Karena Karius bukan Moacir Barbosa

You can cry, ain’t no shame in it. –Will Smith.

Laki-laki tak boleh menangis. Persetan dengan anggapan tersebut. Semua orang berhak menangis, laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, orang dewasa. Ketika kita tidak bisa lagi berbicara, menangis bisa jadi salah satu pilihan mengungkapkan perasan.

Dan pada Minggu malam di Stadion Olimpiyskiy, Ukraina, Loris Karius telah memilih untuk menangis. Ia tanggalkan sesaat maskulinitas sebagai seorang pemain bola. Ia menghampiri fans Liverpool yang berada di tribun sembari menampakkan gestur meminta maaf. Tanpa kata-kata. Hanya menangis.

Karius sadar, dua kesalahannya pada pertandingan melawan Real Madrid di Final Liga Champions telah menyebabkan Liverpool kalah. Yang dia kecewakan pun bukan dirinya sendiri, melainkan pelatih, staf, dan rekan setim di Liverpool.

Bahkan jauh daripada itu, Karius sadar ia telah mengecewakan fans Liverpool di seluruh dunia. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, laki-laki sampai perempuan. Dari yang datang langsung ke stadion, atau menonton laga final itu lewat televisi di belahan dunia lain. Ya, Karius sadar telah mengecewakan mereka semua.

“Saya minta maaf kepada semuanya — dari tim, dari seluruh klub — karena kesalahannya sangat fatal. Kalau saya bisa mengulang waktu, saya akan melakukannya. Saya merasa bersalah. Saya tahu saya mengecewakan mereka hari ini,” kata Karius tak lama setelah pertandingan.

Karius tahu, ada kepercayaan yang gagal ia bayar dengan lunas. Maka ketika perasaan sedih, kesal, dan kecewa itu berkecamuk di pikiran, ia hanya bisa menangis.

***

Dalam Bahasa Inggris, ada kata fallible yang menurut Cambridge Dictionary berarti able or likely to make mistakes. Kata fallible yang merupakan kata sifat lalu bisa berubah menjadi kata benda, fallibilty. Di sini, Cambridge Dictionary memberi contoh the play deals with the fallibilty of human nature.

Dari contoh itu, kiranya kita bisa melihat bahwa falibilitas atau kecenderungan untuk membuat kesalahan, sejatinya adalah sifat alami dalam diri manusia. Sayangnya, kita seringnya tidak tahu, kapan sifat alamiah berupa falibilitas itu muncul.

Sialnya bagi Karius sifat falibilitas itu muncul saat ia tengah berada di Final Liga Champions, panggung yang justru sama sekali tak mengizinkan kesalahan terjadi. Tidak tanggung-tanggung, dua kesalahan dibuatnya sekaligus!

Kesalahan pertama dibuat Karius saat hendak melempar bola ke rekan setimnya. Alur bola itu lalu dipotong oleh Striker Real Madrid, Karim Benzema yang berada dekat dengan Karius. Bola lalu menggelinding masuk jala gawang Liverpool. Gol. 1-0 untuk Real Madrid.

Setelah Sadio Mane mencetak gol penyeimbang, Liverpool kembali tertinggal lewat gol salto Gareth Bale. Namun gol itu tak menyurutkan semangat Liverpool. Sayang, sedang semangat-semangatnya mengejar ketinggalan, Karius kembali membuat kesalahan.

Pemuda Jerman ini salah mengantisipasi tendangan keras Gareth Bale dari luar kotak penalti. Bola yang memantul, kemudian masuk ke dalam gawang. Gol. 3-1 untuk Real Madrid. Bek Liverpool, Dejan Lovren tesungkur lesu, menutup wajahnya dengan tangan.

Pertandingan memang masih menyisakan tujuh menit. Suporter Liverpool terus menyanyikan anthem kebanggaan mereka You’ll Never Walk Alone, berharap Miracle of Istanbul  pada 2005 terulang di Kiev. Para pemain Liverpool pun terus mencari-cari gol. Mereka berusaha di antara himpitan harapan dan kenyataan.

Sayangnya, kali ini kenyataan menang. Harapan Liverpool untuk menyamakan kedudukan dan juara, pupus.

***

Kekalahan memerlukan kambing hitam. Kali ini, yang menjadi kambing hitam adalah Karius. Maka caci maki dan cemoohan pun diarahkan kepadanya. Oliver Kahn menyebut kesalahan Karius sangat berat. Paul Scholes menilai kualitas Karius belum cocok untuk Liverpool.

Bahkan tak main-main, ada segelintir fans Liverpool yang bahkan mengancam keselamatan Karius. Kepolisian Merseyside pun tidak tinggal diam dan menganggap serius ancaman tersebut.

Falibilitas Karius dianggap fatal setidaknya karena dua hal. Pertama, dia membuat kesalahan itu berbuah gol dan terjadi di pentas Final Liga Champions. Kedua, Karius adalah seorang kiper.

Almarhum Mantan Pelatih Timnas Wales, Garry Speed pernah berkata, “Setiap orang membuat kesalahan, tetapi ketika kiper yang membuatnya, akibatnya sungguh fatal. Tetapi itulah alamiah seorang kiper,”

Kesalahan yang dibuat Karius mengamini perkataan Speed. Posisi kiper dan pemain belakang adalah posisi yang paling penting tetapi di saat bersamaan posisi paling rapuh di sepak bola. “Attack wins you games, defence wins you title,”  kata Manajer Legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson.

Jika penyerang atau gelandang membuat kesalahan, akibat kesalahan itu mungkin tidak akan sefatal jika kesalahan dibuat pemain belakang dan kiper. Tetapi jika pemain belakang dan kiper yang membuat kesalahan, kemungkinan besar akan terjadi gol. “Menjadi striker adalah pilihan terbaik. Jika Anda gagal di lima peluang, lalu Anda mencetak satu gol kemenangan, Anda adalah pahlawan. Sebaliknya bagi kiper, Anda bisa bermain brilian dalam satu pertandingan, tetapi jika Anda membiarkan sekali saja kebobolan, Anda adalah penjahatnya,” kata Legenda Liverpool, Ian Rush. Rush adalah seorang striker.

Sayangnya, orang justru tak menghargai kiper atau pemain belakang, seperti mereka menghargai gelandang atau pemain depan. Tengok saja daftar pemenang Ballon d’Or atau Pemain Terbaik FIFA yang mayoritas diisi gelandang dan pemain depan.

Hanya Franz Beckenbauer dan Fabio Cannavaro, bek yang mendapat penghargaan pemain terbaik dunia. Kiper? Sejauh ini cuma Lev Yashin yang pernah meraihnya.

***

Di antara cerita kiper yang membuat kesalahan, cerita Moacir Barbosa bisa jadi yang paling menyedihkan. Moacir dikutuk menjadi kambing hitam seumur hidupnya atas kekalahan timnas Brasil atas timnas Uruguay di Final Piala Dunia 1950.

Kala itu, Piala Dunia dihelat di Brasil. Sebagai tuan rumah, hasrat untuk juara sangat menggebu dalam diri masyarakat Brasil. Apalagi setahun sebelumnya, mereka berhasil menjuarai Copa America.

Selecao –julukan timnas Brasil- pun melalui Piala Dunia dengan mulus. Dipimpin pemain legendaris, Zizinho, Brasil akhirnya melenggang ke partai final dan bertemu Uruguay di Stadion Maracana, Rio de Janiero. Publik Brasil yakin tim pujaan mereka akan meraih trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Beberapa koran di Brasil sudah memprediksi kalau timnas mereka akan menang. Walikota Rio de Janeiro berujar bahwa beberapa jam lagi para pemain akan menjadi juara dunia. Bahkan, medali emas dengan ukiran nama-nama pemain timnas Brasil sudah dibuat.

Harapan itu seolah-olah bakal terwujud ketika Friaca membuat timnas Brasil unggul pada menit 47. Namun Uruguay ternyata menyamakan kedudukan pada menit 66 berkat gol Juan Alberto Schiaffino.

Pada menit ke-79, mimpi buruk publik Brasil khususnya Moacir datang. Alchides Gigghia melesatkan tendangan yang salah diantisipasi Moacir. Uruguay unggul 2-1 sampai pertandingan berakhir. Uruguay juara dunia, mendiamkan sekitar 210 ribu penonton di Maracana.

Yang dijadikan kambing hitam kala itu adalah Moacir. Publik Brasil benar-benar tak memberi ruang maaf baginya. Di jalan-jalan, Moacir menerima pelecehan rasialis. Rumahnya bahkan sempat diancam akan dibakar.

Di antara yang paling menyedihkan bagi Moacir terjadi 20 tahun selepas tragedi Maracana. Di sebuah supermarket,  seorang ibu menunjukkan tangan ke arah Moacir, sembari berkata kepada anaknya. “Lihat nak, dia adalah orang yang membuat seluruh rakyat Brasil menangis,”

Pada 1994 atau 44 tahun setelah peristiwa di Maracana itu terjadi, Mario Zagallo bahkan melarang Moacir bertemu para pemain Brasil. Alasannya? Zagallo takut kesialan Moacir menular kepada timnya. Publik Brasil bahkan mengaitkan tragedi Maracana dengan kulit hitam Moacir.

Sejak saat itu, Brasil jarang memanggil kiper kulit hitam. Seingat saya, hanya Dida mungkin yang mendapat pengecualian.

Moacir meninggal pada 7 April 2000. Sebelum meninggal, Moacir mempertanyakan kenapa hukuman publik Brasil begitu keras kepada dirinya. “Di Brasil, hukuman penjara maksimal 30 tahun. Tetapi hukuman saya ternyata berlangsung 50 tahun,”

“Sembari berlinang air mata, dia menangis di atas bahu saya. Sampai akhir, dia selalu mengatakan, saya tak bersalah. Ada 11 pemain di sana,” kata seorang teman Moacir

***

Orang bilang, sejarah mengulang dirinya sendiri. Tetapi untuk kali ini, rasanya publik khususnya fans Liverpool, tak perlu mengulang tragedi Moacir kepada Karius. Karena seperti komentator televisi yang mengomentari blunder Karius, “Whatever mistakes you make in football, its never intentional.”

Kesalahan ada untuk diperbaiki.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s