Singapura, Weekend Lalu

Akhir pekan lalu, saya berkesempatan mendatangi salah satu negeri jiran Indonesia, Singapura. Saya menghabiskan waktu empat hari di sana dari mulai tanggal 19 Januari hingga 23 Januari. Saya mengunjungi Singapura untuk keperluan kerja: meliput turnamen golf di Sentosa Golf Club. Ini adalah kali pertama, saya ke luar negeri. Jadi, maaf kalau tulisan ini sedikit norak. 🙂

Selain untuk meliput, saya menggunakan kesempatan ini untuk membeli buku. Ya, dari sebelum berangkat, saya sudah browsing toko buku di sana. Saya menemukan Kinokuniya di Orchard Road punya koleksi buku sepak bola yang selama ini saya inginkan. Maka saya begitu excited saat hari keberangkatan tiba.

Saya gak akan menceritakan gimana liputannya. Karena gak jauh beda sama liputan di Indonesia: pantau, nulis, kirim. Malah saya mengandalkan rilis karena tak bisa interview si pegolfnya. :p

Hari Pertama (19 Januari 2017)

langit-soetta

Saat baru take off dari Bandara Soetta (Photo: Pribadi)

Saya sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta sejak pukul 06:30 WIB. Dengan diantar Ayah, saya menuju Terminal 2D Bandara Soetta. Saya akan berangkat dengan pesawat Singapore Airlines, flight pukul 08:30 WIB. Di dalam tiket, tertera jam kedatangan saya di Bandara Changi yaitu sekitar pukul 11:30 waktu Singapura.

Di dalam pesawat, ada layar kecil yang memuat informasi soal rute penerbangan kami dari Jakarta ke Singapura. Rupanya, kami melewati menyusuri sisi utara pantai Sumatera, lalu kemudian berbelok melewati langit Batam untuk menuju Changi. Pukul 11:30 waktu Singapura, saya akhirnya menginjakkan kaki di Singapura, tepatnya di Bandara Changi. Kru pesawat memberitahu kalau waktu Singapura lebih cepat satu jam dari Jakarta. Saya pun menyetel jam tangan saya, sesuai waktu Singapura.

“Biasa saja ah,” pikir saya soal penampilan Bandara Changi. Sebelum ke sini, saya sempat mendengar kabar, kalau Changi adalah salah satu bandara terbaik di dunia. Menurut saya sih, kalau dari penampilannya, Changi biasa saja. Mungkin dia masuk kategori terbaik karena kerapihan dan ketepatan jadwal penerbangannya.

Tiba di Changi saya bertemu dengan salah satu wartawan Indonesia. Sedari tadi, ia memang satu pesawat dengan saya, namun saya ragu untuk menyapa karena hanya pernah satu kali melihat wajahnya saat meliput Indonesia Open. “Dicky dari Jakarta Post,” katanya memperkenalkan diri.

Saat hendak melewati pintu imigrasi, petugas imigrasi Singapura meminta saya menempelkan dua jempol saya untuk pendataan. Tahu saya dari Indonesia, Ia sempat menanyakan bagaimana orang Indonesia mengucapkan kata jempol pada saya.

Luar biasa mewah. Bersama Mas Dicky, saya dijemput dengan menggunakan mobil BMW seri terbaru yang sangat nyaman. Saya lupa seri berapa. “Lumayan kan, kalau nanti lihat orang pakai mobil ini di Jakarta, kita bisa bilang ‘Gue udah ngerasain naik mobil itu mah,” kata Mas Dicky.

Rapi, bersih, dan tertata. Itulah kesan yang saya dapat selama melihat pemandangan di jalan dari Bandara ke hotel. Tak ada sampah yang berserakan. Saya juga melihat banyak mobil pick up yang biasa ada di film Jackie Chan. Itu lho yang depannya pipih. Saya juga melihat gedung Marina Bay yang terkenal itu. Dari bandara ke hotel saya yaitu Shangri-La Rasa, Sentosa hanya membutuhkan waktu 30 menit. Dari hotel, saya langsung liputan.

Malam harinya, saya nekat pergi ke Orchard. Sendirian. Dengan bermodalkan peta dan tanya sana-sini, saya naik MRT dari stasiun Harbour Front ke Orchard. Oh ya, dari hotel ke Harbour Front ada shuttle bus. Ada dua line dari Harbour Front menuju Orchard. Yang pertama Circle Line (warna kuning) dan kedua North East Line (warna ungu). Seharusnya, saya mengambil rute yang kedua. Namun saya mengambil rute yang pertama, yang membuat saya harus transit dua kali untuk ke Orchard.”Gak apa-apalah, sekalian explore jalur,” pikir saya. Namanya juga baru pertama kali.

mrt-map-dt

Peta MRT di Singapura (mytransport.sg)

Saya ternyata tak langsung tiba di Orchard Road melainkan dua blok dari jalan yang terkenal sebagai pusat belanja tersebut. Setelah bertanya ke salah satu warga sana, saya ternyata harus berjalan sekitar beberapa meter lagi untuk sampai ke Orchard, tepatnya ke Kinokuniya. Toko buku asal Jepang itu ternyata berada di lantai empat gedung bernama Takashimaya.

orchard-road

Salah satu sudut Orchard Road, ION Mall. (Photo: Pribadi)

Saya hampir saja kalap untuk membeli beberapa buku di sana. Koleksi buku-buku sepak bolanya benar-benar lengkap.Gila!.  Akhirnya, saya bisa menyentuh buku-buku yang selama ini hanya bisa saya lihat lewat internet. Butuh waktu lama untuk memutuskan buku mana yang akan saya beli. Dan pada akhirnya, saya memutuskan untuk membeli dua buku: The Number’s Game karya Chris Anderson dan David Sally serta Soccernomics karangan Stefan Syzmanski dan Simon Kuper. Saya harus merogoh kocek hingga 54 dollar Singapura untuk membeli kedua buku itu.

Hari pertama di Singapura saya akhiri di patung Merlion. Saya ke sana dengan teman saya, Risa dan satu fotografer Kompas, Mas Adrian. Kebetulan, Risa memang juga mendapat tugas peliputan ke Singapura dari kantor kami.

Patung Merlion dan Marina Bay memang cukup memesona. Banyak orang menghabiskan waktu untuk berfoto-foto di dua tempat yang ikonik tersebut. “Alam dia gak punya. Ya inilah yang dijual oleh Singapura ke wisatawan: gedung-gedung, tata kota yang rapi, dan transportasi yang bagus,” kata Mas Adrian.

Seperti wisatawan lain, kami pun berfoto-foto di sana. Fotonya masih di Mas Adrian.

Hari Kedua (20 Januari 2017)

Pagi hari kedua di Singapura saya menghabiskan waktu berjalan ke Museum Nasional Singapura bersama dengan Risa dan Mas Adrian. Museum ini ada di Stamford Road, beberapa kilometer dari Orchard Road.Gedung museum ini berarsitektur gedung-gedung kolonial. Mirip-miriplah sama yang ada di Kota Tua. Tapi gedungnya rapi. Saya kira, gedung ini bukan gedung lama, hanya arsitekturnya saja.

di-museum-singapura

Berpose di depan National Museum of Singapore. Pura-pura lihat peta, padahal petanya terbalik. (Photo: Pribadi)

Ada tiga kategori tiket Museum. Selengkapnya bisa dicek di nationalmuseum.sg. Kami memilih tiket seharga 18 dollar Singapura agar bisa memasuki semua galeri. Sebetulnya kita bisa memilih, galeri mana yang akan kita kunjungi lebih dulu. Tapi oleh petugas, kita akan diarahkan menuju Glass Rotunda lebih dulu.

Dari sekian galeri, yang berkesan buat saya adalah galeri yang memuat sejarah Singapura. Kalau kata Mas Adrian sih, barang-barangnya gak jauh beda dari yang ada di Indonesia. Dan memang bener. Ada mainan anak kecil kayak perahu-perahuan, baskom nasi uduk, hehehe dll. Buat saya, yang bagus itu ya poster-poster soal invasi Jepang ke Singapura, yang fotonya saya taruh di paling atas post ini. Saya baru tahu kalau Singapura juga kena invasi Jepang.

pajangan-di-museum-singapura

Salah satu pajangan di National Museum of Singapore (Photo: pribadi)

Puas main di National Museum of Singapore, kami jalan ke Orchard. Ternyata lumayan jauh, hahahaha. Beberapa kali kami harus duduk istirahat. Kami juga sempat membeli eskrim gerobak untuk menghilangkan lapar dan haus. Eskrimnya rasa durian dan disajikan dengan roti. Penjualnya kakek dan nenek yang boleh dibilang tidak bisa berbahasa Inggris.

Setelah sekitar 30 menit jalan, kami sampai di Orchard. Di Lucky Plaza, kami membeli oleh-oleh yang mayoritas coklat. Dengan uang 10 dollar Singapura, kita sudah bisa membeli tiga bungkus coklat. Overall, harga barang di Lucky Plaza murah-murah. Lucky Plaza bisa dianalogikan seperti Tanah Abang lah.

Di Orchard Road, saya berpisah dengan Risa dan Mas Adrian. Saya balik ke hotel untuk liputan, Risa dan Mas Adrian pulang ke Indonesia.

Hari Ketiga dan Keempat (21-22 Januari 2017)

Di hari ketiga, saya kembali ke Orchard untuk membeli oleh-oleh yang belum sempat saya beli ketika hari pertama. Kali ini, Mas Dicky turut serta.

Saya mengulangi kesalahan di hari pertama: mengambil Circle Line dari Harbour Front untuk ke Orchard. Namun karena sudah sedikit paham rutenya, saya sedikit relaks. Berbeda dengan saya, Mas Dicky menaiki MRT dengan tiket harian, sedangkan saya menggunakan Singapore Tourist Pass (STP) yang telah saya gunakan sejak hari pertama. Untuk membelinya, kita cukup mengunjungi Ticketing Office di tiap stasiun MRT. Maksimal pemakaian adalah tiga hari setelah tiket ini dibeli. Untuk tiga hari, harga tiket STP yaitu 30 dollar Singapura. Ada deposit 10 dollar Singapura yang bisa kita ambil kembali. Dengan tiket ini, kita bebas menggunakan moda transportasi yang ada di Singapura, kecuali taksi.

Di Orchard, saya kembali mengunjungi toko yang sama di Lucky Plaza. Mas Dicky dan saya membeli coklat. Saya menambahnya dengan gantungan kunci. Karena sudah malam, kami tak lama di Orchard dan langsung pulang ke hotel. Oh ya, kami sempat bertukar pikiran soal gaya pacaran orang Singapura. “Kalau di Indonesia, yang begini mah alay,” kata Mas Dicky. Saya sepakat.

Sore harinya, saya sempat kembali ke stasiun Harbour Front untuk mengembalikan kartu STP sekaligus mengambil deposit 10 dollar Singapura. Lumayan loh.

Hari Kelima (23 Januari 2017)

Tak ada jalan-jalan. Pagi harinya, kami check out dan sarapan. Lagi, saya dijemput dengan mobil mewah. Hujan deras yang turun sempat membuat kami berpikir, pesawat kami akan delay. Kami beruntung, hujan deras reda begitu kami tiba di Changi.

Sekitar jam 13:15 WIB, kami tiba di Soetta.

Kesan-kesan selama di Singapura

Negaranya rapi, orangnya juga cukup ramah. Saya awalnya ragu untuk menanyakan tempat, karena pikir saya, orang Singapura cukup individualis. Maklum, negara maju. Tapi ternyata tak juga. Sewaktu saya di bus, salah satu penumpang bahkan sempat mengingatkan saya untuk turun di halte menuju Orchard.

Soal makanan? Terus terang saya tak banyak mencicipi makanan khas Singapura. Tapi buat yang beragama Islam, berhati-hatilah karena daging babi tersebar di mana-mana. Hehehe.

Yang bikin Ilfeel

Toiletnya bikin ilfeel. Gak ada semprotan untuk cebok.

Soal tempat menyebrang jalan juga. Sebenarnya ini bagus, kita jadi gak sembarangan untuk nyebrang jalan. Namun kadang menyulitkan, kita harus benar-benar cari tempat yang ditujukan untuk nyebrang dan kadang itu butuh waktu.

Saat makan juga usahakan membawa tisu sendiri. Dari pantauan saya, rata-rata tempat makan di Singapura tidak menyediakan tisu. Saat saya makan di tempat semacam food court di ION Mall, di sebelah saya ada empat ibu-ibu orang Indonesia. Mereka membawa tisu sendiri. Mungkin tidak adanya tisu agar orang tidak membuang sampah sembarangan.

Dari beberapa tempat yang saya kunjungi, sangat sulit juga untuk menemukan tong sampah. Herannya, tak ada sampah yang berserakan. Karena faktor denda yang tinggi kali ya. Jadi orang tidak buang sampah sembarangan dan malas makan sambil jalan.

pintu-keluar-kecemasan

Anda cemas? Sila ambil kiri (Photo: pribadi)

Nama kocak

Buat kalian mungkin nama-nama ini terdengar biasa. Tapi entah kenapa, nama-nama berikut ini kocak saja buat saya. Hehehe unik dan lucu kalau diucapkan.

Yang pertama adalah Siloso. Ini adalah satu stasiun kereta gantung yang pas berada di depan hotel saya. Setiap mengucapkan kata ini, saya selalu ingin menambahkan kata Rabu, Kamis, Sabtu, Minggu. Jadinya: Siloso, Rabu, Kamis, Sabtu, Minggu. Selain hari-hari itu saya juga mengucapkannya dengan begini, Siloso, cie, duo, tigo. Lupakan.

Nama yang kedua adalah Telok Blangah. Setiap mengucapkan kata Telok, saya menirukan gaya-gaya orang melayu yang ada di serial Upin-Ipin. Kebayang gak cara ucapinnya gimana? Kalau gak, yaudah. Gak usah dipikirin.

Nah, yang terakhir ada Dhoby Ghaut. Ini adalah salah satu stasiun transit MRT di Singapura. Does the name remember you of something? Yep, kata Dhoby itu mengingatkan gue pada tokoh Doby di serial Harry Potter, atau anjing Dalmantian.

Demikian pengalaman saya di Singapura. Kalau bukan karena jadi wartawan, entah kapan kaki saya bisa menapak di sana. Kalau Red Hot Chili Peppers bilang My music is my aeroplane, mungkin gue juga bisa bilang my job is my aeroplane. Tapi… sampai kapan ya jadi wartawan?