130 Kilometer Mohamed Salah

Konon katanya, semakin tua, daya imajinasi manusia kian terkikis dan ia semakin realistis. Atas nama kebutuhan, untung-rugi dan wani piro menjadi prinsip dan basis bagi hampir segala pertimbangan. Kehidupan pun semakin banal dan kita gagal melihat sesuatu  lebih dari sekadar hal-hal yang materialistis.

Maka kita pun heran, melihat ada orang seperti Butet Manurung, yang tanpa pamrih membangun Sokola Rimba bagi suku Anak Dalam di Jambi. Atau, ada orang seperti Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang tak pernah meminta imbalan jika diundang dan hanya berprinsip In lam takun ‘alayya ghodlobun fala ubali (Asalkan Engkau tak marah kepada ku wahai Tuhan, maka kuterima apa saja nasibku di dunia: bahagia atau derita, dijunjung atau dibanting, nyaman atau sengsara, hidup atau mati, ada atau tiada) dalam menjalani hidupnya.

Juga jangan heran, ketika kita pun hanya menganggap sepele anak-anak yang bermain sepak bola di lapangan bulutangkis dengan bola plastik dan gawang seadanya. Kita menganggap mereka sekadar sedang bermain biasa, menghabiskan waktu, atau malah menambah pekerjaan kita karena baju-bajunya yang kotor. Padahal, di dalam benak mereka, imajinasi sedang berkembang, blue print masa depan mereka sedang dicetak. Dengan membayangkan sosok pemain idola: Zinedine Zidane, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo atau siapapun, mereka berkata dalam benaknya: Saya ingin menjadi pesepakbola. Dan pada saat itu, mereka membutuhkan bantuan kita mewujudkan mimpinya.

Namun karena kedangkalan, prinsip untung-rugi dan wani piro  yang telah merasuk dalam diri, kita patahkan mimpi mereka. Kita paksa arahkan mereka untuk mengikuti kemauan kita dengan dalil ‘untuk kebaikan mereka’ atau ‘supaya mereka tidak susah nantinya’. Padahal mungkin sesungguhnya bukan itu tujuannya. Kita arahkan mereka menjadi seseorang yang bukan mereka, supaya nama baik, gengsi keluarga dan status sosial kita terjaga, supaya kita bisa menepuk dada di antara teman-teman bahwa kita telah membesarkan anak-anak kita dengan sukses. Atau dalam bahasa Cak Nun, kita jadikan mereka batu pijakan di bawah kaki nafsu egosentrisme kita. Kita gagal mengendus bakat dan kemauan kerasnya.

Kerelaan Orangtua

Mohamed Salah beruntung, orangtuanya tidak termasuk kategori itu. Bagi Salah, sepak bola menjadi satu-satunya hal yang ia pikirkan, bahkan sepak bola menjadi alasannya untuk bersekolah.

Salah berasal dari Nagrig, 130 kilometer ke utara dari ibukota Mesir, Kairo. Tak seperti Kairo dan Alexandria yang merupakan kota besar, Nagrig hanya kampung kecil dengan mayoritas penduduknya hidup sebagai petani. Jumlah penduduknya pun hanya sekitar 15 ribu jiwa. Bangunan-bangungan di Nagrig mayoritas tak sampai empat lantai. Jalan-jalannya juga masih banyak yang tidak diaspal.

Di kampung kecil itu, anak-anak terbiasa bermain sepak bola dengan telanjang kaki di atas lapangan berdebu dan gawang tanpa jaring. Di sana, mereka, termasuk Salah kecil, bermain sembari membayangkan pemain-pemain idola mereka. “Ketika kecil, Francesco Totti adalah idola saya,” kata Salah.

Salah kecil  tak pernah membayangkan bisa bermain di Eropa. Pada mulanya, ia bahkan menganggap sepak bola hanya sekadar permainan. Sampai pada suatu saat, seorang pemandu bakat mengendus kemampuan Salah dan membawanya ke klub El Mowkaloon di Kairo. Ketika itu, usia Salah baru 14 tahun dan ketika itu pula, Salah harus bolak-balik Nagrig-Kairo untuk mengejar mimpinya.

Setiap hari, dia bersepeda dulu sekitar satu kilometer ke kota dekat Nagrig, Basyoun. Dari sana, dia masih harus pergi lagi ke kota yang lebih besar, Tanta, sebelum tiba di Kairo dan naik bus ke markas klub. “Empat jam berkomuter, dia ulang setiap hari,” tulis Jahd Khalil, wartawan The National yang menulis soal Salah.

“Empat jam perjalanan dari El-Mokawloon ke rumahnya adalah perjalanan panjang yang melelahkan. Namun saya hanya melakukannya sekali, sementara Salah muda melakukannya setiap hari, pulang-pergi, hanya agar dia bisa tetap bersama keluarga dan orang-orang terpenting di hidupnya,” tulis Abdel Fattah Faraj, dan Asharq Al-Awsa, dua wartawan Arab News yang me-napaktilasi perjalanan Salah.

Salah sendiri mengakui, orangtuanya agak berat membiarkannya bermain sepak bola. Bukan apa-apa, selain bermimpi anaknya mengejar karier yang lebih menjanjikan, sepak bola membuat Salah beraktivitas lebih keras dari biasanya.

“Itu sangat sulit bagi mereka. Saya dulu harus meninggalkan rumah pagi hari dan kembali malam sekali. Saya dipaksa berganti bus sebanyak lima kali untuk mencapai klub saya,” kata Salah.

“Lima hari seminggu, setiap minggu selama tiga atau empat tahun, saya melakukan perjalanan ini. Saya berangkat jam sembilan pagi, lalu tiba di markas latihan jam dua atau setengah tiga siang. Latihan dimulai jam setengah empat. Saya akan selesai jam enam sore, pulang dan tiba di rumah jam 10 atau 11:30 malam. Kemudian saya makan, tidur, dan mengulangi perjalanan yang sama keesokan harinya,” kata Salah.

Butterfly Effect Bernama El Mowkaloon

Ada teori yang terkenal disebut Butterfly Effect. Sebuah teori, yang mengatakan satu kejadian tak peduli betapa kecilnya, dapat mengubah perjalanan alam semesta. Satu kepak sayap kupu-kupu di hutan Amazon, bisa menimbulkan tornado di benua Eropa. Demikian tulis Neil Goldman dalam novelnya, Good Omens.

Bagi Salah, Butterfly Effect itu terjadi di El Mowkaloon lewat keputusan pelatihnya. “Ketika saya berada di sana, pelatih mengatakan kepada saya bahwa saya akan masuk tim utama. Bagi saya itu luar biasa. Saya ketika itu baru berusia 16 tahun!” katanya. Keputusan pelatihnya telah mengubah karier Salah sebagai pesepakbola.

Salah tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dua musim di tim utama, Salah mencetak sembilan gol dari 41 kali pertandingan. Ia pun masuk ke dalam tim nasional Mesir U-23. Bersama timnas Mesir U-23, Salah bertanding melawan klub Swiss, FC Basel dalam laga persahabatan pada 16 Maret 2012, demi memperingati tragedi Port Said Stadium, di mana 74 orang meninggal dalam kerusuhan di pertandingan antara Al Ahly melawan Al Masry.

Dalam pertandingan melawan Basel, Salah masuk sebagai pemain pengganti. Namun Basel sudah terlanjur kepincut setelah Salah mencetak dua gol. Timnas Mesir U-23 menang 4-3 asal Basel.

“Klub Basel menemukan di babak kedua, pemain pengganti Mohamed Salah, yang akan berlatih bersama klub di beberapa hari kedepan. Salah menunjukkan penampilan luar biasa, dia tahu bagaimana mengeksploitasi kesempatan yang dia punya. Dia mencetak satu gol, 1-2 dan saat 2-4,” tulis Basel di situs resmi klub.

Salah bermain bagi Basel dari 2012 hingga 2014 dan sukses mempersembahkan satu trofi juara Liga Swiss. Kecepatan dan kelincahan Salah ternyata terendus Chelsea yang memboyongnya pada Januari 2014. Sayang, Salah kurang mengilap bersama The Blues dan dipinjamkan ke Fiorentina.

Rencana Tuhan memang indah, begitu kata orang bijak. Kegagalannya bersama Chelsea ternyata membuat Salah justru bisa bermain bersama idolanya di AS Roma, Francesco Totti. Meskipun, ia lebih dulu harus berkostum Fiorentina. “Saya belajar banyak darinya. Saya bangga bisa bermain bersama salah satu idola masa kecil saya,” kata Salah.

Kebanggaan Salah, dibalas Totti dengan pujian. “Dia salah satu yang terbaik di dunia. Saya pikir, dia akan lebih baik,” kata Totti.

Salah sendiri mengaku tak pernah bermimpi bisa bermain di Eropa. Baginya, saat itu target realistis adalah bermain di level atas sepak bola Mesir. “Saya ingin bermain di level atas di Mesir. Tetapi Eropa… Saya tidak mengira. Namun ketika saya berada di level atas Mesir, saya bertanya kepada diri saya, mengapa saya tidak bermain di Eropa? Saya seharusnya bermain di sana. Ketika saya di Basel, saya mengatakan kepada diri saya, ayo bermain di klub yang lebih besar,” kata Salah.

Dan Kemudian Liverpool

“Liverpool selalu membuat saya berani. Ini adalah kota yang yang tak pernah mengkritisi seseorang yang berani mengambil kesempatan,” kata Aktor asal Liverpool, David Morrisey.

Salah mungkin tak mengenal David Morissey, tetapi ucapan Morrisey itu kiranya tepat menggambarkan langkah Salah yang bergabung ke Liverpool pada awal musim 2017/18. Salah tak kapok merumput di Inggris dan mengambil kesempatan bermain bagi Liverpool. Fans Liverpool pun tak skeptis saat timnya memboyong Salah dari AS Roma. Meskipun, Salah pernah gagal bersama Chelsea.

There is always a second chance, begitu kata pepatah. Dan Liverpool benar-benar menyediakan itu bagi Salah. Di bawah asuhan Jurgen Klopp, Salah memanfaatkan kesempatan kedua itu dengan baik. Bermain sebanyak 44 kali, Salah membukukan 39 gol. Salah juga menyamai rekor delapan gol milik legenda Barcelona, Samuel Eto’o sebagai pemain Afrika dengan gol terbanyak di Liga Champions.

Di luar lapangan, performa Salah membuat fans Liverpool membuat chants  berjudul I’ll be Muslim too.  Chants  itu berlirik If he’s good enough for you, he’s good enough for me. If he scores another few, then I’ll be Muslim, too.”  Sitting in the mosque, that’s where I wanna be! “Mo Salah-la-la-la, la-la-la-la-la-la-la.”

Hajj Mohamed El Bahsani punya pendapat sendiri mengenai Mo Salah’s effect  terhadap fans Liverpool “Salah mengajarkan Eropa bahwa Islam mendorong rasa ramah dan ketekunan dalam segala hal yang kami lakukan. Suksesnya bukan kebetulan, karena sukses membutuhkan kerja keras,” kata El Bahsani, pria yang mengurusi yayasan amal milik Salah di Nagrig. Ia sendiri mengaku menangis terharu saat mengetahui chants  tersebut dan Salah yang  masih memegang teguh identitas keislamannya.

A Hero Can Be Anyone

“Idenya adalah untuk menjadi simbol. Siapapun bisa menjadi Batman,”

“Siapapun bisa menjadi pahlawan, Bahkan dia yang melakukan hal sederhana, seperti menyelimuti bocah laki-laki, dan mengatakan kepadanya, dunia belum berakhir,”

Dua kutipan itu muncul dalam film Batman The Dark Knight Rises  (2012). Diucapkan oleh seorang Bruce Wayne. Inti dari dua kutipan itu kurang lebih sama; siapapun dia, bisa menjadi pahlawan dan Batman tak lebih dari sekadar simbol.

Seperti Batman, Salah sejatinya adalah simbol. Sosoknya yang santun, agamis, dan ramah merepresentasikan wajah Islam yang lain dari yang distigmakan media Barat. Meskipun, Salah bukan tokoh agama atau mereka yang biasa berceramah di masjid.

Dan karena Salah adalah simbol. Siapapun bisa menjadi seperti dirinya, dari anak-anak di Nagrig, atau malah anak-anak kita sendiri. Maka ketimbang menyerimpung kaki juang mereka, memaksa mereka menjadi seperti yang kita mau, akan lebih baik jika kita (seperti yang dikatakan Cak Nun) kawal mereka dengan kasih sayang dan doa. Kita lepas dan merdekakan mereka dari pendapat dan kemauan kita, kecuali sesekali mereka meminta pertimbangan dan diskusi agar waspada. Kita tunggu mereka dengan rasa rindu, jika ruh kita ditakdirkan pulang lebih dulu ke hadapan-Nya, sembari menegosiasikan permafaan kepada Tuhan, atas satu dua kekhilafan mereka.

Ada satu cerita unik saat orangtua Salah akhirnya merelakan anaknya untuk mengejar mimpi menjadi pesepakbola. Salah Ghaly, ayah Salah harus bernegosiasi dulu dengan istrinya soal nasib Salah. Seperti lumrahnya orangtua, Ghaly dan istrinya ingin Salah mengejar karier yang lebih menjanjikan. Sebuah hal yang bisa dimengerti jika melihat latar belakang keluarga Salah yang begitu sederhana, dan Nagrig yang begitu terpencil.

Namun melihat pengorbanan anaknya itu, mereka akhirnya merelakan Salah mengejar mimpi menjadi pesepakbola. “Kami menyerahkan semua kepada Tuhan dan menjaganya tetap di sepak bola,” kata Salah Ghaly, ayah Mohamed Salah.

Bukankah orangtua seharusnya seperti itu?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s