpang, seorang laki-laki melirik ke arah Amri. “Sasaran empuk,” kata laki-laki itu.

(Kereta berhenti di stasiun Cawang. Lagi, satu-dua penumpang memaksa masuk. Saat hendak jalan kembali, roda kereta berdecit membuat kereta berguncang. Para penumpang yang berdiri, termasuk Amri, dengan kuat memegang pegangan yang menggelayut di tiang, berjuang agar tidak jatuh. “Astagfirullah,” kata salah satu penumpang. Selain berpegangan, mata Amri juga melihat ke bawah, mencari tempat untuk kakinya berpijak dengan lebih nyaman. Saat hendak kembali menatap ke depan, mata Amri sekilas memandang wanita yang baru naik tadi, yang berdiri sekitar dua meter darinya. Berjilbab, matanya belo, bibirnya tipis, kulitnya putih. Cantik)

Wajah wanita itu mengingatkan Amri pada temannya, Wina, seorang anker (anak kereta) juga. Wina pernah bercerita kalau wanita terkadang lebih memilih naik gerbong umum, daripada gerbong khusus wanita karena di gerbong khusus sana, persaingan mendapatkan tempat duduk lebih keras daripada di gerbong umum. “Sering ada yang ribut sampai jambak-jambakan. Lu lembek, lu diinjek,” kata Wina.

Wanita ini, pikir Amri, sepertinya mengikuti kata Wina: memilih untuk naik gerbong umum. Sukur jika ada pria yang bersedia menawarinya tempat duduk. Atau minimal ia bisa berlindung di belakang tubuh pria yang turun di stasiun yang sama dengannya. Ah, wanita butuh pria. Pun sebaliknya. Kita saling membutuhkan. Saling melengkapi.

Amri sendiri sebetulnya capek, setiap hari, setiap pulang ke kosnya di daerah Depok, harus bergelut dengan padatnya penumpang di kereta. Kata-kata dari sastrawan favoritnya, Seno Gumira Aji Darma sesekali terngiang di kepalanya. “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Amri tak ingin menjadi orang yang dimaksud dalam kata-kata Seno tadi. “Tapi kalau harus pindah ke mana? Ke kampung? Jadi petani? Ah, petani di kampung saja tinggal yang tua-tua. Mereka hidup miskin. Yang muda, pergi ke Jakarta, bekerja. Lahan pertanian disulap menjadi pabrik-pabrik atau jalan tol. Dan Presiden berkata: mengapa lulusan pertanian bekerja di bank, tak jadi petani?” Kalau lulusan Fakultas Kehutanan UGM saja bisa jadi Presiden. Kenapa yang lulusan pertanian harus jadi petani?

Jadi sastrawan? Ah itu lagi. Kalau tak tenar-tenar sekali seperti Seno atau Pramoedya, atau  Tere Liye, atau siapapun, tak ada uangnya. Persetan soal idealisme. Memang makan di warteg bisa bayar pakai idealisme? Amri sebetulnya bisa menulis karena hobi sejak kecil, ia pun pernah membuat buku. Namun jangan ditanya soal penjualannya. Jangankan menembus toko buku besar. Buku yang terjual cuma 10. Satu dibeli ibunya, sembilan lainnya dibeli teman yang telah dibujuk-bujuk Amri untuk membeli.

(Kereta sudah memasuki stasiun Universitas Pancasila. Sebagian besar penumpang sudah turun. Masih satu stasiun lagi sebelum Amri turun di stasiun Pondok Cina. Amri duduk sembari memangku tasnya. Sekedar melepas lelah sebelum turun. Sesekali, ia memandangi wajah wanita berjilbab tadi, yang kali ini juga mendapat tempat duduk. Tak ingin ketahuan, Amri memutuskan lebih baik bermain hp. Naas, hp Amri ternyata raib dari kantong celananya. Ia menduga, si maling mengambil hp saat penumpang berdesak-desakan turun di stasiun Lenteng Agung. Amri pun hanya bisa menepuk jidat. Ia kemalingan. Sementara si wanita berjilbab tadi asyik memainkan hp, bersama temannya)

Jakarta itu keras Amri. Yang lembut itu cinta.

Dan entah di Jakarta, cinta itu apa masih ada?

 

 

 

 

Advertisements

Di Setiap Diri Kita Adalah Novel

IMG_20170825_191800_918
Foto penulis favorit dengan penggemarnya

 

Pintu saya buka perlahan. Seketika, hampir semua mata mereka yang ada di ruangan itu tertuju pada saya, termasuk sang pengisi workshop menulis, Ahmad Fuadi. Saya mengangguk pelan, meminta maaf karena datang terlambat dan sedikit mengganggu workshop.

Jumat (25/8/2017) saya berkesempatan mengikuti workshop menulis bersama Ahmad Fuadi, penulis favorit saya. Workshop bertemakan Kiat Menulis dan Menerbitkan Buku itu berlangsung di ruangan Kompasiana, lantai lima gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta Barat. Meski telat, saya beruntung karena workshop belum terlalu lama berlangsung. Workshop dimulai pukul 15:00 sementara saya tiba di ruangan 15:10.

Saat pertama kali mendengarkan Uda Fuadi berbicara, terus terang saya -kalau bahasa anak sekarang- fan girling. “Wah ternyata seperti ini ya, penulis favorit saya kalau bicara. Wah ternyata orangnya begini ya begitu ya, dll.” bisik saya dalam hati.

Di awal sesi, Uda Fuadi memberikan pengantar tentang kriteria menulis yang bagus. Menurut pengarang trilogi Negeri Lima Menara ini, menulis yang bagus adalah menulis yang bisa menggetarkan perasaan orang banyak. Ia juga yakin bahwa setiap orang sejatinya punya cerita dan bisa menulis. “Yang punya cerita bagus banyak, tapi mereka gak nulis,” kata dia.

Di antara sekian sesi dalam workshop tersebut, saya kira sesi proses menulis lah yang paling penting. Di sini, Uda Fuadi tidak bercerita dari segi teknis. Sebab menurut dia, teknis menulis bukanlah bagian yang terpenting. “Teknis itu bisa dikejar,” kata Uda.

Setidaknya ada tiga hal yang menurut Uda Fuadi penting dalam proses menulis ini. Yang pertama adalah niat. Sebagai orang yang ingin menulis, kata Uda, kita harus bisa menemukan alasan kenapa kita ingin menulis. Jika sudah menemukan jawaban yang tepat, stamina menulis kita akan kuat. Sebab, proses menulis, apalagi menulis buku adalah proses yang panjang dan melelahkan. Uda Fuadi bercerita bagaimana ia harus meriset dan mengunjungi kampung halamannya di Maninjau, Sumatra Barat untuk menggali bahan untuk trilogi novelnya. Ketiga buku dari trilogi itu masing-masing membutuhkan waktu rata-rata 2,5  tahun untuk ditulis.

“Kalau sudah tahu reason, baru kita masuk ke pertanyaan kedua yaitu: what,” kata Uda.

Menulis bisa dimulai dari hal-hal yang kita tahu dan cintai. Hal-hal tersebut akan jadi bahan tulisan yang kita tak akan pernah bosan untuk menulisnya. Uda Fuadi mencontohkan trilogi novel Negeri Lima Menara yang ia tulis berdasarkan urutan kisah hidupnya sendiri. Mulai dari cerita kehidupan di pesantren, kuliah di Bandung, hingga akhirnya jadi wartawan Tempo.

Di setiap diri kita adalah novel. Tinggal memilih bagian mana yang harus dibuang, bagian mana yang harus ditulis,” kata Uda Fuadi.

Yang ketiga dari proses menulis baru lah segi teknis. Segi ini, kata Uda Fuadi bisa berbeda bagi tiap-tiap penulis. Uda Fuadi sendiri menggunakan teknik mind maping yang membuatnya punya gambaran jelas mengenai buku yang akan ia tulis. “Jadi kalau saya get lost, saya tinggal lihat lagi map nya,” kata dia. Setelah punya mid map yang jelas, kita bisa menuliskan pointer-pointer yang bisa kita turunkan lagi menjadi paragraf. Saat menjelaskan ini, Uda Fuadi memperlihatkan draft dan point-point yang ia kerjakan dulu sewaktu menulis Negeri Lima Menara.

IMG_20170825_160557
Proses menulis seorang Ahmad Fuadi

Jam sudah menunjukkan pukul 16:15 saat Uda mulai menerangkan soal bagaimana menerbitkan buku. Uda Fuadi mengaku beruntung, bukunya ditemukan penerbit dan bisa laris di pasaran. “Jadi kalau ditanya apa resep untuk jadi best-seller, saya tidak tahu,” kata Uda. Alumni Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini mengakui, jika bukan karena waktu yang tepat, bukunya mungkin tidak akan jadi best-seller dan ia tidak jadi penulis terkenal.

Proses penerbitan buku itu sendiri memakan waktu yang cukup panjang. Mulai dari penyuntingan, hingga masalah seperti pemilihan sampul buku. Uda Fuadi bercerita bagaimana ia memilih dan akhirnya memutuskan gambar untuk sampul buku terbarunya, Anak Rantau. Untuk buku ini, Uda Fuadi menyelenggarakan pemungutan suara via media sosial. Para pengikut akun media sosial Uda Fuadi di @fuadi1 dipersilakan memilih satu di antara dua gambar yang sebelumnya telah dipilih oleh tim. Dari polling itu, terpilihlah gambar anak yang sedang menggendong ransel, menatap bus di depannya yang sedang melaju. Uda bercerita, ia sebetulnya lebih suka gambar pertama, yang menampilkan tas berwarna merah bertuliskan Anak Rantau. “Tapi sebagai penulis, kita tidak bisa egois,” begitu kata dia.

IMG_20170825_161049
Alur menulis sebuah buku oleh Ahmad Fuadi

Idealis Vs Oportunis

Pada sesi terakhir, para peserta dipersilakan bertanya pada Uda Fuadi. Para penanya rata-rata menjelaskan dulu background mereka seperti apa. Di sinilah, saya melihat ternyata para peserta ini hebat-hebat betul. Ada yang sudah menulis buku, pernah membuat novel, namun tak kunjung terbit. Ada juga peserta yang mengaku sudah punya draft novel tentang pencak silat. Luar Biasa. Saya sendiri menanyakan pendapat Uda soal menulis menuruti kata hati atau menulis menurut pasar. Sebab saya berpikir, rata-rata penulis pastinya ingin bukunya dibaca banyak orang, yang berujung pada income yang lumayan.

IMG_20170825_163659
Suasana workshop menulis bersama Ahmad Fuadi

Menurut Uda Fuadi, keduanya bukan hal yang harus terpisah, malah lebih baik disatukan. Saat menulis trilogi Negeri Lima Menara, Uda Fuadi mengaku tidak berpikir bagaimana agar bukunya laku dipasaran. Sebaliknya, ia menulis karena ingin menceritakan kehidupannya yang pernah menyenyam pendidikan di pesantren. “Awalnya saya bahkan ragu bisa menulis novel. Istri saya lalu membelikan banyak buku mengenai teknik bagaimana menulis novel. Ya saya baca satu-satu,” ujar Uda Fuadi. Timing yang tepat, kata Uda, mungkin menjadi penentu bagaimana sebuah buku bisa jadi best-seller atau tidak. Uda mencontohkan bagaimana draft novel pencak silat yang dipunyai salah satu peserta, bisa saja diluncurkan jadi buku saat film Wiro Sableng muncul tahun depan.

Selain timing, Uda Fuadi berpendapat pemilihan sampul buku juga bermain peran dalam keberhasilan sebuah buku. Sebab, sampullah yang akan dilihat oleh para pengunjung toko buku pertama kali, sebelum mereka memutuskan untuk membeli buku. “Kalau sampul Negeri Lima Menara seperti ini, mungkin tidak ada yang beli kali ya,” canda Uda Fuadi sembari memerlihatkan slide tiga sampul awal Negeri Lima Menara. Saya pribadi memang menilai ketiga sampul itu tidak menarik karena lebih mirip buku motivasi atau buku agama ketimbang novel.

Seperti pepatah klasik, waktu jugalah yang memisahkan kita. Workshop penulisan ini akhirnya berakhir saat jam menunjukkan pukul 17:30, lebih panjang 30 menit dari waktu berakhir semula yaitu 17:00. Sebelum menutup workshop,, Uda mengingatkan lagi soal menulis satu halaman per satu hari. Jadi, pada akhir tahun, kami minimal sudah punya 365 halaman tulisan.

“Jadi bisa ya, akhir tahun sudah punya minimal satu buku?” kata Uda pada kami. Mudah-mudahan bisa, entah buku apa yang akan jadi. Kamu mau ikutan juga? Boleh. 🙂

 

 

 

 

 

Dua Setan Informasi

Terus terang, saya baru tahu kalau kemarin, Rabu (3/5/2017) itu Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day). Sebagai wartawan junior izinkan saya untuk mengucapkan selamat. Semoga dunia pers Indonesia semakin baik. Seperti kata novelis sekaligus wartawan, Albert Camus: Freedom is nothing, but a chance to be better.

Presiden Joko Widodo dalam pidatonya menyerukan media-media untuk menghentikan berita palsu (hoax) dan ujaran-ujaran kebencian. “Media semestinya meluruskan kalau ada berita-berita yang tidak benar, ada berita-berita bohong, ada hoax, ada ujaran-ujaran yang tidak baik,” kata Jokowi setelah berpidato dalam acara Hari Kebebasan Pers Sedunia 2018, JCC, Jakarta, Rabu (3/5/2017) seperti dikutip dari Detik.com.

Yang dikatakan Presiden tentu benar. Dengan maraknya media sosial dan media online, banjir informasi adalah sebuah keniscayaan. Sayangnya, ada saja oknum-oknum yang memanfaatkan ini untuk menyebar berita palsu. Akibatnya tentu jelas, masyarakat menjadi bingung: mana yang benar, mana yang salah. Maka dari itu, belakangan ini muncul gerakan literasi media (media literacy) untuk menangkal hoax dan mengedukasi masyarakat di tengah bajirnya informasi.

Namun yang tidak kalah penting dari menangkal hoax adalah menyikapi media-media partisan yang sekarang ini ada. Yang saya maksud media partisan adalah media yang jadi tempat penyalur syahwat politik si pemiliknya. Saya tentu tak usah menyebut media mana yang partisan. Biar sadar sendiri, dan masyarakat pun sudah tahu.

Buat saya pribadi, informasi yang disebar oleh media-media partisan tak kalah mengerikan dibanding hoax.  Media jadi corong kampanye politik tokoh tertentu yang dekat atau didukung si pemilik media yang bersangkutan. Padahal Dewan Pers telah mengingatkan para pemilik media untuk tetap menjaga integritas medianya.  Pers tidak boleh menggoyahkan sendiri kebebasan dan independensi sekadar menjadi alat keberpihakan kepentingan politik sesaat (Robertadhiksp.net, Independensi Media dan Pemilu).

Jauh sebelum Dewan Pers berkata demikian, Pramoedya Ananta Toer telah mengingatkan soal independensi lewat pesan tokoh Ter Haar pada Minke dalam novel Jejak Langkah. Pada halaman 370,Ter Haar berkata: Janganlah harian Tuan yang sudah baik itu dipergunakan untuk melampiaskan ambisi-ambisi pribadi. Harian Tuan dan Tuan sendiri sudah jadi milik bangsa Tuan, bangsa Hindia.

Saya harap, Pak Jokowi seperti tokoh Ter Haar, berani mengingatkan rekan-rekannya yang jadi pemilik media. Jangan di satu sisi mengkampanyekan anti hoax, tapi di sisi lain menikmati selingkuhnya pemilik media terhadap prinsip independen pers, karena merasa tak enak, telah terpiih berkat peran media massa (pendukung) #eh.

Sebab selain hoax, media partisan adalah dua setan informasi.

Tentang Tertawa

tertawa
Herman Lantang (Lukman Sardi), Soe Hok Gie (Nicolas Saputra), Deny (Indra Birowo) dalam salah satu scene film Gie (2005)

Jika menangis tak hanya berarti kesedihan mustikah kita mengidentikan tertawa, melulu dengan ekspresi kesenangan?

Gie (Nicholas Saputra) berhenti sejenak di depan pintu pagar rumah Ira (Sita Nursanti). Ia menoleh ke belakang kemudian tertawa. Menghela nafas, lalu tertawa lagi. Menghela nafas dalam-dalam, tertawa, lalu pergi. Gie baru saja ditolak bertemu wanita yang belakangan baru ia sadari, ia cintai.

Itu adalah potongan adegan film Gie garapan sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana. Gie bercerita tentang kehidupan aktivis tahun 60’an, Soe Hok Gie yang juga mahasiswa jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Film itu dibuat berdasarkan buku harian Gie yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran.

Dalam film tersebut, Gie memang diceritakan tercebur dalam kubangan kesendirian. Teman-teman yang menemani semasa kuliah, telah pergi menempuh jalan masing-masing. Ira, sahabat sekaligus wanita yang sebetulnya ia cintai menjauh. Gie juga punya banyak musuh lantaran tulisan-tulisannya yang keras mengkritik pemerintah.

Cerita Gie dalam film ini sedikit banyak adalah pengejawantahan dari curhatan Gie pada kakaknya Arief Budiman (Soe Hok Djien). Arief lalu menuliskan cerita ini sebagai pengantar buku Catatan Seorang Demonstran terbitan 1993.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.

Menyimak cerita Gie siapa bisa bilang kalau tertawanya Gie  di pintu pagar rumah Ira karena ia sedang senang? Sebaliknya, tertawa itu adalah sikapnya atas keadaan yang bergerak di luar nalar. Ia menertawakan dirinya sendiri.

Bukankah kita juga terkadang menghadapi keadaan, di mana menangis saja memang tak cukup? Saking tak cukupnya untuk mengekspresikan kesedihan, kebingungan atas keadaan yang terjadi, kita kemudian tertawa. Menertawakan keadaan, menertawakan diri sendiri. Anda pernah melakukannya?

Jika iya, maka selamat. Sebab kemampuan menertawakan diri sendiri ternyata berharga. Setidaknya kita telah lebih dulu tertawa atas kekonyolan nasib kita di saat banyak orang (mungkin) lupa kalau nasibnya juga perlu ditertawakan oleh dirinya sendiri ketimbang sibuk menertawakan nasib orang lain. Kemahiran menertawakan diri sendiri sungguh berharga.

“I laugh because I must not cry, that is all, that is all. ”  kata Abraham Lincoln.

Logan, Perpisahan Manis Wolverine

Sebagai pengagum Hugh Jackman dan Wolverine, pastinya film Logan memang film yang sudah saya nantikan. Saya sudah mengaguminya sejak film X Men yang pertama. Bahkan kalau boleh jujur, saya lebih fokus pada tokoh Wolverine ketimbang tokoh X-Men yang lain.

Dan sekira akhir pekan lalu, saya berkesempatan menonton Logan.

Saya masuk telat dan film sudah mulai. Tapi mudah-mudahan tidak mengurangi pemahaman saya terhadap filmnya yes. Lagipula, saya di sini tidak akan menceritakan jalannya film. Nanti spoiler lagi.

Kalau dari tokoh Wolverinenya, jelas film Logan masuk ke dalam film superhero yang pastinya melibatkan banyak adegan berantem-beranteman.  Namun sepanjang saya menonton filmnya, saya pikir Logan bukan sekedar film superhero. Malah cenderung ke drama. Bagaimana keinginan Professor Xavier memiliki keluarga dan hidup normal, Wolverine yang sudah ditempa dengan berbagai macam mara-bahaya dan perihnya kehidupan, tiba-tiba bertemu Laura, anaknya. Wolverine yang biasa kasar, tiba-tiba harus bersikap seperti bapak terhadap Laura. Ini sempat membuat Wolverine kikuk.

Kiranya saya setuju dengan pendapat Joko Anwar yang dalam twitternya menyebut Logan bukan sekedar film superhero. Film ini bahkan bisa membuat penontonya mengeluarkan air mata lho. Terutama pas adegan…..

Film ini bisa membuat kita berpikir,  how precious our family is.

By the way  sebelum Anda memutuskan untuk membawa serta anak-anak, nanti dulu yes. Soalnya adegan berantem-beranteman di film ini tergolong brutal sih.  Gak sedikit saya lihat penonton yang menutup mata begitu adegan sadis berantem-beranteman muncul.

Terlepas dari adegan family yang cukup membuat kita berpikir, saya juga sedih gak bisa lihat Hugh Jackman jadi Wolverine lagi. Sebab denger-denger sih  ini film terakhirnya dia sebagai Wolverine. Isunya, Shahrukh Khan  bakal jadi pengganti. Are you serious?  Nanti sebelum berantem, Wolverine joget dulu lagi. Hehehe.

Jangan Terlalu Berharap (Pada Media)

“Kambing. Media-media sekarang tuh kaya t*i tau gak sih lo,” maki Emir kesal.

“Jadi kaya kambing apa kaya t*i nih,” sahut Amri menanggapi.

“Kaya t*i kambing juga boleh. Terserah lu,” timpal Emir lagi.

===
Kekesalan yang dialami Emir jamak kita lihat ketika Pemilu. Masyarakat dibuat bingung akan hal itu. Mereka bertanya-tanya, bagaimana mendapatkan informasi yang benar sesungguhnya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita menengok salah satu pandangan yang terkenal dalam dunia teks, Paradigma Kritis.

Mengutip Eriyanto dalam buku Analisis Wacana, paradigma kritis bersumber dari pemikiran sekolah Frankfurt. Dalam paradigma ini, media bukanlah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok dominan.

Paradigma kritis ini kemudian dikembangkan oleh seorang ahli bernama Stuart Hall. Lebih jauh, Hall merumuskan Paradigma Kritis secara lebih tajam. Menurutnya, media adalah pemeran utama dari pertarungan kekuasaan. Media memilih nilai-nilai dan apa yang seharusnya masyarakat terima atau inginkan.

Dalam praktek di lapangan, wartawan sebagai bagian dari lingkup yang lebih besar yakni media, yang diterjunkan untuk meliput suatu peristiwa, akan membangun kembali peristiwa itu dengan angle pemberitaan tertentu. Wartawan membangun suatu peristiwa utuh menjadi sebuah realitas.

Realitas dapat ditandakan secara berbeda pada perstiwa yang sama. Makna yang berbeda dapat dilekatkan pada peristiwa yang sama.

Kesimpulannya, ketika masyarakat melihat suatu berita, itu adalah hasil rekonstruksi yang dibangun oleh sang wartawan yang meliput peristiwa tersebut.

Apakah tindakan wartawan melakukan rekonstruksi atas suatu peristiwa yang terjadi itu salah? Tidak juga. Sebab wartawan juga punya nilai yang dia pegang.

Ambil contoh begini, wartawan yang bersikap apolitis, akan menulis berita soal janji-janji para politisi dengan nada sinis dikarenakan oleh nilai politik t*i kucing yang dia pegang. Lain cerita jika si wartawan menganggap politisi ini punya sesuatu yang menjanjikan atau dia berpihak pada seorang politisi, kemungkinan besar –kalau tak mau ditulis pasti- berita soal politisi itu akan bernada positif atau istilahnya lebih kalemlah.

Lalu pertanyaan lainnya, masih adakah berita atau katakan media yang netral? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama adalah buang jauh-jauh kata netral karena yang ada adalah jujur dan adil.

Robert Scheer dari Los Angeles Times mengatakan, yang lebih penting bukan Apakah Anda bisa netral, tetapi bagaimana Anda (dalam hal ini wartawan) mengerjakan pekerjaan Anda dengan cara yang adil dan jujur.

Koran Washington Post bisa dijadikan acuan terkait sikap adil yaitu:

  • Berita itu tidak adil bila mengabaikan fakta-fakta yang penting. Jadi adil adalah lengkap.
  • Berita itu tidak adil bila dimasukkan informasi yang tidak relevan. Jadi adil adalah relevansi.
  • Berita itu tidak adil bila secara sadar maupun tidak, menggiring pembaca ke arah yang salah atau menipu. Jadi adil adalah jujur.
  • Berita itu tidak adil bila wartawan menyembunyikan prasangka atau emosinya di balik kata-kata halus yang merendahkan. Jadi adil menuntut keterusterangan.

Lantas kembali ke pertanyaan pertama, bagaimana cara masyarakat menentukan kebenaran suatu informasi? Bertrand Russell pernah berkata kepada mahasiswanya

“Lakukan pengamatan sendiri. Aristoteles dapat menghindari kekeliruan tentang perkiraannya bahwa wanita mempunyai jumlah gigi lebih sedikit dari pria, andai saja dia meminta istrinya membuka mulut dan menghitung sendiri. Menganggap kita tahu, padahal tidak, adalah kesalahan fatal yang cenderung kita lakukan,”

Ya, masyarakat dengan nilai-nilai yang mereka dapat, sebetulnya mampu menentukan dan memilah-milah informasi yang benar dan salah. Sebagai contoh, seorang pecandu sepak bola pasti tahu informasi yang menyebut Zlatan Ibrahimovic bermain di Persija Jakarta adalah salah.

Terlepas dari paparan di atas, ini adalah opini penulis, sebaiknya kita jangan terlalu berharap lebih kepada media. Karena koran sekaliber Washington Post dan Los Angeles Times pun penulis yakin masih melakukan pilih kasih dalam berita (soal terorisme misalnya, pihak mana yang sering disudutkan? Mengapa label terorisme hanya melekat pada pihak tertentu itu?).

Jadi sekali lagi, jangan terlalu berharap, karena berharap, apalagi terlalu itu sakit. Utamanya kalau soal cinta #eeh.

Daftar Pustaka

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana, Pengantar Teks Media , Jakarta: LKIS
Ishwara,Luwi, 2011. Jurnalisme Dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Fitur Status, Penegasan dari Whatsapp

whatsappUpdate terbaru Whatsapp mungkin membuat sebagian penggunanya mengernyitkan dahi. Apa-apaan nih, kok ada fitur status di tengah? Di Whatsapp edisi terbaru, fitur contacts yang biasa ada di tengah antara tab chats dan calls sekarang pindah ke kanan atas. Sebagai ganti, ada fitur status yang berada di tengah di antara fitur chats dan calls.

Di fitur status tersebut, penulisan status di Whatsapp yang biasanya statis, berubah. Dengan fitur status, pengguna bisa mengunggah video, gif atau foto dengan keterangan (caption). Sederhananya, fitur status ini bisa disamakan dengan fitur Instagram Stories pada Instagram.

Seperti yang sudah disebut di atas, sebagian pengguna Whatsapp mengeluhkan adanya fitur status ini. Garis besar dari keluhan itu rata-rata mereka sebetulnya pengin Whatsapp tetap sederhana, tanpa ada fitur status. Sayangnya nasi sudah menjadi bubur.

Terlepas dari pro kontra, adanya fitur status menurut saya bisa meningkatkan interaksi antara pengguna Whatsapp.  Kita tinggal menekan tombol reply untuk mengomentari status yang baru diupdate oleh teman kita.

Pengguna Whatsapp juga bisa lebih eksis dengan fitur yang memungkinkan mereka membagi video, gif, atau foto. Bandingkan dengan fitur status Whatsapp edisi sebelumnya yang hanya berupa teks.

Lebih lanjut, kehadiran fitur status itu bisa dibaca sebagai penegasan. Whatsapp ingin benar-benar jadi aplikasi media sosial yang menunjang interaksi dan keinginan unjuk eksistensi penggunanya, seperti aplikasi media sosia lain semisal Facebook, Instagram, Path, atau Twitter. Bukankah aplikasi-aplikasi itu media sosial banget? Nah Whatsapp ternyata tidak mau ketinggalan. Dengan fitur ini, Whatsapp mau menegaskan kalau mereka juga aplikasi media sosial lho.