Dua Setan Informasi

Terus terang, saya baru tahu kalau kemarin, Rabu (3/5/2017) itu Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day). Sebagai wartawan junior izinkan saya untuk mengucapkan selamat. Semoga dunia pers Indonesia semakin baik. Seperti kata novelis sekaligus wartawan, Albert Camus: Freedom is nothing, but a chance to be better.

Presiden Joko Widodo dalam pidatonya menyerukan media-media untuk menghentikan berita palsu (hoax) dan ujaran-ujaran kebencian. “Media semestinya meluruskan kalau ada berita-berita yang tidak benar, ada berita-berita bohong, ada hoax, ada ujaran-ujaran yang tidak baik,” kata Jokowi setelah berpidato dalam acara Hari Kebebasan Pers Sedunia 2018, JCC, Jakarta, Rabu (3/5/2017) seperti dikutip dari Detik.com.

Yang dikatakan Presiden tentu benar. Dengan maraknya media sosial dan media online, banjir informasi adalah sebuah keniscayaan. Sayangnya, ada saja oknum-oknum yang memanfaatkan ini untuk menyebar berita palsu. Akibatnya tentu jelas, masyarakat menjadi bingung: mana yang benar, mana yang salah. Maka dari itu, belakangan ini muncul gerakan literasi media (media literacy) untuk menangkal hoax dan mengedukasi masyarakat di tengah bajirnya informasi.

Namun yang tidak kalah penting dari menangkal hoax adalah menyikapi media-media partisan yang sekarang ini ada. Yang saya maksud media partisan adalah media yang jadi tempat penyalur syahwat politik si pemiliknya. Saya tentu tak usah menyebut media mana yang partisan. Biar sadar sendiri, dan masyarakat pun sudah tahu.

Buat saya pribadi, informasi yang disebar oleh media-media partisan tak kalah mengerikan dibanding hoax.  Media jadi corong kampanye politik tokoh tertentu yang dekat atau didukung si pemilik media yang bersangkutan. Padahal Dewan Pers telah mengingatkan para pemilik media untuk tetap menjaga integritas medianya.  Pers tidak boleh menggoyahkan sendiri kebebasan dan independensi sekadar menjadi alat keberpihakan kepentingan politik sesaat (Robertadhiksp.net, Independensi Media dan Pemilu).

Jauh sebelum Dewan Pers berkata demikian, Pramoedya Ananta Toer telah mengingatkan soal independensi lewat pesan tokoh Ter Haar pada Minke dalam novel Jejak Langkah. Pada halaman 370,Ter Haar berkata: Janganlah harian Tuan yang sudah baik itu dipergunakan untuk melampiaskan ambisi-ambisi pribadi. Harian Tuan dan Tuan sendiri sudah jadi milik bangsa Tuan, bangsa Hindia.

Saya harap, Pak Jokowi seperti tokoh Ter Haar, berani mengingatkan rekan-rekannya yang jadi pemilik media. Jangan di satu sisi mengkampanyekan anti hoax, tapi di sisi lain menikmati selingkuhnya pemilik media terhadap prinsip independen pers, karena merasa tak enak, telah terpiih berkat peran media massa (pendukung) #eh.

Sebab selain hoax, media partisan adalah dua setan informasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s