Tentang Tertawa

tertawa

Herman Lantang (Lukman Sardi), Soe Hok Gie (Nicolas Saputra), Deny (Indra Birowo) dalam salah satu scene film Gie (2005)

Jika menangis tak hanya berarti kesedihan mustikah kita mengidentikan tertawa, melulu dengan ekspresi kesenangan?

Gie (Nicholas Saputra) berhenti sejenak di depan pintu pagar rumah Ira (Sita Nursanti). Ia menoleh ke belakang kemudian tertawa. Menghela nafas, lalu tertawa lagi. Menghela nafas dalam-dalam, tertawa, lalu pergi. Gie baru saja ditolak bertemu wanita yang belakangan baru ia sadari, ia cintai.

Itu adalah potongan adegan film Gie garapan sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana. Gie bercerita tentang kehidupan aktivis tahun 60’an, Soe Hok Gie yang juga mahasiswa jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Film itu dibuat berdasarkan buku harian Gie yang diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran.

Dalam film tersebut, Gie memang diceritakan tercebur dalam kubangan kesendirian. Teman-teman yang menemani semasa kuliah, telah pergi menempuh jalan masing-masing. Ira, sahabat sekaligus wanita yang sebetulnya ia cintai menjauh. Gie juga punya banyak musuh lantaran tulisan-tulisannya yang keras mengkritik pemerintah.

Cerita Gie dalam film ini sedikit banyak adalah pengejawantahan dari curhatan Gie pada kakaknya Arief Budiman (Soe Hok Djien). Arief lalu menuliskan cerita ini sebagai pengantar buku Catatan Seorang Demonstran terbitan 1993.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.

Menyimak cerita Gie siapa bisa bilang kalau tertawanya Gie  di pintu pagar rumah Ira karena ia sedang senang? Sebaliknya, tertawa itu adalah sikapnya atas keadaan yang bergerak di luar nalar. Ia menertawakan dirinya sendiri.

Bukankah kita juga terkadang menghadapi keadaan, di mana menangis saja memang tak cukup? Saking tak cukupnya untuk mengekspresikan kesedihan, kebingungan atas keadaan yang terjadi, kita kemudian tertawa. Menertawakan keadaan, menertawakan diri sendiri. Anda pernah melakukannya?

Jika iya, maka selamat. Sebab kemampuan menertawakan diri sendiri ternyata berharga. Setidaknya kita telah lebih dulu tertawa atas kekonyolan nasib kita di saat banyak orang (mungkin) lupa kalau nasibnya juga perlu ditertawakan oleh dirinya sendiri ketimbang sibuk menertawakan nasib orang lain. Kemahiran menertawakan diri sendiri sungguh berharga.

“I laugh because I must not cry, that is all, that is all. ”  kata Abraham Lincoln.

Logan, Perpisahan Manis Wolverine

Sebagai pengagum Hugh Jackman dan Wolverine, pastinya film Logan memang film yang sudah saya nantikan. Saya sudah mengaguminya sejak film X Men yang pertama. Bahkan kalau boleh jujur, saya lebih fokus pada tokoh Wolverine ketimbang tokoh X-Men yang lain.

Dan sekira akhir pekan lalu, saya berkesempatan menonton Logan.

Saya masuk telat dan film sudah mulai. Tapi mudah-mudahan tidak mengurangi pemahaman saya terhadap filmnya yes. Lagipula, saya di sini tidak akan menceritakan jalannya film. Nanti spoiler lagi.

Kalau dari tokoh Wolverinenya, jelas film Logan masuk ke dalam film superhero yang pastinya melibatkan banyak adegan berantem-beranteman.  Namun sepanjang saya menonton filmnya, saya pikir Logan bukan sekedar film superhero. Malah cenderung ke drama. Bagaimana keinginan Professor Xavier memiliki keluarga dan hidup normal, Wolverine yang sudah ditempa dengan berbagai macam mara-bahaya dan perihnya kehidupan, tiba-tiba bertemu Laura, anaknya. Wolverine yang biasa kasar, tiba-tiba harus bersikap seperti bapak terhadap Laura. Ini sempat membuat Wolverine kikuk.

Kiranya saya setuju dengan pendapat Joko Anwar yang dalam twitternya menyebut Logan bukan sekedar film superhero. Film ini bahkan bisa membuat penontonya mengeluarkan air mata lho. Terutama pas adegan…..

Film ini bisa membuat kita berpikir,  how precious our family is.

By the way  sebelum Anda memutuskan untuk membawa serta anak-anak, nanti dulu yes. Soalnya adegan berantem-beranteman di film ini tergolong brutal sih.  Gak sedikit saya lihat penonton yang menutup mata begitu adegan sadis berantem-beranteman muncul.

Terlepas dari adegan family yang cukup membuat kita berpikir, saya juga sedih gak bisa lihat Hugh Jackman jadi Wolverine lagi. Sebab denger-denger sih  ini film terakhirnya dia sebagai Wolverine. Isunya, Shahrukh Khan  bakal jadi pengganti. Are you serious?  Nanti sebelum berantem, Wolverine joget dulu lagi. Hehehe.

Jangan Terlalu Berharap (Pada Media)

“Kambing. Media-media sekarang tuh kaya t*i tau gak sih lo,” maki Emir kesal.

“Jadi kaya kambing apa kaya t*i nih,” sahut Amri menanggapi.

“Kaya t*i kambing juga boleh. Terserah lu,” timpal Emir lagi.

===
Kekesalan yang dialami Emir jamak kita lihat ketika Pemilu. Masyarakat dibuat bingung akan hal itu. Mereka bertanya-tanya, bagaimana mendapatkan informasi yang benar sesungguhnya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita menengok salah satu pandangan yang terkenal dalam dunia teks, Paradigma Kritis.

Mengutip Eriyanto dalam buku Analisis Wacana, paradigma kritis bersumber dari pemikiran sekolah Frankfurt. Dalam paradigma ini, media bukanlah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok dominan.

Paradigma kritis ini kemudian dikembangkan oleh seorang ahli bernama Stuart Hall. Lebih jauh, Hall merumuskan Paradigma Kritis secara lebih tajam. Menurutnya, media adalah pemeran utama dari pertarungan kekuasaan. Media memilih nilai-nilai dan apa yang seharusnya masyarakat terima atau inginkan.

Dalam praktek di lapangan, wartawan sebagai bagian dari lingkup yang lebih besar yakni media, yang diterjunkan untuk meliput suatu peristiwa, akan membangun kembali peristiwa itu dengan angle pemberitaan tertentu. Wartawan membangun suatu peristiwa utuh menjadi sebuah realitas.

Realitas dapat ditandakan secara berbeda pada perstiwa yang sama. Makna yang berbeda dapat dilekatkan pada peristiwa yang sama.

Kesimpulannya, ketika masyarakat melihat suatu berita, itu adalah hasil rekonstruksi yang dibangun oleh sang wartawan yang meliput peristiwa tersebut.

Apakah tindakan wartawan melakukan rekonstruksi atas suatu peristiwa yang terjadi itu salah? Tidak juga. Sebab wartawan juga punya nilai yang dia pegang.

Ambil contoh begini, wartawan yang bersikap apolitis, akan menulis berita soal janji-janji para politisi dengan nada sinis dikarenakan oleh nilai politik t*i kucing yang dia pegang. Lain cerita jika si wartawan menganggap politisi ini punya sesuatu yang menjanjikan atau dia berpihak pada seorang politisi, kemungkinan besar –kalau tak mau ditulis pasti- berita soal politisi itu akan bernada positif atau istilahnya lebih kalemlah.

Lalu pertanyaan lainnya, masih adakah berita atau katakan media yang netral? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama adalah buang jauh-jauh kata netral karena yang ada adalah jujur dan adil.

Robert Scheer dari Los Angeles Times mengatakan, yang lebih penting bukan Apakah Anda bisa netral, tetapi bagaimana Anda (dalam hal ini wartawan) mengerjakan pekerjaan Anda dengan cara yang adil dan jujur.

Koran Washington Post bisa dijadikan acuan terkait sikap adil yaitu:

  • Berita itu tidak adil bila mengabaikan fakta-fakta yang penting. Jadi adil adalah lengkap.
  • Berita itu tidak adil bila dimasukkan informasi yang tidak relevan. Jadi adil adalah relevansi.
  • Berita itu tidak adil bila secara sadar maupun tidak, menggiring pembaca ke arah yang salah atau menipu. Jadi adil adalah jujur.
  • Berita itu tidak adil bila wartawan menyembunyikan prasangka atau emosinya di balik kata-kata halus yang merendahkan. Jadi adil menuntut keterusterangan.

Lantas kembali ke pertanyaan pertama, bagaimana cara masyarakat menentukan kebenaran suatu informasi? Bertrand Russell pernah berkata kepada mahasiswanya

“Lakukan pengamatan sendiri. Aristoteles dapat menghindari kekeliruan tentang perkiraannya bahwa wanita mempunyai jumlah gigi lebih sedikit dari pria, andai saja dia meminta istrinya membuka mulut dan menghitung sendiri. Menganggap kita tahu, padahal tidak, adalah kesalahan fatal yang cenderung kita lakukan,”

Ya, masyarakat dengan nilai-nilai yang mereka dapat, sebetulnya mampu menentukan dan memilah-milah informasi yang benar dan salah. Sebagai contoh, seorang pecandu sepak bola pasti tahu informasi yang menyebut Zlatan Ibrahimovic bermain di Persija Jakarta adalah salah.

Terlepas dari paparan di atas, ini adalah opini penulis, sebaiknya kita jangan terlalu berharap lebih kepada media. Karena koran sekaliber Washington Post dan Los Angeles Times pun penulis yakin masih melakukan pilih kasih dalam berita (soal terorisme misalnya, pihak mana yang sering disudutkan? Mengapa label terorisme hanya melekat pada pihak tertentu itu?).

Jadi sekali lagi, jangan terlalu berharap, karena berharap, apalagi terlalu itu sakit. Utamanya kalau soal cinta #eeh.

Daftar Pustaka

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana, Pengantar Teks Media , Jakarta: LKIS
Ishwara,Luwi, 2011. Jurnalisme Dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Fitur Status, Penegasan dari Whatsapp

whatsappUpdate terbaru Whatsapp mungkin membuat sebagian penggunanya mengernyitkan dahi. Apa-apaan nih, kok ada fitur status di tengah? Di Whatsapp edisi terbaru, fitur contacts yang biasa ada di tengah antara tab chats dan calls sekarang pindah ke kanan atas. Sebagai ganti, ada fitur status yang berada di tengah di antara fitur chats dan calls.

Di fitur status tersebut, penulisan status di Whatsapp yang biasanya statis, berubah. Dengan fitur status, pengguna bisa mengunggah video, gif atau foto dengan keterangan (caption). Sederhananya, fitur status ini bisa disamakan dengan fitur Instagram Stories pada Instagram.

Seperti yang sudah disebut di atas, sebagian pengguna Whatsapp mengeluhkan adanya fitur status ini. Garis besar dari keluhan itu rata-rata mereka sebetulnya pengin Whatsapp tetap sederhana, tanpa ada fitur status. Sayangnya nasi sudah menjadi bubur.

Terlepas dari pro kontra, adanya fitur status menurut saya bisa meningkatkan interaksi antara pengguna Whatsapp.  Kita tinggal menekan tombol reply untuk mengomentari status yang baru diupdate oleh teman kita.

Pengguna Whatsapp juga bisa lebih eksis dengan fitur yang memungkinkan mereka membagi video, gif, atau foto. Bandingkan dengan fitur status Whatsapp edisi sebelumnya yang hanya berupa teks.

Lebih lanjut, kehadiran fitur status itu bisa dibaca sebagai penegasan. Whatsapp ingin benar-benar jadi aplikasi media sosial yang menunjang interaksi dan keinginan unjuk eksistensi penggunanya, seperti aplikasi media sosia lain semisal Facebook, Instagram, Path, atau Twitter. Bukankah aplikasi-aplikasi itu media sosial banget? Nah Whatsapp ternyata tidak mau ketinggalan. Dengan fitur ini, Whatsapp mau menegaskan kalau mereka juga aplikasi media sosial lho.