Plis Wenger, Berubah Dong

arsene-wenger

Arsene Wenger (Sumber: mirror.co.uk)

Gimana gak sakit coba: udah bela-belain gak pulang, eh tapi tim kesayangan lo kalah, 3-1 pula. Itu sih bukan sakitnya tuh di sini lagi, tapi di sana, di mana-mana.

Kalah dari Chelsea di pekan ke-24 membuat gue berpikir: udah lah, ini gagal lagi aja juara Liga. Dengan sisa 14 pertandingan lagi, apapun bisa terjadi sih. Tapi ngeliat performa Chelsea yang stabil plus sisa lawan mereka, rasanya trofi Liga musim ini udah hampir pasti menuju ke Stamford Bridge.

Terus Arsenal? Gue sebagai fans sih berharapnya juara. Tapi realistis lah, paling-paling dapat posisi ketiga atau runner up. Itupun kalau performa mereka stabil terus. Kalau gak, buruk-buruknya terlempar dari lima besar dan masuk Liga Europa musim depan.

Kalau musim ini gagal lagi, itu berarti udah 14 musim Arsenal gak meraih gelar juara Liga. Terakhir kali Arsenal juara itu musim 2003/04, waktu acara musik yang kebanyakan lipsync belum banyak di Indonesia.

Sebagai analis amatir, ada beberapa hal yang menurut gue jadi biang kerok kegagalan Arsenal yang terus menerus ini.

Satu hal yang selalu gue amati ketika tim-tim besar khususnya tim-tim Liga Inggris main lawan Arsenal. Liat deh, pas Arsenal nyerang, mereka numpuk pemain di kotak penalti.

Ini karena kebiasaan Arsenal buat ngurung pertahanan lawan dengan permainan passingnya. Kalau dirunut, cara main Arsenal di 1/3 daerah penalti lawan gini nih: 1-2 passing, oper ke pemain sayap lalu ada dua pilihan, umpan silang atau permainan one-two pass. Gitu terus.

Alhasil, Mereka nunggu pemain Arsenal buat salah oper lalu counter attack. Simak aja kata-kata Sir Alex Ferguson soal cara dia saat lawan Arsenal sewaktu masih ngelatih Manchester United.

“Wenger punya pakem bagaimana dia melihat pemain dan cara bermain. Kami tidak perlu memenangkan bola melawan Arsenal. Kami harus mengintersepnya. Anda butuh pemain bagus yang bisa mengintersep,” tulis Sir Alex Ferguson di otobiografinya soal taktik Wenger.

Berangkat dari ucapan Ferguson, gue coba ngeliat statistik Whoscored. Ternyata bener juga kata Ferguson. Arsenal udah lima kali kalah musim ini. Di lima kekalahan itu, jumlah intersep tim-tim yang menang dari Arsenal selalu lebih banyak. Kecuali pas kalah lawan Manchester City dan Liverpool.

Southampton, waktu menang 2-0, ngebuat 22 kali intersep berbanding 11 milik Arsenal. Watford ngebuat 22 kali, Arsenal cuma 8. Chelsea semalem, bikin 17 intersep sementara Arsenal, 11.

Amati juga jumlah operan tim-tim tersebut. Rata-rata mereka membuat jumlah operan yang lebih sedikit dari Arsenal (kecuali Manchester City karena ada Guardiola). Tapi ya menang. Itu karena mereka ngopernya efektif. Mereka langsung melancarkan serangan balik.

Masih kata Ferguson. Menurut dia, ada ruang di Arsenal yang bisa digunakan tim lawan untuk menyerang balik. “Ruang untuk serangan balik, biasanya di temukan di posisi melebar. Tidak peduli di kandang atau tandang, full back Arsenal biasanya lebih sering berada di daerah pertahanan lawan, sembari berharap secara naif, rekan setim mereka tidak kehilangan bola,” kata Ferguson.

Kalau udah gini, mau nyalahin Arsene Wenger? Gak juga, tapi jangan naif kalau Wenger tentu harus tanggungjawab: dia manajernya, dia yang atur taktik, dia yang memutuskan beli pemain.

Gue pribadi berharap Wenger mau berubah dan jangan keras kepala soal taktiknya. Entah gimana caranya, dia harus menemukan taktik yang efektif. Jangan tanya gue, karena gue gak punya lisensi kepelatihan dan gak tau gimana taktik yang efektif. Kenapa Wenger? Sebab mau gak mau, cuma dia yang bisa membalikkan keadaan saat ini. Gak tau kalau musim depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s