Tipu-tipu ala Jakarta

Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
(Doa di Jakarta, W.S Rendra)

“Wah asik banget kalau Jakarta tiap hari kayak gini: jalan lowong, udara lumayan seger. Pasti warga Jakarta, tingkat kebahagiaanya nambah. Gak stres karena macet,” gumam saya begitu keluar dari kantor, pagi ini.

Saya berasumsi, jika Jakarta bisa seperti ini setiap saat, tingkat warga yang stres turun, warganya bisa lebih sabar. Jakarta mungkin bisa lebih bagus dan cantik.

Berangkat dari asumsi itu, saya coba iseng cari-cari data di Badan Pusat Statistik (BPS) buat cari indeks kebahagiaan provinsi DKI Jakarta dibanding dengan provinsi lain di Indonesia. Dan Alhamdulillah ketemu.

Dikutip dari  laporan tersebut, indeks kebahagiaan adalah indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang secara substasi bersama-sama merefleksikan tingkat kebahagiaan yang meliputi kepuasan terhadap  1)  kesehatan,  2)  pendidikan, 3) pekerjaan, 4)  pendapatan  rumah tangga, 5)  keharmonisan  keluarga,  6)  ketersediaan  waktu  luang,  7)  hubungan sosial,  8)  kondisi  rumah  dan  aset,  9) keadaan lingkungan,  dan  10) kondisi keamanan.

Semakin  tinggi  nilai  indeks  menunjukkan  tingkat  kehidupan  yang  semakin bahagia,   demikian   pula   sebaliknya,   semakin   rendah   nilai   indeks   maka penduduk semakin tidak bahagia (Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Juli 2015, hlm 140).

Data soal indeks kebahagiaan ada di Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Bulan Juli 2015. Saya coba cari yang terbaru, gak ketemu. Dari data tahun 2015 , indeks kebahagiaan DKI mencapai 69,21 . Bukan yang tertinggi dibanding provinsi lain di Indonesia.

Bahkan, angka ini kalah dengan provinsi yang secara pembangunan infrastruktur masih kalah dari Jakarta, semisal Maluku (72,12) dan Papua Barat (70,45). Angka tertinggi jadi milik provinsi Kepulauan Riau (72,42). Sementara, angka terendah ada di provinsi Papua (60,97).

Mengherankan juga ya, dengan segala gemerlap (mall, pusat hiburan, kecanggihan teknologi) dan pembangunannya, Jakarta ternyata tak lantas membuat warganya jadi yang paling bahagia di Indonesia. Tapi ya tetep, masih banyak aja yang pengin datang ke Jakarta.

Tampaknya, Jakarta memang telah sukses menipu kita. Dengan gemerlap dan dinamikanya, kita berpikir itu bisa membuat kita bahagia. Ternyata….

Berhubung sekarang lagi pilkada, semoga gubernur yang terpilih nanti bisa membuat kota Jakarta jadi kota yang memberikan kebahagiaan yang hakiki buat rakyatnya. Bukan kebahagiaan semu. Akan sangat kelewatan, jika untuk berkuasa di kota yang penuh tepu-tepu ini, kita masih juga pakai cara curang dan menipu. Semoga jangan.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” (Menjadi Tua di Jakarta- Seno Gumira Ajidarma)

Biarkan Mereka, Kita, Saya, Anda, Memilih Pemimpin Karena Agamanya

Berpikiran sempit, tidak open minded, tidak ilmiah, bigot dan semacamnya. Saya tak habis pikir (jika) ada orang yang menyematkan sebutan-sebutan itu pada orang yang memilih pemimpin berdasarkan agamanya. Seolah-olah yang menyebut adalah yang paling open minded, paling ilmiah, visioner dll.

Mereka yang memilih pemimpin berdasarkan agama juga pasti punya pertimbangan matang. Tidak asal pilih. Bagi mereka, agama adalah kriteria penting dalam memilih pemimpin. Bahkan bisa lebih diprioritaskan ketimbang wajah, perilaku, atau… visi dan misi sekalipun.

Jika mau beranalogi, memilih pemimpin barangkali bisa dianalogikan seperti memilih pasangan. Ada yang memilih pasangan karena kekayaan, kebagusan wajah, status keturunan, dan agamanya. Anda mau memilih karena kekayaan, silakan. Mau memilih karena terpesona kebagusan wajah, monggo. Atau status keturunan, sah-sah saja. Itu semua hak Anda.

Tapi yang saya tahu, mayoritas tetap memprioritaskan kesamaan agama ketimbang yang lain. Wanita memilih pria yang seagama dengan harapan bisa menjadi imam yang baik. Pria memilih wanita yang seagama dengan harapan wanitanya bisa jadi istri dan ibu yang baik bagi anaknya.

Lagipula, mereka yang menjadikan agama sebagai prioritas utama, tak lantas abai dengan visi dan misi, program, atau perilaku calon pemimpin yang bersangkutan. Mereka yakin, ada kebaikan yang hanya bisa diraih, jika pemimpin mereka seagama dengan mereka.

Kebaikan-kebaikan seperti yang dimiliki oleh mereka yang memilih pasangan segama: pergi ke rumah ibadah yang sama, dan bersama-sama, mengimani Tuhan yang sama, memohon pada Tuhan yang sama.

Hal mana yang lebih Anda prioritaskan dalam memilih pemimpin, itu mutlak menjadi hak Anda masing-masing. Lagipula, seperti kata Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin: Kita bangsa religius yg menjadikan agama sebagai acuan bersikap. Memilih cagub berdasar keyakinan agama sama sekali tak langgar konstitusi.

#tabik

Plis Wenger, Berubah Dong

arsene-wenger

Arsene Wenger (Sumber: mirror.co.uk)

Gimana gak sakit coba: udah bela-belain gak pulang, eh tapi tim kesayangan lo kalah, 3-1 pula. Itu sih bukan sakitnya tuh di sini lagi, tapi di sana, di mana-mana.

Kalah dari Chelsea di pekan ke-24 membuat gue berpikir: udah lah, ini gagal lagi aja juara Liga. Dengan sisa 14 pertandingan lagi, apapun bisa terjadi sih. Tapi ngeliat performa Chelsea yang stabil plus sisa lawan mereka, rasanya trofi Liga musim ini udah hampir pasti menuju ke Stamford Bridge.

Terus Arsenal? Gue sebagai fans sih berharapnya juara. Tapi realistis lah, paling-paling dapat posisi ketiga atau runner up. Itupun kalau performa mereka stabil terus. Kalau gak, buruk-buruknya terlempar dari lima besar dan masuk Liga Europa musim depan.

Kalau musim ini gagal lagi, itu berarti udah 14 musim Arsenal gak meraih gelar juara Liga. Terakhir kali Arsenal juara itu musim 2003/04, waktu acara musik yang kebanyakan lipsync belum banyak di Indonesia.

Sebagai analis amatir, ada beberapa hal yang menurut gue jadi biang kerok kegagalan Arsenal yang terus menerus ini.

Satu hal yang selalu gue amati ketika tim-tim besar khususnya tim-tim Liga Inggris main lawan Arsenal. Liat deh, pas Arsenal nyerang, mereka numpuk pemain di kotak penalti.

Ini karena kebiasaan Arsenal buat ngurung pertahanan lawan dengan permainan passingnya. Kalau dirunut, cara main Arsenal di 1/3 daerah penalti lawan gini nih: 1-2 passing, oper ke pemain sayap lalu ada dua pilihan, umpan silang atau permainan one-two pass. Gitu terus.

Alhasil, Mereka nunggu pemain Arsenal buat salah oper lalu counter attack. Simak aja kata-kata Sir Alex Ferguson soal cara dia saat lawan Arsenal sewaktu masih ngelatih Manchester United.

“Wenger punya pakem bagaimana dia melihat pemain dan cara bermain. Kami tidak perlu memenangkan bola melawan Arsenal. Kami harus mengintersepnya. Anda butuh pemain bagus yang bisa mengintersep,” tulis Sir Alex Ferguson di otobiografinya soal taktik Wenger.

Berangkat dari ucapan Ferguson, gue coba ngeliat statistik Whoscored. Ternyata bener juga kata Ferguson. Arsenal udah lima kali kalah musim ini. Di lima kekalahan itu, jumlah intersep tim-tim yang menang dari Arsenal selalu lebih banyak. Kecuali pas kalah lawan Manchester City dan Liverpool.

Southampton, waktu menang 2-0, ngebuat 22 kali intersep berbanding 11 milik Arsenal. Watford ngebuat 22 kali, Arsenal cuma 8. Chelsea semalem, bikin 17 intersep sementara Arsenal, 11.

Amati juga jumlah operan tim-tim tersebut. Rata-rata mereka membuat jumlah operan yang lebih sedikit dari Arsenal (kecuali Manchester City karena ada Guardiola). Tapi ya menang. Itu karena mereka ngopernya efektif. Mereka langsung melancarkan serangan balik.

Masih kata Ferguson. Menurut dia, ada ruang di Arsenal yang bisa digunakan tim lawan untuk menyerang balik. “Ruang untuk serangan balik, biasanya di temukan di posisi melebar. Tidak peduli di kandang atau tandang, full back Arsenal biasanya lebih sering berada di daerah pertahanan lawan, sembari berharap secara naif, rekan setim mereka tidak kehilangan bola,” kata Ferguson.

Kalau udah gini, mau nyalahin Arsene Wenger? Gak juga, tapi jangan naif kalau Wenger tentu harus tanggungjawab: dia manajernya, dia yang atur taktik, dia yang memutuskan beli pemain.

Gue pribadi berharap Wenger mau berubah dan jangan keras kepala soal taktiknya. Entah gimana caranya, dia harus menemukan taktik yang efektif. Jangan tanya gue, karena gue gak punya lisensi kepelatihan dan gak tau gimana taktik yang efektif. Kenapa Wenger? Sebab mau gak mau, cuma dia yang bisa membalikkan keadaan saat ini. Gak tau kalau musim depan.