Di Setiap Diri Kita Adalah Novel

IMG_20170825_191800_918
Foto penulis favorit dengan penggemarnya

 

Pintu saya buka perlahan. Seketika, hampir semua mata mereka yang ada di ruangan itu tertuju pada saya, termasuk sang pengisi workshop menulis, Ahmad Fuadi. Saya mengangguk pelan, meminta maaf karena datang terlambat dan sedikit mengganggu workshop.

Jumat (25/8/2017) saya berkesempatan mengikuti workshop menulis bersama Ahmad Fuadi, penulis favorit saya. Workshop bertemakan Kiat Menulis dan Menerbitkan Buku itu berlangsung di ruangan Kompasiana, lantai lima gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta Barat. Meski telat, saya beruntung karena workshop belum terlalu lama berlangsung. Workshop dimulai pukul 15:00 sementara saya tiba di ruangan 15:10.

Saat pertama kali mendengarkan Uda Fuadi berbicara, terus terang saya -kalau bahasa anak sekarang- fan girling. “Wah ternyata seperti ini ya, penulis favorit saya kalau bicara. Wah ternyata orangnya begini ya begitu ya, dll.” bisik saya dalam hati.

Di awal sesi, Uda Fuadi memberikan pengantar tentang kriteria menulis yang bagus. Menurut pengarang trilogi Negeri Lima Menara ini, menulis yang bagus adalah menulis yang bisa menggetarkan perasaan orang banyak. Ia juga yakin bahwa setiap orang sejatinya punya cerita dan bisa menulis. “Yang punya cerita bagus banyak, tapi mereka gak nulis,” kata dia.

Di antara sekian sesi dalam workshop tersebut, saya kira sesi proses menulis lah yang paling penting. Di sini, Uda Fuadi tidak bercerita dari segi teknis. Sebab menurut dia, teknis menulis bukanlah bagian yang terpenting. “Teknis itu bisa dikejar,” kata Uda.

Setidaknya ada tiga hal yang menurut Uda Fuadi penting dalam proses menulis ini. Yang pertama adalah niat. Sebagai orang yang ingin menulis, kata Uda, kita harus bisa menemukan alasan kenapa kita ingin menulis. Jika sudah menemukan jawaban yang tepat, stamina menulis kita akan kuat. Sebab, proses menulis, apalagi menulis buku adalah proses yang panjang dan melelahkan. Uda Fuadi bercerita bagaimana ia harus meriset dan mengunjungi kampung halamannya di Maninjau, Sumatra Barat untuk menggali bahan untuk trilogi novelnya. Ketiga buku dari trilogi itu masing-masing membutuhkan waktu rata-rata 2,5  tahun untuk ditulis.

“Kalau sudah tahu reason, baru kita masuk ke pertanyaan kedua yaitu: what,” kata Uda.

Menulis bisa dimulai dari hal-hal yang kita tahu dan cintai. Hal-hal tersebut akan jadi bahan tulisan yang kita tak akan pernah bosan untuk menulisnya. Uda Fuadi mencontohkan trilogi novel Negeri Lima Menara yang ia tulis berdasarkan urutan kisah hidupnya sendiri. Mulai dari cerita kehidupan di pesantren, kuliah di Bandung, hingga akhirnya jadi wartawan Tempo.

Di setiap diri kita adalah novel. Tinggal memilih bagian mana yang harus dibuang, bagian mana yang harus ditulis,” kata Uda Fuadi.

Yang ketiga dari proses menulis baru lah segi teknis. Segi ini, kata Uda Fuadi bisa berbeda bagi tiap-tiap penulis. Uda Fuadi sendiri menggunakan teknik mind maping yang membuatnya punya gambaran jelas mengenai buku yang akan ia tulis. “Jadi kalau saya get lost, saya tinggal lihat lagi map nya,” kata dia. Setelah punya mid map yang jelas, kita bisa menuliskan pointer-pointer yang bisa kita turunkan lagi menjadi paragraf. Saat menjelaskan ini, Uda Fuadi memperlihatkan draft dan point-point yang ia kerjakan dulu sewaktu menulis Negeri Lima Menara.

IMG_20170825_160557
Proses menulis seorang Ahmad Fuadi

Jam sudah menunjukkan pukul 16:15 saat Uda mulai menerangkan soal bagaimana menerbitkan buku. Uda Fuadi mengaku beruntung, bukunya ditemukan penerbit dan bisa laris di pasaran. “Jadi kalau ditanya apa resep untuk jadi best-seller, saya tidak tahu,” kata Uda. Alumni Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini mengakui, jika bukan karena waktu yang tepat, bukunya mungkin tidak akan jadi best-seller dan ia tidak jadi penulis terkenal.

Proses penerbitan buku itu sendiri memakan waktu yang cukup panjang. Mulai dari penyuntingan, hingga masalah seperti pemilihan sampul buku. Uda Fuadi bercerita bagaimana ia memilih dan akhirnya memutuskan gambar untuk sampul buku terbarunya, Anak Rantau. Untuk buku ini, Uda Fuadi menyelenggarakan pemungutan suara via media sosial. Para pengikut akun media sosial Uda Fuadi di @fuadi1 dipersilakan memilih satu di antara dua gambar yang sebelumnya telah dipilih oleh tim. Dari polling itu, terpilihlah gambar anak yang sedang menggendong ransel, menatap bus di depannya yang sedang melaju. Uda bercerita, ia sebetulnya lebih suka gambar pertama, yang menampilkan tas berwarna merah bertuliskan Anak Rantau. “Tapi sebagai penulis, kita tidak bisa egois,” begitu kata dia.

IMG_20170825_161049
Alur menulis sebuah buku oleh Ahmad Fuadi

Idealis Vs Oportunis

Pada sesi terakhir, para peserta dipersilakan bertanya pada Uda Fuadi. Para penanya rata-rata menjelaskan dulu background mereka seperti apa. Di sinilah, saya melihat ternyata para peserta ini hebat-hebat betul. Ada yang sudah menulis buku, pernah membuat novel, namun tak kunjung terbit. Ada juga peserta yang mengaku sudah punya draft novel tentang pencak silat. Luar Biasa. Saya sendiri menanyakan pendapat Uda soal menulis menuruti kata hati atau menulis menurut pasar. Sebab saya berpikir, rata-rata penulis pastinya ingin bukunya dibaca banyak orang, yang berujung pada income yang lumayan.

IMG_20170825_163659
Suasana workshop menulis bersama Ahmad Fuadi

Menurut Uda Fuadi, keduanya bukan hal yang harus terpisah, malah lebih baik disatukan. Saat menulis trilogi Negeri Lima Menara, Uda Fuadi mengaku tidak berpikir bagaimana agar bukunya laku dipasaran. Sebaliknya, ia menulis karena ingin menceritakan kehidupannya yang pernah menyenyam pendidikan di pesantren. “Awalnya saya bahkan ragu bisa menulis novel. Istri saya lalu membelikan banyak buku mengenai teknik bagaimana menulis novel. Ya saya baca satu-satu,” ujar Uda Fuadi. Timing yang tepat, kata Uda, mungkin menjadi penentu bagaimana sebuah buku bisa jadi best-seller atau tidak. Uda mencontohkan bagaimana draft novel pencak silat yang dipunyai salah satu peserta, bisa saja diluncurkan jadi buku saat film Wiro Sableng muncul tahun depan.

Selain timing, Uda Fuadi berpendapat pemilihan sampul buku juga bermain peran dalam keberhasilan sebuah buku. Sebab, sampullah yang akan dilihat oleh para pengunjung toko buku pertama kali, sebelum mereka memutuskan untuk membeli buku. “Kalau sampul Negeri Lima Menara seperti ini, mungkin tidak ada yang beli kali ya,” canda Uda Fuadi sembari memerlihatkan slide tiga sampul awal Negeri Lima Menara. Saya pribadi memang menilai ketiga sampul itu tidak menarik karena lebih mirip buku motivasi atau buku agama ketimbang novel.

Seperti pepatah klasik, waktu jugalah yang memisahkan kita. Workshop penulisan ini akhirnya berakhir saat jam menunjukkan pukul 17:30, lebih panjang 30 menit dari waktu berakhir semula yaitu 17:00. Sebelum menutup workshop,, Uda mengingatkan lagi soal menulis satu halaman per satu hari. Jadi, pada akhir tahun, kami minimal sudah punya 365 halaman tulisan.

“Jadi bisa ya, akhir tahun sudah punya minimal satu buku?” kata Uda pada kami. Mudah-mudahan bisa, entah buku apa yang akan jadi. Kamu mau ikutan juga? Boleh. 🙂

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s