Jakarta Dalam Sebuah Gerbong Kereta

(Kereta komuter melesat, meninggalkan Jakarta menuju Bogor. Di setiap gerbong, penumpang berdesakkan. Ini jam 16:30, yang berarti waktunya pulang bagi para pekerja di Jakarta)

Perlahan, Amri mengangkat tangan kananya dari himpitan badan penumpang lain. Ia ingin mengelap keringat yang menetes dari dahinya. Sesekali, Amri mendengar penumpang lain menghembuskan nafas panjang. “Fyuuh,” hembus salah satu penumpang.

Meski berada di kereta commuter line AC, padatnya penumpang membuat AC dan kipas angin seperti hati nurani para koruptor; ada, tapi tak ada gunanya!

Kereta masih melaju, mata Amri menerawang ke hampir setiap sudut gerbong yang ia tumpangi, melihat beragam wajah penumpang. Ada yang menampilkan rona kelelahan. Ada juga yang terlihat menutup wajah dengan saputangan, merasa bau keringat orang di sebelahnya, begitu mengganggu.

Memandangi wajah-wajah mereka, Amri teringat dua paragraf pembuka dalam cerita pendek (cerpen) Kota-Harmoni di buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karangan Idrus yang baru selesai ia baca kemarin. Cerpen itu berlatar kehidupan Jakarta sekitar tahun 1945 dan buku Idrus sendiri terbit sekitar tahun 1948.

“Trem penuh sesak dengan orang, keranjang-keranjang, tong-tong kosong dan berisi, kambing dan ayam. Hari panas dan orang dan binatang keringatan. Trem bau keringat dan terasi. Ambang jendela penuh dengan air ludah dan air sirih, kemerah-merahan seperti buah tomat,”

“Dalam trem susah bernapas. Tapi orang merokok juga, menghilang bau keringat dan terasi. Seorang perempuan muda, Belanda-Indo, mengambil sapu tangan, kecil sebagai daun pembungkus lemper, dihirupnya udara di sapu tangannya, lalu katanya ‘Siapa lagi yang membawa terasi ke atas trem. Tidak tahu aturan, ini kan kelas satu,”

Jakarta telah dibangun. Tak ada lagi trem. Tak ada lagi cerita ayam naik komuter atau nenek-nenek makan sirih di transjakarta atau komuter. Gedung-gedung mewabah seperti jamur di musim hujan. Dan rumah penduduk digusur dengan dalih pembangunan. Namun toh, pikir Amri, ada satu hal yang tak berubah dari kota ini: kepadatannya.

(Kereta sampai di Stasiun Manggarai. Meski sudah penuh sesak, ada juga penumpang yang bersikukuh masuk. “Kasih yang turun dulu bu,” kata salah satu penumpang. “Aduh, jangan dorong-dorong dong mas. Sudah penuh nih,” kata penumpang lainnya. Sementara, dari pengeras suara, pembantu masinis berkata: sebentar lagi pintu kereta akan ditutup. Bagi penumpang diharapkan tidak memaksa masuk)

Paradoks, pikir Amri. Di satu sisi, kita begitu membenci kota ini karena kemacetan, kesemberonoan orang-orangnya, juga karena kemampuan luar biasa kota ini mengikis kesabaran diri kita. Akan tetapi di sisi lain, makin banyak orang berduyun-duyun datang ke Jakarta. Saat makan siang di kantor, Amri terkejut oleh penjaga warteg yang wajahnya tak ia kenal. “Baru ya mba?” tanya Amri. “Iya mas, diajak mba saya. Sekalian kalau bisa cari kerja lain,” jawabnya.

Ah ya, jawabannya tentu saja karena uang. Bukankah upah Jakarta adalah yang tertinggi di Jakarta, sekitar Rp 3,6 juta. Jumlah itu sekitar satu juta lebih tinggi dari kota yang pekan lalu didatangi Amri saat dinas luar kota. Uang, kata Amri, memang tidak bisa membeli ketenangan yang mungkin didapat jika kita tinggal di kota lain yang lebih kecil dan jauh dari Jakarta. Tapi dengan uang lah kita membayar KPR, tagihan listrik dan keperluan rumah tangga. Maka persetan dengan ketenangan. Memang bisa hidup tenang jika cicilan motor dan KPR tak terbayar?

Hp dalam saku celana Amri bergetar. Susah payah, Amri mencoba mengambilnya. Terlihat di layar hp, pesan Whatsapp dari bosnya, “Jangan lupa laporan dinas kemarin. Deadline lusa,” Amir membalas singkat, siap. Hp kembali meluncur ke kantongnya. Selang satu penumpang, seorang laki-laki melirik ke arah Amri. “Sasaran empuk,” kata laki-laki itu.

(Kereta berhenti di stasiun Cawang. Lagi, satu-dua penumpang memaksa masuk. Saat hendak jalan kembali, roda kereta berdecit membuat kereta berguncang. Para penumpang yang berdiri, termasuk Amri, dengan kuat memegang pegangan yang menggelayut di tiang, berjuang agar tidak jatuh. “Astagfirullah,” kata salah satu penumpang. Selain berpegangan, mata Amri juga melihat ke bawah, mencari tempat untuk kakinya berpijak dengan lebih nyaman. Saat hendak kembali menatap ke depan, mata Amri sekilas memandang wanita yang baru naik tadi, yang berdiri sekitar dua meter darinya. Berjilbab, matanya belo, bibirnya tipis, kulitnya putih. Cantik)

Wajah wanita itu mengingatkan Amri pada temannya, Wina, seorang anker (anak kereta) juga. Wina pernah bercerita kalau wanita terkadang lebih memilih naik gerbong umum, daripada gerbong khusus wanita karena di gerbong khusus sana, persaingan mendapatkan tempat duduk lebih keras daripada di gerbong umum. “Sering ada yang ribut sampai jambak-jambakan. Lu lembek, lu diinjek,” kata Wina.

Wanita ini, pikir Amri, sepertinya mengikuti kata Wina: memilih untuk naik gerbong umum. Sukur jika ada pria yang bersedia menawarinya tempat duduk. Atau minimal ia bisa berlindung di belakang tubuh pria yang turun di stasiun yang sama dengannya. Ah, wanita butuh pria. Pun sebaliknya. Kita saling membutuhkan. Saling melengkapi.

Amri sendiri sebetulnya capek, setiap hari, setiap pulang ke kosnya di daerah Depok, harus bergelut dengan padatnya penumpang di kereta. Kata-kata dari sastrawan favoritnya, Seno Gumira Aji Darma sesekali terngiang di kepalanya. “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Amri tak ingin menjadi orang yang dimaksud dalam kata-kata Seno tadi. “Tapi kalau harus pindah ke mana? Ke kampung? Jadi petani? Ah, petani di kampung saja tinggal yang tua-tua. Mereka hidup miskin. Yang muda, pergi ke Jakarta, bekerja. Lahan pertanian disulap menjadi pabrik-pabrik atau jalan tol. Dan Presiden berkata: mengapa lulusan pertanian bekerja di bank, tak jadi petani?” Kalau lulusan Fakultas Kehutanan UGM saja bisa jadi Presiden. Kenapa yang lulusan pertanian harus jadi petani?

Jadi sastrawan? Ah itu lagi. Kalau tak tenar-tenar sekali seperti Seno atau Pramoedya, atau  Tere Liye, atau siapapun, tak ada uangnya. Persetan soal idealisme. Memang makan di warteg bisa bayar pakai idealisme? Amri sebetulnya bisa menulis karena hobi sejak kecil, ia pun pernah membuat buku. Namun jangan ditanya soal penjualannya. Jangankan menembus toko buku besar. Buku yang terjual cuma 10. Satu dibeli ibunya, sembilan lainnya dibeli teman yang telah dibujuk-bujuk Amri untuk membeli.

(Kereta sudah memasuki stasiun Universitas Pancasila. Sebagian besar penumpang sudah turun. Masih satu stasiun lagi sebelum Amri turun di stasiun Pondok Cina. Amri duduk sembari memangku tasnya. Sekedar melepas lelah sebelum turun. Sesekali, ia memandangi wajah wanita berjilbab tadi, yang kali ini juga mendapat tempat duduk. Tak ingin ketahuan, Amri memutuskan lebih baik bermain hp. Naas, hp Amri ternyata raib dari kantong celananya. Ia menduga, si maling mengambil hp saat penumpang berdesak-desakan turun di stasiun Lenteng Agung. Amri pun hanya bisa menepuk jidat. Ia kemalingan. Sementara si wanita berjilbab tadi asyik memainkan hp, bersama temannya)

Jakarta itu keras Amri. Yang lembut itu cinta.

Dan entah di Jakarta, cinta itu apa masih ada?

 

 

 

 

Advertisements

Akhir Pahit Seorang Buffon

Ada dua hal, setidaknya yang manusia tidak bisa memilih. Pertama, manusia tidak bisa memilih dari rahim ibu mana dia ingin dilahirkan. Kedua, manusia tidak bisa memilih, dengan cara apa ia akan berpisah dengan seseorang/sesuatu yang ia cintai.

Milan 13 November 2017

Italia berhadapan dengan Swedia untuk perebutan tiket ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia. Di leg pertama, Italia kalah 0-1 lewat gol pemain pengganti Jakob Johansson. Kekalahan ini membuat Italia harus menang minimal dua gol di leg kedua.

Sadar timnya butuh kemenangan, suporter Italia yang memadati Stadion San Siro sudah menebar psywar sejak sebelum pertandingan dimulai. Siulan nyaring terdengar saat lagu nasional Swedia, Du Gamla Du Fria berkumandang. Tujuannya jelas, mereka ingin para pemain Swedia terintimidasi dan tak konsentrasi saat pertandingan.

Situasi berubah saat Il Canto Degli Italiani, lagu kebangsaan Italia bergema. Di atas lapangan, kiper sekaligus kapten tim, Gianluigi Buffon dan para pemain timnas Italia bernyanyi dengan penuh penghayatan. Leonardo Bonucci sampai mengguncang bahu Ciro Immobile. Mulutnya lantang menyanyikan Il Canto Degli Italiani.

L’Italia chiamo, Italia telah memanggil. Siam pronti alla morte, kami siap berkorban nyawa.

Di atas tribun, puluhan ribu suporter tak ketinggalan ikut bernyanyi. Tangan mereka terangkat ke atas, memegang kertas warna Tri Colore: hijau, putih, merah, bendera nasional Italia. Kecuali suporter timnas Swedia, tak ada mungkin orang Italia di stadion yang tak menyanyikan lagu nasional itu.

Stringiamci a corte, biarkan kami bergabung. Siam pronti alla corte, kami siap berkorban nyawa.

Pertandingan berlangsung, Italia terus menyerang pertahanan Swedia. “Kami tak punya senjata lagi. Kami hanya bertahan dan berharap hasilnya tetap seperti ini. Kami tak bisa berbuat yang lain, mereka sungguh luar biasa,” kata Pelatih Swedia, Jan Andersson.

90 menit waktu normal berakhir, wasit memberikan lima menit waktu tambahan. Menit 94, Italia mendapat tendangan sudut, Buffon maju ke kotak penalti Swedia. San Siro penuh dengan teriakan suporter Italia.

Sepak pojok dieksekusi, kemelut terjadi di kotak penalti. Bernardeschi menendang, bola mengenai pemain Swedia lalu bergulir ke kaki Chiellini. Sayang, Chiellini offside. Di layar televisi, waktu menunjukan angka 5:01. Waktu tambahan habis. Wasit Mateu Lahoz meniupkan peluit akhir pertandingan. Pemain Swedia berlarian gembira ke arah pelatih mereka.

Kontras dengan itu, Beberapa pemain Italia terduduk lesu: Buffon berjalan gontai. Immobile duduk lemas di atas lapangan. Andrea Belotti menangis. Skor pertandingan tetap 0-0. Swedia melenggang ke Piala Dunia 2018 dengan agregat 1-0.

Italia tersingkir.

Dalam wawancara usai pertandingan, Buffon tak bisa menahan air mata. Ia tahu, ia telah mengecewakan seluruh rakyat Italia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mulai dari para petani anggur di Pulau Sisilia, hingga pendayung kano di Venesia.

“Kami gagal di sesuatu yang juga punya arti di level sosial,” kata Buffon.

Bagi Italia, kegagalan ke Piala Dunia adalah aib besar. Italia adalah juara dunia empat kali. Italia adalah salah satu negara sepak bola, penghasil pelatih dan pemain berkualitas. Tempat lahir  taktik legendaris catenaccio. Gudangnya para bek-bek handal dunia.

Maka jangan heran, harian terkemuka Italia, La Gazetta dello Sport melabeli kegagalan ini sebagai sebuah apokalips. Jurnalis Italia, Mina Rzouki menyebut kegagalan ini sebagai tragedi nasional.

Tragisnya, kegagalan ini juga memaksa Buffon untuk mengakhiri kariernya bersama timnas Italia. Semula, Buffon berniat pensiun selepas Piala Dunia 2018. “Saya meminta maaf ternyata pertandingan terakhir saya bersama timnas, bersamaan dengan gagalnya kami ke Piala Dunia. Saya tidak meminta maaf untuk diri saya sendiri, tapi untuk sepak bola Italia,” kata Buffon.

Kegagalan jelas bukan jalan yang tepat untuk melepas Buffon, kiper yang sudah berjasa membawa Italia juara dunia 2006. Kiper yang sejak 1997 terus menjadi andalan timnas Italia. Kiper yang disegani kawan maupun lawan.

Buku sejarah telah mencatat kegemilangan itu, namun buku sejarah juga akan mencatat Buffon adalah kapten saat Italia gagal ke Piala Dunia 2018.

Jika bisa memilih, Buffon tentu tidak ingin perpisahan seperti ini. Sayang, takdir telah memilih cara paling getir untuk Buffon berpisah dari sesuatu yang sangat ia cintai:

Tim nasional Italia.

Salam Perpisahan dari Saya, Pirlo

Mulai dari Gianluigi Buffon hingga Frank Lampard sudah menuliskan salam perpisahan dan tribut mereka pada Andrea Pirlo. Isinya penuh dengan sanjungan pada Pirlo. Namun karena saya bukan mereka, dan Pirlo juga tidak kenal saya, saya punya cara sendiri menuliskan salam perpisahan pada Pirlo, yang pensiun kemarin.

Pirlo sebetulnya bukan pemain yang sangat saya idolakan seperti Zinedine Zidane atau Toni Kroos. Namun saya rasa kejiwaan saya perlu diperiksa, jika sebagai penggemar sepak bola, saya tidak menyebut Pirlo sebagai salah satu gelandang tengah terbaik di dunia.

“Pemain Italia terbaik yang pernah saya lihat,” kata Legenda Barcelona, Xavi Hernandez.

“Saat melihat Pirlo dengan bola di kakinya, saya berpikir, apakah saya benar pemain sepak bola,” kata Genaro Gattuso.

Sebagai gelandang, Pirlo tidak banyak berlari mengejar bola, atau naik-turun ke area pertahanan lawan. Pirlo bermain seolah-olah ia sedang berjalan di taman: santai dan menikmati setiap hijaunya tetumbuhan yang ia lihat.

Namun di situlah keunikan dan keunggulan Pirlo. Ia boleh saja tidak rajin berlari mengejar bola, atau naik-turun membantu serangan tim, namun Pirlo memiliki akurasi operan jarak jauh yang luar biasa. “Picking out passes like NFL quarterback,” tulis kolumnis Guardian, Franco Baldini dalam tulisan berjudul Andrea Pirlo was a rare talent – a winner and dreamer who oozed creative cool.

Satu lagi, Pirlo juga memiliki kelihaian mengeksekusi tendangan bebas. Dalam bukunya, ia mengakui kalau ia belajar dari maestro tendangan bebas asal Brasil, Juninho Pernambucano.

Dan kemampuan inilah yang membuat saya menyukai Pirlo dengan cara saya sendiri.

Setiap bermain play station dan memakai AC Milan, Juventus atau timnas Italia, saya akan selalu memilih Pirlo sebagai eksekutor tendangan bebas. Pirlo adalah salah satu eksekutor favorit saya.

Saya suka caranya mengeksekusi bola dengan sederhana. Ia tidak mengambil ancang-ancang yang wow seperti Cristiano Ronaldo, atau melengkungkan bola dengan sangat curvy seperti David Beckham.

“Pada intinya, bola harus ditendang dari bawah menggunakan tiga jari kaki Anda. Anda harus menjaga kaki Anda selurus mungkin dan kemudian ayunkan dalam satu ayunan pelan. Dengan begitu, bola tidak berputar di udara, melainkan menukik tiba-tiba menuju gawang. Saat itulah bola mulai berputar. Dan singkatnya, ketika itulah maledetta (kutukan) dari saya dimulai,” tulis Pirlo dalam bukunya.

Dalam play station, saya menerjemahkan maledetta Pirlo ke dalam beberapa cara. Jika tendangan bebas diambil dari jarak 16-20 meter saya akan mengarahkan bola sejauh mungkin dari jangkauan kiper, lalu menendang bola dengan menekan tombol kotak dan arah bawah secara bersamaan. Saat bola di udara, Saya akan menekan tombol arah kiri/kanan, agar bola itu melengkung dan berputar.

Cara yang hampir sama akan saya praktekkan apabila tendangan bebas diambil dari jarak 20-24 meter, dan 24-32 meter. Bedanya, pada jarak 20-24 saya tidak menekan tombol arah bawah agar bola melaju kencang. Pada jarak 24-32, arah bawah saya ganti dengan arah atas supaya bola meluncur lebih bertenaga.

Saya memang tidak selalu memakai klub yang ada Pirlo di dalamnya saat bermain play station. Namun saya selalu memilih eksekutor yang punya cara mengambil ancang-ancang sesederhana Pirlo. Dan memakai kaki kanan.

Entah sudah berapa gol tendangan bebas yang saya buat dengan cara ini dan dengan Pirlo sebagai eksekutor. Terakhir kali, saya mencetak gol penyelamat dari kekalahan, dengan memilih Xabi Alonso sebagai eksekutor tendangan bebas.

Kini, Andrea Pirlo telah menyusul Xabi Alonso pensiun. Otomatis, pada game FIFA atau PES edisi selanjutnya, mereka berdua tidak ada. Yah, berkurang deh eksekutor favorit saya.

Grazie Mille Pirlo.

Semarang, 8 November 2017

Narasi Edmond Dantes dalam laga Persija Vs Persib di Solo

the count of monte cristo

Perdebatan soal keputusan wasit menganulir gol striker Persib Bandung Ezechiel N’Douassel ke gawang Persija Jakarta masih berlangsung di media sosial. Ada yang menyinggung soal fair play pemain Persija, ada juga yang hanya memanas-manasi dengan saling lempar ejekan.

Bagi yang belum tahu, pertandingan Persija Vs Persib di Stadion Manahan, Solo, Jumat (3/11/2017) menyisakan kontroversi setelah wasit asal Australia, Shaun Evans menganulir gol N’Douassel. Padahal dari tayangan ulang, bola telah melewati garis dan bahkan menyentuh jala gawang.

Kontroversi belum berhenti sampai di situ. Pertandingan terpaksa dihentikan di menit 83 setelah para pemain Persib dianggap enggan melanjutkan alias walk out. Meskipun, Manajer Persib, Umuh Muchtar membantah timnya enggan melanjutkan pertandingan.

Beragam komentar dan reaksi muncul setelah pertandingan. Dari pihak Persib, mereka telah berencana mengirim surat ke PSSI sebagai bentuk protes. Namun yang menarik adalah pernyataan kiper Persija, Andritany soal gol N’Douassel.

Dalam tulisan di blognya (yang entah kemudian dihapus mungkin), Andritany mengakui kalau gol N’Douassel memang sah. “Sampai saat ini saya, dan Bepe tidak berkata bahwa bola itu tidak goal. Bola itu mutlak goal”, tulis Andritany di blog pribadinya, seperti saya kutip dari bolasport.

“Penjaga gawang bola gol kan?” tanya Ezechiel.

“Gol, tapi wasit mempunyai keputusannya” ucap Andritany kala itu.

Lalu, mengapa Andritany tidak mengatakan pada wasit kalau bola memang masuk saat pertandingan?

***

Membaca pernyataan Andritany, saya jadi teringat cerita Edmond Dantes di dalam film The Count of Monte Cristo yang digarap berdasarkan novel karangan Alexandre Dumas. Diceritakan, Dantes adalah tokoh yang jujur dan lugu, seorang yang noble.

Sayangnya, kejujuran dan keluguan membawa Dantes justru menjadi korban konspirasi. Fernand Mondego, temannya sendiri, mantan kapten kapal Dantes, Danglard, dan Villefort, pejabat di kota Marseille, Prancis bekerjasama menjebak Dantes untuk keuntungan masing-masing.

Ketiganya lalu bekerjasama menuduh Dantes sebagai seorang Bonapartist, simpatisan Napoleon Bonaparte, karena memiliki surat dari Napoleon untuk mata-matanya di Marseille. Tanpa sepengetahuan Dantes, Mondego yang turut berkelana bersama Dantes ke Pulau Elba dan bertemu Napoleon, dan Danglard lalu memberitahu Villefort terkait surat Napoleon pada Dantes.

Lewat interogasi oleh Villefort Dantes dengan kejujurannya memberitahu kalau surat tersebut ditujukan pada Monsieur Clarion, yang tak lain adalah rekan dekat Villefort sendiri. Villefort yang merasa terancam atas surat tersebut kemudian menjebloskan Dantes ke penjara Chateau d’If karena takut surat tersebut akan mengancam posisinya sebagai administrator di kota Marseille.

Konspirasi ketiganya menjatuhkan Dantes berhasil. Villefort tetap aman di posisinya malah kemudian naik jabatan sebagai jaksa di Paris, sementara Mondego mendapatkan Mercedes, kekasih Dantes yang ia idam-idamkan. Danglard? Ia naik menjadi kepala perusahaan pengiriman barang, Morell and Company.

Bahwa kejujuran adalah nilai yang mulia, itu tidak bisa dibantah. Namun apakah kejujuran itu selalu tepat? Bagi Edmond Dantes kejujuran ternyata bukan hal tepat. Karena kejujuran ia justru mendapat petaka. Dantes harus ditahan di penjara Chateau d’If selama enam tahun. Ia kehilangan kekasihnya, Mercedes, juga ayahnya yang bunuh diri setelah tahu Dantes dipenjara.

Pada lakon Persija Vs Persib di Solo, Andritany dan para pemain Persija tidak ingin menjadi Edmond Dantes. Andritany bisa saja berlari ke wasit lalu mengatakan bahwa bola memang telah masuk. Namun jika ia mengatakan hal itu, Persija tertinggal 0-1 dan bisa saja kalah. Meskipun, ia mungkin akan disanjung oleh suporter Persib sebagai pemain yang sportif.

Legenda timnas Jerman, Miroslav Klose pernah mengakui golnya tidak sah saat membela Lazio melawan Napoli. Paolo Di Canio pernah membatalkan golnya sendiri saat membela West Ham di partai melawan Everton karena melihat kiper Everton, Paul Gerrard cedera. Padahal, jika Di Canio tetap ingin gol itu tercipta, West Ham bisa menang. Atas aksinya ini, FIFA menganugerahi Di Canio gelar FIFA Fair Play Award tahun 2000.

Akan tetapi, berharap kisah-kisah serupa selalu terjadi di sepak bola adalah harapan yang naif.  Sepak bola adalah pertarungan dan yang bisa kita harapkan adalah perjuangan diri kita sendiri. Berharap lawan akan  selalu bersikap jujur dan ‘berpihak’ pada kita adalah hal yang sia-sia. Namanya juga lawan, tugasnya adalah mempersulit dan menjadi lawan kita di pertandingan.

Republik Irlandia harus rela gagal lolos ke Piala Dunia 2010 setelah kalah agregat 1-2 dari timnas Prancis. Padahal, gol William Gallas di leg kedua bermula dari handball Thierry Henry. Dalam rekaman ulang, Henry memang terlihat sengaja mengarahkan bola dengan tangannya, dan ia pun mengakui hal tersebut. Henry pun lalu dikecam tak hanya oleh rakyat Irlandia melainkan rakyat Prancis dan beberapa eks pemain timnas Prancis.

Namun, Pelatih Timnas Irlandia kala itu, Giovanni Trapattoni ternyata tidak menyalahkan Henry atau meminta pertarungan ulang. “Saya yakin, FIFA akan berbuat sesuatu terkait insiden handball Henry. Bukan menjadi kewajiban Henry untuk mengakui kalau ia handball,” kata Trapattoni.

Trapattoni paham Henry tidak mungkin mengakui handballnya saat pertandingan. Ia toh bukan pemain timnas Irlandia. Lagipula, Prancis juga membutuhkan kemenangan agar lolos ke Piala Dunia 2010.

Kembali ke film The Count of Monte Cristo, Dantes berhasil kembali menghirup udara bebas setelah enam tahun di Chateau d’If. Lebih dari itu, ia menjadi seorang kaya raya berkat harta karun Spada. Ia menemukan harta karun itu berkat peta dari seorang pendeta, Abbe Faria yang ia temui di penjara Chateau d’If. Abbe Faria pula yang mengajari Dantes membaca, ilmu pengetahuan, dan ilmu pedang.

Berkat bekal harta dan ilmu dari Faria, Dantes berhasil membalaskan dendam pada Villefort, Danglard dan Mondego. Di scene akhir, Dantes semula ingin mengampuni Mondego. Sayang, Mondego yang terbakar amarah dan dendam justru menantang Dantes berduel pedang.

Sebelum mati, Mondego meminta ampun kepada Dantes. Namun Dantes ternyata telah berubah pikiran  dan  berkata: “Saya bukan santo, saya seorang count (bangsawan)” Maksud Dantes jelas, ia bukan santo atau orang suci yang selalu baik dan bebas dari kesalahan, yang dengan begitu saja mengampuni lawannya. Sebaliknya, Dantes ‘hanya’ seorang bangsawan.

Andritany dan para pemain Persija mungkin juga bisa mengucapkan seperti Dantes saat ditanya N’douassel atau fans Persib, mengapa ia tak mengaku kalau bola masuk, ketika pertandingan berlangsung. Andritany bisa menjawab:

“Saya bukan orang suci, saya pemain bola. Pemain Persija. Bukan Persib,”

Dan seperti manusia pada umumnya, pemain bola toh bebas memilih, kapan ia harus jujur, kapan ia harus berbohong.