Ke Mana Angin Kota London Berhembus?

Lewat novel Orlando, Virginia Woolf menggambarkan betapa cepat cuaca di London bisa berubah. “all was light, order, and, serenity…. “No sooner had the words left his lips than the first stroke of midnight sounded. Orlando then for the first time noticed a small cloud gathered behind the dome of St. Paul’s. As the stroke sounded, the cloud increased, and she saw it darken and spread with extraordinary speed.

Alexandre Lacazette mungkin tak pernah membaca novel Orlando yang pertama kali terbit pada 1928. Namun striker Arsenal asal Prancis ini toh mengalami sendiri apa yang dialami Orlando: menghadapi cuaca London yang berubah-ubah.

“Saya harus terbiasa dengan cuaca dari cerah ke hujan hanya dalam beberapa detik saja,” kata Lacazette, yang baru menetap tiga bulan di London.

Seperti cuaca di London yang cepat berubah, seperti itu pula suasana dalam ruang ganti tim sepak bola. Saat meraih kemenangan, tim berada dalam mood yang bagus. Namun jika tim Anda kalah, mood yang semula bagus itu bisa berubah seketika jadi buruk. “Kalah adalah momen yang menyulitkan,” kata Gelandang Manchester United (MU), Marouanne Fellaini.

Manajer Arsenal, Arsene Wenger memang tak bisa menjaga cuaca kota London tetap cerah setiap saat. Namun ia pasti harus bisa menjaga mood pasukannya agar selalu dalam kondisi terbaik. Itulah misi yang dia emban saat bertandang ke Stamford Bridge menantang juara bertahan, Chelsea, Minggu (17/9/2017) untuk melakoni Derby London.

Mood pasukan Arsenal sedang lumayan positif setelah meraih dua kemenangan masing-masing atas Bournemouth (3-0) dan FC Koln di Liga Europa (3-1). Akan tetapi, Chelsea jelas berbeda dari dua tim tersebut.

Kualitas The Blues ada di atas keduanya. Maka di partai inilah sesungguhnya kebangkitan Arsenal akan dibuktikan. Apakah kebangkitan itu semu, atau sejati. Apakah Arsenal hanya bisa menang melawan tim yang kualitasnya di bawah mereka, atau mereka benar-benar bisa menang melawan tim yang kualitasnya setara.

“Chelsea punya tim yang bagus dan selalu sulit untuk meraih kemenangan tandang atas mereka,” kata Wenger.

Sial bagi Arsenal, angin kota London saat ini sedang berhembus ke arah Chelsea. Itu karena skuat asuhan Antonio Conte sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Setelah kalah 1-3 dari Bournemouth di pekan pertama, Chelsea memetik empat kemenangan termasuk melibas Qarabag 6-0 di Liga Champions.

“Bukan hanya permainan bagus di atas lapangan, tapi Chelsea juga punya suasana yang lebih harmonis di ruang ganti,” kata eks Chelsea, Graeme Le Saux.

Yang diacu oleh Le Saux adalah kisruh soal kontrak dua bintang Arsenal, Alexis Sanchez dan Mesut Ozil. Kontrak keduanya belum diperpanjang pihak klub. Padahal, kontrak keduanya akan habis akhir musim ini.

Sanchez kabarnya sempat ingin pindah ke Manchester City karena ingin main di Liga Champions. Sementara Ozil meminta gaji tinggi. Meski keduanya akhirnya bertahan, rumor tak sedap ini tetap bertahan dan mengudara saat Arsenal kalah.

“Dari sudut pandang pemain, itu situasi yang tak enak. Anda hanya ingin fokus latihan, pemulihan, dan bermain di pertandingan berikutnya. Segala gangguan adalah negatif,” kata  Le Saux.

Namun demikian, bukan Wenger namanya jika tak keras kepala. Ia tak peduli dengan anggapan miring terhadap timnya jelang laga ini. Jangankan anggapan miring, desakan suporter agar ia mundur pun tak digubris. Wenger sendiri telah 21 tahun menangani Arsenal.

Wenger seakan menghayati benar ucapan penyair Samuel Johnson yang mengatakan,  ‘When a man is tired of London, he’s tired of life.’ Dalam kamus Wenger, perkataan itu berubah: “Ketika saya menyerah di Arsenal, saya menyerah terhadap hidup saya,”

Karakter keras kepala juga sebetulnya dimiliki Antonio Conte. Yang sedikit membedakan mungkin tampilan dan perlakuan pada pemain di lapangan. Conte tak segan untuk berbicara dan bertindak keras terhadap siapapun yang mengganggu timnya. Lihat caranya menyingkirkan Diego Costa yang dianggapnya tak lagi berguna bagi tim. Lewat sms! Padahal, Costa adalah salah satu tumpuan Chelsea saat diasuh Jose Mourinho.

Wenger dan Antonio Conte sama-sama perantau di Inggris. Bedanya, Wenger berasal dari Strasbourg, kota di timur Prancis, sementara Conte berasal dari Lecce, kota di selatan Italia. Saat kedua manajer keras kepala ini berduel besok, ke mana angin kota London berhembus?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s