Derai-derai Cemara di Stadion Emirates

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Di atas adalah puisi karya Chairil Anwar. Konon katanya, puisi ini ditulis Chairil saat ia terbaring sakit dan beberapa bulan sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Chairil meninggal 28 April 1949 di usia 26 tahun.

Derai-derai Cemara bercerita tentang si aku yang mulai merasa terasing dari kehidupannya. Si aku, yang diceritakan Chairil, merasa segala yang ada di kehidupannya mulai berubah seiriing pertambahan waktu dan usia. Sayangnya, perubahan itu bukanlah yang si aku harapkan. Si aku merasa, hari-hari yang pada awalnya terasa indah, berubah menjadi muram.

Kata-kata jauh, malam, merapuh di bait pertama menyiratkan perubahan itu.  Daun cemara yang semula dekat ternyata mulai menderai menjauh. Hari yang semula siang penuh cahaya, berubah menjadi malam yang gelap. Dahan yang tadinya kokoh, kini merapuh hanya karena disapu angin. Chairil memanfaatkan latar alam untuk menggambarkan perasaan si aku yang merasa dunianya mulai berubah.

Di bait kedua, kita bisa melihat usaha si aku yang mencoba bertahan terhadap perubahan itu. Ia merasa bahwa ia bukanlah yang dulu. Di saat yang bersamaan, si aku pun merasa, nilai-nilai yang ia pegang dahulu, tak bisa lagi menjadi dasar yang ia pegang untuk berkompromi dengan perubahan keadaan. Keadaan telah berubah drastis, melampaui apa yang ia perkirakan.

Pada bait ketiga, kita bisa merasa, si aku mulai menyerah pada keadaan. Ia mulai berpandangan bahwa pada hakikatnya hidup hanyalah soal menunda kekalahan. Sebuah kekalahan yang pasti hadir, suka atau tidak kita suka. Pada akhirnya si aku pun semakin terasing dari hal-hal yang ia suka; cinta dan sekolah rendah. Sehingga, tak ada pilihan lain bagi si aku selain menyerah.

Puisi ini boleh dibilang ‘lawan’ dari puisi Chairil yang berjudul Aku. Puisi Aku diciptakan pada 143, sementara puisi Derai-derai Cemara diciptakan pada 1949. Di puisi Aku, Chairil menunjukkan tekadnya untuk melawan semua keadaan. Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang. Ia bahkan meminta orang-orang untuk tak mengasihaninya. Kalau sampai waktuku/‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu/Tidak juga kau/Tak perlu sedu sedan itu. Puncaknya, Chairil dengan lantang menulis pada bait terakhir, Dan aku akan lebih tidak perduli/Aku mau hidup seribu tahun lagi. Sayangnya bagi Chairil, tekad hanya sekadar tekad. Pada akhirnya, ia pun harus menyerah. Pada kehidupan. Pada keadaan.

***

Jumat 2 Maret 2018 dinihari WIB

Salju turun perlahan di Emirates Stadium, markas Arsenal. Banyak bangku penonton terlihat kosong. Lambang meriam, yang biasa tertutup oleh kerumunan penonton, pun terlihat jelas. Di atas lapangan hijau, tuan rumah sedang meladeni kunjungan kandidat juara Liga Inggris musim ini, Manchester City. Seharusnya, ini jadi laga balas dendam setelah beberapa hari sebelumnya, tim tuan rumah kalah 0-3 dari Manchester City dalam final Piala Liga di Stadion Wembley. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Arsenal kembali kalah 0-3.

Seusai laga, suporter Arsenal mencemooh pemainnya sendiri. Mereka menganggap para pemain yang ada, tak pantas membela Arsenal. Namun dibanding para pemain, semua mata tertuju kepada sang Manajer, Arsene Wenger. Sosok yang dulu begitu dihormati karena berjasa mempersembahkan trofi emas Liga Inggris, kini menjadi pesakitan. Malam itu, bagi Wenger dan pemainnya, tatapan dingin dan cemoohan para penonton jauh lebih menusuk tulang daripada udara dan salju yang turun.

Kekalahan melawan Manchester City malam itu seolah menjadi titik puncak kekesalan kepada Wenger. Manajer yang telah 22 tahun berada di Arsenal tersebut, dianggap sudah tak mampu mendongkrak prestasi klub yang stagnan sejak terakhir kali menjuarai Liga Inggris pada 2003/04. Sejak saat itu, Arsenal hanya berusaha finis di empat besar sembari meraih beberapa trofi minor seperti Piala FA dan Community Shield. Wenger ball yang dulu dipuja-puji sebagai salah satu permainan sepak bola terindah di dunia, kini tak lebih dari permainan usang. Wenger yang dulu dikenal lihai mencium bakat muda dan mengorbitkannya menjadi pemain bintang, kini justru dianggap lebih pandai menurunkan kemampuan pemain karena taktiknya yang itu-itu saja.

dulu memang ada suatu bahan /yang bukan dasar perhitungan kini

Keadaan menjadi semakin tragis bagi Wenger tatkala para pemainnya dikabarkan berkumpul membahas nasib klub. Ironisnya, pertemuan itu berlangsung tanpa sepengetahuan dan dihadiri Wenger. Para pemain Arsenal disebut sudah mulai tak yakin dengan sosok Wenger. Manajemen Arsenal pun kabarnya sudah mulai mempertimbangkan mencari pengganti Wenger di akhir musim. Suara-suara yang meminta manajer asal Prancis itu untuk mundur juga menggaung keras. Salah satu yang turut menyeru Wenger untuk mundur adalah Peter Hill Wood, mantan direktur Arsenal yang dulu mendatangkan Wenger ke  Arsenal.

Hidup hanya menunda kekalahan/ tambah terasing dari cinta sekolah rendah/ dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah

Wenger semakin terpojok. Ia mau tak mau, harus menyerah(?)

***

Dalam membaca sebuah karya sastra, ada kecenderungan pembaca untuk mengasosiasikan si aku dalam karya, dengan pengarang karyanya. Namun sesungguhnya, si aku dalam karya sastra, bisa menjelma siapa saja. Ia bisa teman, ia bisa orang lain, bahkan ia bisa menjadi si pembaca itu sendiri. Itulah mengapa, terkadang kita bisa merasakan apa yang dialami oleh si aku dalam karya tersebut. Kita merasa, si aku dalam karya sastra itu adalah diri kita sendiri.

Saat ini, ketika membaca puisi Derai-derai Cemara, bukanlah Chairil yang saya ingat melainkan sosok manajer berusia 68 tahun yang saat ini melatih Arsenal. Ya, saya teringat sosok Arsene Wenger.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s