Akhir Pahit Seorang Buffon

Ada dua hal, setidaknya yang manusia tidak bisa memilih. Pertama, manusia tidak bisa memilih dari rahim ibu mana dia ingin dilahirkan. Kedua, manusia tidak bisa memilih, dengan cara apa ia akan berpisah dengan seseorang/sesuatu yang ia cintai.

Milan 13 November 2017

Italia berhadapan dengan Swedia untuk perebutan tiket ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia. Di leg pertama, Italia kalah 0-1 lewat gol pemain pengganti Jakob Johansson. Kekalahan ini membuat Italia harus menang minimal dua gol di leg kedua.

Sadar timnya butuh kemenangan, suporter Italia yang memadati Stadion San Siro sudah menebar psywar sejak sebelum pertandingan dimulai. Siulan nyaring terdengar saat lagu nasional Swedia, Du Gamla Du Fria berkumandang. Tujuannya jelas, mereka ingin para pemain Swedia terintimidasi dan tak konsentrasi saat pertandingan.

Situasi berubah saat Il Canto Degli Italiani, lagu kebangsaan Italia bergema. Di atas lapangan, kiper sekaligus kapten tim, Gianluigi Buffon dan para pemain timnas Italia bernyanyi dengan penuh penghayatan. Leonardo Bonucci sampai mengguncang bahu Ciro Immobile. Mulutnya lantang menyanyikan Il Canto Degli Italiani.

L’Italia chiamo, Italia telah memanggil. Siam pronti alla morte, kami siap berkorban nyawa.

Di atas tribun, puluhan ribu suporter tak ketinggalan ikut bernyanyi. Tangan mereka terangkat ke atas, memegang kertas warna Tri Colore: hijau, putih, merah, bendera nasional Italia. Kecuali suporter timnas Swedia, tak ada mungkin orang Italia di stadion yang tak menyanyikan lagu nasional itu.

Stringiamci a corte, biarkan kami bergabung. Siam pronti alla corte, kami siap berkorban nyawa.

Pertandingan berlangsung, Italia terus menyerang pertahanan Swedia. “Kami tak punya senjata lagi. Kami hanya bertahan dan berharap hasilnya tetap seperti ini. Kami tak bisa berbuat yang lain, mereka sungguh luar biasa,” kata Pelatih Swedia, Jan Andersson.

90 menit waktu normal berakhir, wasit memberikan lima menit waktu tambahan. Menit 94, Italia mendapat tendangan sudut, Buffon maju ke kotak penalti Swedia. San Siro penuh dengan teriakan suporter Italia.

Sepak pojok dieksekusi, kemelut terjadi di kotak penalti. Bernardeschi menendang, bola mengenai pemain Swedia lalu bergulir ke kaki Chiellini. Sayang, Chiellini offside. Di layar televisi, waktu menunjukan angka 5:01. Waktu tambahan habis. Wasit Mateu Lahoz meniupkan peluit akhir pertandingan. Pemain Swedia berlarian gembira ke arah pelatih mereka.

Kontras dengan itu, Beberapa pemain Italia terduduk lesu: Buffon berjalan gontai. Immobile duduk lemas di atas lapangan. Andrea Belotti menangis. Skor pertandingan tetap 0-0. Swedia melenggang ke Piala Dunia 2018 dengan agregat 1-0.

Italia tersingkir.

Dalam wawancara usai pertandingan, Buffon tak bisa menahan air mata. Ia tahu, ia telah mengecewakan seluruh rakyat Italia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mulai dari para petani anggur di Pulau Sisilia, hingga pendayung kano di Venesia.

“Kami gagal di sesuatu yang juga punya arti di level sosial,” kata Buffon.

Bagi Italia, kegagalan ke Piala Dunia adalah aib besar. Italia adalah juara dunia empat kali. Italia adalah salah satu negara sepak bola, penghasil pelatih dan pemain berkualitas. Tempat lahir  taktik legendaris catenaccio. Gudangnya para bek-bek handal dunia.

Maka jangan heran, harian terkemuka Italia, La Gazetta dello Sport melabeli kegagalan ini sebagai sebuah apokalips. Jurnalis Italia, Mina Rzouki menyebut kegagalan ini sebagai tragedi nasional.

Tragisnya, kegagalan ini juga memaksa Buffon untuk mengakhiri kariernya bersama timnas Italia. Semula, Buffon berniat pensiun selepas Piala Dunia 2018. “Saya meminta maaf ternyata pertandingan terakhir saya bersama timnas, bersamaan dengan gagalnya kami ke Piala Dunia. Saya tidak meminta maaf untuk diri saya sendiri, tapi untuk sepak bola Italia,” kata Buffon.

Kegagalan jelas bukan jalan yang tepat untuk melepas Buffon, kiper yang sudah berjasa membawa Italia juara dunia 2006. Kiper yang sejak 1997 terus menjadi andalan timnas Italia. Kiper yang disegani kawan maupun lawan.

Buku sejarah telah mencatat kegemilangan itu, namun buku sejarah juga akan mencatat Buffon adalah kapten saat Italia gagal ke Piala Dunia 2018.

Jika bisa memilih, Buffon tentu tidak ingin perpisahan seperti ini. Sayang, takdir telah memilih cara paling getir untuk Buffon berpisah dari sesuatu yang sangat ia cintai:

Tim nasional Italia.

Advertisements

Salam Perpisahan dari Saya, Pirlo

Mulai dari Gianluigi Buffon hingga Frank Lampard sudah menuliskan salam perpisahan dan tribut mereka pada Andrea Pirlo. Isinya penuh dengan sanjungan pada Pirlo. Namun karena saya bukan mereka, dan Pirlo juga tidak kenal saya, saya punya cara sendiri menuliskan salam perpisahan pada Pirlo, yang pensiun kemarin.

Pirlo sebetulnya bukan pemain yang sangat saya idolakan seperti Zinedine Zidane atau Toni Kroos. Namun saya rasa kejiwaan saya perlu diperiksa, jika sebagai penggemar sepak bola, saya tidak menyebut Pirlo sebagai salah satu gelandang tengah terbaik di dunia.

“Pemain Italia terbaik yang pernah saya lihat,” kata Legenda Barcelona, Xavi Hernandez.

“Saat melihat Pirlo dengan bola di kakinya, saya berpikir, apakah saya benar pemain sepak bola,” kata Genaro Gattuso.

Sebagai gelandang, Pirlo tidak banyak berlari mengejar bola, atau naik-turun ke area pertahanan lawan. Pirlo bermain seolah-olah ia sedang berjalan di taman: santai dan menikmati setiap hijaunya tetumbuhan yang ia lihat.

Namun di situlah keunikan dan keunggulan Pirlo. Ia boleh saja tidak rajin berlari mengejar bola, atau naik-turun membantu serangan tim, namun Pirlo memiliki akurasi operan jarak jauh yang luar biasa. “Picking out passes like NFL quarterback,” tulis kolumnis Guardian, Franco Baldini dalam tulisan berjudul Andrea Pirlo was a rare talent – a winner and dreamer who oozed creative cool.

Satu lagi, Pirlo juga memiliki kelihaian mengeksekusi tendangan bebas. Dalam bukunya, ia mengakui kalau ia belajar dari maestro tendangan bebas asal Brasil, Juninho Pernambucano.

Dan kemampuan inilah yang membuat saya menyukai Pirlo dengan cara saya sendiri.

Setiap bermain play station dan memakai AC Milan, Juventus atau timnas Italia, saya akan selalu memilih Pirlo sebagai eksekutor tendangan bebas. Pirlo adalah salah satu eksekutor favorit saya.

Saya suka caranya mengeksekusi bola dengan sederhana. Ia tidak mengambil ancang-ancang yang wow seperti Cristiano Ronaldo, atau melengkungkan bola dengan sangat curvy seperti David Beckham.

“Pada intinya, bola harus ditendang dari bawah menggunakan tiga jari kaki Anda. Anda harus menjaga kaki Anda selurus mungkin dan kemudian ayunkan dalam satu ayunan pelan. Dengan begitu, bola tidak berputar di udara, melainkan menukik tiba-tiba menuju gawang. Saat itulah bola mulai berputar. Dan singkatnya, ketika itulah maledetta (kutukan) dari saya dimulai,” tulis Pirlo dalam bukunya.

Dalam play station, saya menerjemahkan maledetta Pirlo ke dalam beberapa cara. Jika tendangan bebas diambil dari jarak 16-20 meter saya akan mengarahkan bola sejauh mungkin dari jangkauan kiper, lalu menendang bola dengan menekan tombol kotak dan arah bawah secara bersamaan. Saat bola di udara, Saya akan menekan tombol arah kiri/kanan, agar bola itu melengkung dan berputar.

Cara yang hampir sama akan saya praktekkan apabila tendangan bebas diambil dari jarak 20-24 meter, dan 24-32 meter. Bedanya, pada jarak 20-24 saya tidak menekan tombol arah bawah agar bola melaju kencang. Pada jarak 24-32, arah bawah saya ganti dengan arah atas supaya bola meluncur lebih bertenaga.

Saya memang tidak selalu memakai klub yang ada Pirlo di dalamnya saat bermain play station. Namun saya selalu memilih eksekutor yang punya cara mengambil ancang-ancang sesederhana Pirlo. Dan memakai kaki kanan.

Entah sudah berapa gol tendangan bebas yang saya buat dengan cara ini dan dengan Pirlo sebagai eksekutor. Terakhir kali, saya mencetak gol penyelamat dari kekalahan, dengan memilih Xabi Alonso sebagai eksekutor tendangan bebas.

Kini, Andrea Pirlo telah menyusul Xabi Alonso pensiun. Otomatis, pada game FIFA atau PES edisi selanjutnya, mereka berdua tidak ada. Yah, berkurang deh eksekutor favorit saya.

Grazie Mille Pirlo.

Semarang, 8 November 2017

Narasi Edmond Dantes dalam laga Persija Vs Persib di Solo

the count of monte cristo

Perdebatan soal keputusan wasit menganulir gol striker Persib Bandung Ezechiel N’Douassel ke gawang Persija Jakarta masih berlangsung di media sosial. Ada yang menyinggung soal fair play pemain Persija, ada juga yang hanya memanas-manasi dengan saling lempar ejekan.

Bagi yang belum tahu, pertandingan Persija Vs Persib di Stadion Manahan, Solo, Jumat (3/11/2017) menyisakan kontroversi setelah wasit asal Australia, Shaun Evans menganulir gol N’Douassel. Padahal dari tayangan ulang, bola telah melewati garis dan bahkan menyentuh jala gawang.

Kontroversi belum berhenti sampai di situ. Pertandingan terpaksa dihentikan di menit 83 setelah para pemain Persib dianggap enggan melanjutkan alias walk out. Meskipun, Manajer Persib, Umuh Muchtar membantah timnya enggan melanjutkan pertandingan.

Beragam komentar dan reaksi muncul setelah pertandingan. Dari pihak Persib, mereka telah berencana mengirim surat ke PSSI sebagai bentuk protes. Namun yang menarik adalah pernyataan kiper Persija, Andritany soal gol N’Douassel.

Dalam tulisan di blognya (yang entah kemudian dihapus mungkin), Andritany mengakui kalau gol N’Douassel memang sah. “Sampai saat ini saya, dan Bepe tidak berkata bahwa bola itu tidak goal. Bola itu mutlak goal”, tulis Andritany di blog pribadinya, seperti saya kutip dari bolasport.

“Penjaga gawang bola gol kan?” tanya Ezechiel.

“Gol, tapi wasit mempunyai keputusannya” ucap Andritany kala itu.

Lalu, mengapa Andritany tidak mengatakan pada wasit kalau bola memang masuk saat pertandingan?

***

Membaca pernyataan Andritany, saya jadi teringat cerita Edmond Dantes di dalam film The Count of Monte Cristo yang digarap berdasarkan novel karangan Alexandre Dumas. Diceritakan, Dantes adalah tokoh yang jujur dan lugu, seorang yang noble.

Sayangnya, kejujuran dan keluguan membawa Dantes justru menjadi korban konspirasi. Fernand Mondego, temannya sendiri, mantan kapten kapal Dantes, Danglard, dan Villefort, pejabat di kota Marseille, Prancis bekerjasama menjebak Dantes untuk keuntungan masing-masing.

Ketiganya lalu bekerjasama menuduh Dantes sebagai seorang Bonapartist, simpatisan Napoleon Bonaparte, karena memiliki surat dari Napoleon untuk mata-matanya di Marseille. Tanpa sepengetahuan Dantes, Mondego yang turut berkelana bersama Dantes ke Pulau Elba dan bertemu Napoleon, dan Danglard lalu memberitahu Villefort terkait surat Napoleon pada Dantes.

Lewat interogasi oleh Villefort Dantes dengan kejujurannya memberitahu kalau surat tersebut ditujukan pada Monsieur Clarion, yang tak lain adalah rekan dekat Villefort sendiri. Villefort yang merasa terancam atas surat tersebut kemudian menjebloskan Dantes ke penjara Chateau d’If karena takut surat tersebut akan mengancam posisinya sebagai administrator di kota Marseille.

Konspirasi ketiganya menjatuhkan Dantes berhasil. Villefort tetap aman di posisinya malah kemudian naik jabatan sebagai jaksa di Paris, sementara Mondego mendapatkan Mercedes, kekasih Dantes yang ia idam-idamkan. Danglard? Ia naik menjadi kepala perusahaan pengiriman barang, Morell and Company.

Bahwa kejujuran adalah nilai yang mulia, itu tidak bisa dibantah. Namun apakah kejujuran itu selalu tepat? Bagi Edmond Dantes kejujuran ternyata bukan hal tepat. Karena kejujuran ia justru mendapat petaka. Dantes harus ditahan di penjara Chateau d’If selama enam tahun. Ia kehilangan kekasihnya, Mercedes, juga ayahnya yang bunuh diri setelah tahu Dantes dipenjara.

Pada lakon Persija Vs Persib di Solo, Andritany dan para pemain Persija tidak ingin menjadi Edmond Dantes. Andritany bisa saja berlari ke wasit lalu mengatakan bahwa bola memang telah masuk. Namun jika ia mengatakan hal itu, Persija tertinggal 0-1 dan bisa saja kalah. Meskipun, ia mungkin akan disanjung oleh suporter Persib sebagai pemain yang sportif.

Legenda timnas Jerman, Miroslav Klose pernah mengakui golnya tidak sah saat membela Lazio melawan Napoli. Paolo Di Canio pernah membatalkan golnya sendiri saat membela West Ham di partai melawan Everton karena melihat kiper Everton, Paul Gerrard cedera. Padahal, jika Di Canio tetap ingin gol itu tercipta, West Ham bisa menang. Atas aksinya ini, FIFA menganugerahi Di Canio gelar FIFA Fair Play Award tahun 2000.

Akan tetapi, berharap kisah-kisah serupa selalu terjadi di sepak bola adalah harapan yang naif.  Sepak bola adalah pertarungan dan yang bisa kita harapkan adalah perjuangan diri kita sendiri. Berharap lawan akan  selalu bersikap jujur dan ‘berpihak’ pada kita adalah hal yang sia-sia. Namanya juga lawan, tugasnya adalah mempersulit dan menjadi lawan kita di pertandingan.

Republik Irlandia harus rela gagal lolos ke Piala Dunia 2010 setelah kalah agregat 1-2 dari timnas Prancis. Padahal, gol William Gallas di leg kedua bermula dari handball Thierry Henry. Dalam rekaman ulang, Henry memang terlihat sengaja mengarahkan bola dengan tangannya, dan ia pun mengakui hal tersebut. Henry pun lalu dikecam tak hanya oleh rakyat Irlandia melainkan rakyat Prancis dan beberapa eks pemain timnas Prancis.

Namun, Pelatih Timnas Irlandia kala itu, Giovanni Trapattoni ternyata tidak menyalahkan Henry atau meminta pertarungan ulang. “Saya yakin, FIFA akan berbuat sesuatu terkait insiden handball Henry. Bukan menjadi kewajiban Henry untuk mengakui kalau ia handball,” kata Trapattoni.

Trapattoni paham Henry tidak mungkin mengakui handballnya saat pertandingan. Ia toh bukan pemain timnas Irlandia. Lagipula, Prancis juga membutuhkan kemenangan agar lolos ke Piala Dunia 2010.

Kembali ke film The Count of Monte Cristo, Dantes berhasil kembali menghirup udara bebas setelah enam tahun di Chateau d’If. Lebih dari itu, ia menjadi seorang kaya raya berkat harta karun Spada. Ia menemukan harta karun itu berkat peta dari seorang pendeta, Abbe Faria yang ia temui di penjara Chateau d’If. Abbe Faria pula yang mengajari Dantes membaca, ilmu pengetahuan, dan ilmu pedang.

Berkat bekal harta dan ilmu dari Faria, Dantes berhasil membalaskan dendam pada Villefort, Danglard dan Mondego. Di scene akhir, Dantes semula ingin mengampuni Mondego. Sayang, Mondego yang terbakar amarah dan dendam justru menantang Dantes berduel pedang.

Sebelum mati, Mondego meminta ampun kepada Dantes. Namun Dantes ternyata telah berubah pikiran  dan  berkata: “Saya bukan santo, saya seorang count (bangsawan)” Maksud Dantes jelas, ia bukan santo atau orang suci yang selalu baik dan bebas dari kesalahan, yang dengan begitu saja mengampuni lawannya. Sebaliknya, Dantes ‘hanya’ seorang bangsawan.

Andritany dan para pemain Persija mungkin juga bisa mengucapkan seperti Dantes saat ditanya N’douassel atau fans Persib, mengapa ia tak mengaku kalau bola masuk, ketika pertandingan berlangsung. Andritany bisa menjawab:

“Saya bukan orang suci, saya pemain bola. Pemain Persija. Bukan Persib,”

Dan seperti manusia pada umumnya, pemain bola toh bebas memilih, kapan ia harus jujur, kapan ia harus berbohong.

Dari Uncle Ben untuk Montella

vincenzo montella

Pelatih AC Milan, Vincenzo Montella hanya bisa tertunduk lesu.  Minggu (24/9/2017), papan skor di stadion Luigi Ferraris menunjukkan angka 0-2 untuk kemenangan tuan rumah, Sampdoria. Bagi AC Milan, ini adalah kekalahan kedua setelah kekalahan melawan 1-4 melawan Lazio.

Kekalahan atas Sampdoria dan Lazio mungkin bisa sedikit dimengerti oleh para petinggi AC Milan, jika dua kekalahan itu terjadi sebelum pemilik AC Milan menyuntikkan dana besar untuk belanja pemain. Namun kali ini beda soal. Pemilik AC Milan sudah menggelontorkan sekitar 200 juta euro atau Rp 3,1 triliun untuk membeli 10 pemain baru!

Sepuluh pemain baru tersebut adalah Leonardo Bonucci, Lucas Biglia, Hakan Calhanoglu, Frank Kessie, Andre Silva, Ricardo Rodriguez, Fabio Borini, Antonio Donnarumma, Mateo Musacchio, dan Andrea Conti.

Uang sebanyak itu tentu digelontorkan dengan tujuan mengembalikan kejayaan AC Milan yang meredup dalam beberapa musim terakhir. Namun dengan dua kekalahan yang membuat mereka tercecer di peringkat enam dengan 12 poin, telunjuk para petinggi AC Milan mulai tertuju pada hidung Montella selaku allenatore.

Jika dibahasakan secara kasar, para petinggi AC Milan mungkin hendak berkata begini pada Montella: Udah gue modalin besar, tapi tim masih anjlok. Bisa gak si lo ngelatih? Sinyal kalau para petinggi AC Milan mulai garuk-garuk kepala dengan kinerja Montella terlihat dari pernyataan Montella sendiri.

Seperti dilansir ESPN, dua petinggi AC Milan, Marco Fassone dan Massimiliano Mirabelli sudah mengadakan pertemuan dengan Montella membahas performa tim. Sesudah pertemuan itu, Montella mengakui kalau performa timnya di bawah standar. Montella menuturkan dalam pertemuan itu, ia tidak dikambinghitamkan, meski ia mengakui para petinggi mulai gusar.

“Ini bukan soal mencari kambing hitam. Manajemen meminta saya untuk bertindak untuk memastikan tak ada lagi hasil yang seperti ini, tanpa membicarakan soal sistem dan para pemain,” ujar Montella.

Bukan pers Inggris dan Italia namanya jika tak gemar meniupkan rumor. Meski Montella menolak kekalahan ini bakal jadi pintu pemecatannya, media-media Inggris dan Italia sudah kasak-kusuk menulis siapa pengganti Si Pesawat Terbang –julukan Montella. Manajer Chelsea, Antonio Conte dan Pelatih Bayern Munchen, Carlo Ancelotti mengemuka sebagai kandidat pengganti Montella.

Sebetulnya, AC Milan sempat mengilap dalam beberapa pertandingan. Empat kemenangan sudah dikoleksi Leonardo Bonucci dan kawan-kawan, hingga pekan keenam Liga Italia.  Sayangnya, dalam perburuan gelar juara liga, kekalahan hukumnya haram! Apalagi di saat bersamaan, tiga pesaing AC Milan: Napoli, Inter Milan, dan Juventus belum tersentuh kekalahan dan berada di papan atas.

AC Milan bukan tidak mungkin mengejar ketinggalan ini mengingat Liga Italia musim 2017/18 baru berumur enam pekan. Hanya saja, itu bukan tugas mudah buat Montella. Pasalnya, jika hitung-hitungan di atas kertas berlaku, ketiga klub tersebut (hanya) mungkin menelan kekalahan jika saling bertemu satu sama lain. Sulit rasanya berharap klub seperti SPAL, atau Crotone bisa mengalahkan Napoli, Juventus atau Inter. AS Roma, Fiorentina, dan Lazio mungkin iya.

Ultimatum sudah dijatuhkan saat Liga baru berusia enam pekan. Tak ada cara lain bagi Montella selain bergerak cepat mencari solusi agar AC Milan bisa mengejar ketinggalan. Jika tidak, Montella mungkin akan angkat kaki lebih cepat dari yang seharusnya.

With great powers come great responsibilty,” begitu kata Uncle Ben pada Peter Parker saat Parker baru seumur jagung menjadi Spiderman. Montella pun tampaknya harus menyadari kalau AC Milan yang ia tangani kini diisi pemain yang lebih berkualitas dari sebelumnya (setidaknya begitu menurut harga transfer mereka).  Maka tanggungjawab Montella selaku pelatih tentu lebih besar dari sebelumnya.

Lagipula, Anda tentu tak akan memberi perlakuan sama pada kendaraan jenis premium dengan kendaraan semisal Lamborghini atau Ferrari. Nah, sekarang perntanyaannya adalah bagaimana Montella mencari perlakuan dan strategi yang tepat untuk para pemain bintang AC Milan? Cepat Montella, kau tak punya waktu banyak!

Ke Mana Angin Kota London Berhembus?

Lewat novel Orlando, Virginia Woolf menggambarkan betapa cepat cuaca di London bisa berubah. “all was light, order, and, serenity…. “No sooner had the words left his lips than the first stroke of midnight sounded. Orlando then for the first time noticed a small cloud gathered behind the dome of St. Paul’s. As the stroke sounded, the cloud increased, and she saw it darken and spread with extraordinary speed.

Alexandre Lacazette mungkin tak pernah membaca novel Orlando yang pertama kali terbit pada 1928. Namun striker Arsenal asal Prancis ini toh mengalami sendiri apa yang dialami Orlando: menghadapi cuaca London yang berubah-ubah.

“Saya harus terbiasa dengan cuaca dari cerah ke hujan hanya dalam beberapa detik saja,” kata Lacazette, yang baru menetap tiga bulan di London.

Seperti cuaca di London yang cepat berubah, seperti itu pula suasana dalam ruang ganti tim sepak bola. Saat meraih kemenangan, tim berada dalam mood yang bagus. Namun jika tim Anda kalah, mood yang semula bagus itu bisa berubah seketika jadi buruk. “Kalah adalah momen yang menyulitkan,” kata Gelandang Manchester United (MU), Marouanne Fellaini.

Manajer Arsenal, Arsene Wenger memang tak bisa menjaga cuaca kota London tetap cerah setiap saat. Namun ia pasti harus bisa menjaga mood pasukannya agar selalu dalam kondisi terbaik. Itulah misi yang dia emban saat bertandang ke Stamford Bridge menantang juara bertahan, Chelsea, Minggu (17/9/2017) untuk melakoni Derby London.

Mood pasukan Arsenal sedang lumayan positif setelah meraih dua kemenangan masing-masing atas Bournemouth (3-0) dan FC Koln di Liga Europa (3-1). Akan tetapi, Chelsea jelas berbeda dari dua tim tersebut.

Kualitas The Blues ada di atas keduanya. Maka di partai inilah sesungguhnya kebangkitan Arsenal akan dibuktikan. Apakah kebangkitan itu semu, atau sejati. Apakah Arsenal hanya bisa menang melawan tim yang kualitasnya di bawah mereka, atau mereka benar-benar bisa menang melawan tim yang kualitasnya setara.

“Chelsea punya tim yang bagus dan selalu sulit untuk meraih kemenangan tandang atas mereka,” kata Wenger.

Sial bagi Arsenal, angin kota London saat ini sedang berhembus ke arah Chelsea. Itu karena skuat asuhan Antonio Conte sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Setelah kalah 1-3 dari Bournemouth di pekan pertama, Chelsea memetik empat kemenangan termasuk melibas Qarabag 6-0 di Liga Champions.

“Bukan hanya permainan bagus di atas lapangan, tapi Chelsea juga punya suasana yang lebih harmonis di ruang ganti,” kata eks Chelsea, Graeme Le Saux.

Yang diacu oleh Le Saux adalah kisruh soal kontrak dua bintang Arsenal, Alexis Sanchez dan Mesut Ozil. Kontrak keduanya belum diperpanjang pihak klub. Padahal, kontrak keduanya akan habis akhir musim ini.

Sanchez kabarnya sempat ingin pindah ke Manchester City karena ingin main di Liga Champions. Sementara Ozil meminta gaji tinggi. Meski keduanya akhirnya bertahan, rumor tak sedap ini tetap bertahan dan mengudara saat Arsenal kalah.

“Dari sudut pandang pemain, itu situasi yang tak enak. Anda hanya ingin fokus latihan, pemulihan, dan bermain di pertandingan berikutnya. Segala gangguan adalah negatif,” kata  Le Saux.

Namun demikian, bukan Wenger namanya jika tak keras kepala. Ia tak peduli dengan anggapan miring terhadap timnya jelang laga ini. Jangankan anggapan miring, desakan suporter agar ia mundur pun tak digubris. Wenger sendiri telah 21 tahun menangani Arsenal.

Wenger seakan menghayati benar ucapan penyair Samuel Johnson yang mengatakan,  ‘When a man is tired of London, he’s tired of life.’ Dalam kamus Wenger, perkataan itu berubah: “Ketika saya menyerah di Arsenal, saya menyerah terhadap hidup saya,”

Karakter keras kepala juga sebetulnya dimiliki Antonio Conte. Yang sedikit membedakan mungkin tampilan dan perlakuan pada pemain di lapangan. Conte tak segan untuk berbicara dan bertindak keras terhadap siapapun yang mengganggu timnya. Lihat caranya menyingkirkan Diego Costa yang dianggapnya tak lagi berguna bagi tim. Lewat sms! Padahal, Costa adalah salah satu tumpuan Chelsea saat diasuh Jose Mourinho.

Wenger dan Antonio Conte sama-sama perantau di Inggris. Bedanya, Wenger berasal dari Strasbourg, kota di timur Prancis, sementara Conte berasal dari Lecce, kota di selatan Italia. Saat kedua manajer keras kepala ini berduel besok, ke mana angin kota London berhembus?

Tak Ada Musik Klasik di Royal Albert Hall

royal albert hall
Royal Albert Hall (sumber, londonandpartners.com)

Royal Albert Hall, bangunan yang saya sebut ini barangkali adalah salah satu tempat konser musik paling bergengsi di Eropa bahkan dunia. Di kota London, tepatnya bangunan berasitektur Italianate ini berdiri.

Royal Albert Hall mulai dibangun pada 1867 dan selesai pada 1871, tepatnya pada 29 Maret. Pada mulanya, bangunan ini direncanakan bernama Central Hall of Arts and Sciences. Namun oleh Ratu Victoria, bangunan ini berubah nama menjadi Royal Albert Hall untuk menghormati Pangeran Albert yang meninggal enam tahun sebelum Royal Albert Hall dibangun.

Secara umum, bangunan Royal Albert Hall berbentuk oval dengan tinggi 41 meter dengan luas 5200 meter persegi. Pada bagian luar bangunan, tersemat dekorasi tulisan tentang cerita dan tujuan pembangunan Royal Albert Hall serta puja-puji pada Tuhan. “The wise and their works are in the hand of God. Glory be to God on high and on Earth peace.”  Demikian sebagian bunyi kalimat tersebut.

Selama 146 tahun umurnya, beragam musisi dan acara pernah diselenggarakan. Rasa-rasanya, tak ada musisi, band, atau orkestra yang tak mau tampil di bangunan yang mendapat tiga kali penghargaan International Venue Of The Year tersebut. Mulai dari Eric Clapton, Paul McCartney, hingga Adele pernah unjuk kebolehan di sini.

Bukan hanya sekadar tempat menggelar konser musik, Royal Albert Hall juga sering menjadi saksi bisu sejarah dunia tercipta. Salah satunya pada 3 Oktober 1933 yaitu saat Albert Einstein berpidato dalam acara The Refugee Assistance Committee yang dihadiri 8000 orang dan berhasil mengumpulkan dana 500 ribu dollar AS. Dalam pidatonya, Einstein menggunakan Bahasa Inggris dan menyinggung krisis yang sedang terjadi di Eropa saat itu.

How can we save mankind and it’s spiritual acquisitions of which we are the heirs and how can one save Europe from a new disaster?”  kata Einstein.

***

Jika Royal Albert Hall kita ibaratkan turnamen sepak bola, ia mungkin sejajar dengan Liga Champions. Ya, tak ada klub Eropa dan pemain yang rasanya enggan bermain di Liga Champions.

“Liga Champions adalah kompetisi yang semua orang ingin ikut berpartisipasi,” kata Legenda Liverpool, Steven Gerrard.

Sederet bintang sepak bola pernah adu kaki di Liga Champions. Siapa yang tidak tahu Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Mundur ke belakang, pesona Zidane dan Ronaldinho pernah menyihir dunia lewat Liga Champions. Di Asia khususnya Indonesia, orang rela begadang hanya untuk menonton aksi bintang-bintang tersebut di Liga Champions.

Bukan cuma ajang pamer para bintang, sejarah juga banyak tercipta di turnamen yang dimulai sejak 1955 ini. Berbicara final paling dramatis misalkan, silakan pilih final musim 1998/99 antara Manchester United Vs Bayern Munchen, atau final 2004/05 antara Liverpool Vs AC Milan.

Saking hebatnya pesona Liga Champions, Manajer Legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson  berujar kalau turnamen ini lebih besar dari Piala Dunia!

“Liga Champions lebih besar dari Piala Dunia. Semua pemain terbaik berada di sini. Ketika Anda punya pemain seperti Zinedine Zidane, Luis Figo, dan Ronaldo, itu adalah koleksi kelas dunia,” ujar Ferguson 2004 silam.

***

Semua gemerlap Liga Champions itu sayangnya tak bisa dinikmati oleh Arsenal musim ini. Keterpurukan musim lalu membuat pasukan Arsene Wenger harus rela duduk di bangku penonton ditemani popcorn, menyaksikan Liga Champions.

Pada Liga Inggris musim 2016/17, Meriam London hanya berhasil finis di tempat kelima dengan 75 poin. Mereka kalah bersaing dengan Chelsea, Tottenham Hotspur, Manchester City, dan Liverpool.

Catatan buruk ini adalah yang pertama sejak Arsenal ditangani Wenger mulai Oktober 1996. Ya, sejak Wenger masuk ke klub, Arsenal selalu bisa mentas di Liga Champions. Prestasi tertinggi mereka adalah runner up musim 2005/06.

Liga Champions adalah idaman Arsenal, tapi Liga Champions pulalah yang meremukkan mereka musim lalu. Pada Babak 16 Besar, Arsenal dilumat Bayern Munchen dengan agregat 10-2! Sejak kekalahan memalukan itu, Arsenal bagai ayam tanpa kepala. Akibatnya, performa Arsenal sempat anjlok di Liga Inggris.

Desakan mundur pun bagai memekakan  telinga Wenger. Fans menganggap Manajer berjuluk The Professor itu sudah tak lagi mampu mengangkat prestasi Arsenal. Beruntung, keberhasilan menjuarai Piala FA sedikit meregangkan ketegangan syaraf Wenger, pemain, dan fans.

Manajer Liverpool, Jurgen Klopp pernah mengandaikan Arsenal dengan sosok Arsene Wenger sebagai sebuah orkestra yang memainkan musik klasik.  Kala itu, Klopp masih menukangi Borussia Dortmund dan diisukan akan menggantikan Wenger.

“Dia (Wenger) suka memainkan bola, bermain, mengoper. Seperti orkestra. Tapi itu lagu yang tak berbunyi. Saya lebih suka heavy metal. Saya selalu ingin yang nyaring,” kata Klopp seperti dikutip Goal.

Jarak Royal Albert Hall dengan Emirates Stadium -markas Arsenal- hanya memakan waktu 40 menit perjalanan. Namun bagi orkestra bernama Arsenal, jarak menuju Royal Albert Hall adalah paling tidak satu musim kompetisi alias 10 bulan. Pasalnya, mereka harus mentas dulu di Liga Europa, turnamen yang kerap disebut turnamen kasta kedua. Jumat (15/9/2017) dinihari WIB nanti, mereka akan memulai perjalanannya dengan menjamu klub Jerman, FC Koln.

Jadi, kapan lagi ada musik klasik di Royal Albert Hall? Hanya Tuhan dan waktu yang mampu menjawabnya.

Di Setiap Diri Kita Adalah Novel

IMG_20170825_191800_918
Foto penulis favorit dengan penggemarnya

 

Pintu saya buka perlahan. Seketika, hampir semua mata mereka yang ada di ruangan itu tertuju pada saya, termasuk sang pengisi workshop menulis, Ahmad Fuadi. Saya mengangguk pelan, meminta maaf karena datang terlambat dan sedikit mengganggu workshop.

Jumat (25/8/2017) saya berkesempatan mengikuti workshop menulis bersama Ahmad Fuadi, penulis favorit saya. Workshop bertemakan Kiat Menulis dan Menerbitkan Buku itu berlangsung di ruangan Kompasiana, lantai lima gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta Barat. Meski telat, saya beruntung karena workshop belum terlalu lama berlangsung. Workshop dimulai pukul 15:00 sementara saya tiba di ruangan 15:10.

Saat pertama kali mendengarkan Uda Fuadi berbicara, terus terang saya -kalau bahasa anak sekarang- fan girling. “Wah ternyata seperti ini ya, penulis favorit saya kalau bicara. Wah ternyata orangnya begini ya begitu ya, dll.” bisik saya dalam hati.

Di awal sesi, Uda Fuadi memberikan pengantar tentang kriteria menulis yang bagus. Menurut pengarang trilogi Negeri Lima Menara ini, menulis yang bagus adalah menulis yang bisa menggetarkan perasaan orang banyak. Ia juga yakin bahwa setiap orang sejatinya punya cerita dan bisa menulis. “Yang punya cerita bagus banyak, tapi mereka gak nulis,” kata dia.

Di antara sekian sesi dalam workshop tersebut, saya kira sesi proses menulis lah yang paling penting. Di sini, Uda Fuadi tidak bercerita dari segi teknis. Sebab menurut dia, teknis menulis bukanlah bagian yang terpenting. “Teknis itu bisa dikejar,” kata Uda.

Setidaknya ada tiga hal yang menurut Uda Fuadi penting dalam proses menulis ini. Yang pertama adalah niat. Sebagai orang yang ingin menulis, kata Uda, kita harus bisa menemukan alasan kenapa kita ingin menulis. Jika sudah menemukan jawaban yang tepat, stamina menulis kita akan kuat. Sebab, proses menulis, apalagi menulis buku adalah proses yang panjang dan melelahkan. Uda Fuadi bercerita bagaimana ia harus meriset dan mengunjungi kampung halamannya di Maninjau, Sumatra Barat untuk menggali bahan untuk trilogi novelnya. Ketiga buku dari trilogi itu masing-masing membutuhkan waktu rata-rata 2,5  tahun untuk ditulis.

“Kalau sudah tahu reason, baru kita masuk ke pertanyaan kedua yaitu: what,” kata Uda.

Menulis bisa dimulai dari hal-hal yang kita tahu dan cintai. Hal-hal tersebut akan jadi bahan tulisan yang kita tak akan pernah bosan untuk menulisnya. Uda Fuadi mencontohkan trilogi novel Negeri Lima Menara yang ia tulis berdasarkan urutan kisah hidupnya sendiri. Mulai dari cerita kehidupan di pesantren, kuliah di Bandung, hingga akhirnya jadi wartawan Tempo.

Di setiap diri kita adalah novel. Tinggal memilih bagian mana yang harus dibuang, bagian mana yang harus ditulis,” kata Uda Fuadi.

Yang ketiga dari proses menulis baru lah segi teknis. Segi ini, kata Uda Fuadi bisa berbeda bagi tiap-tiap penulis. Uda Fuadi sendiri menggunakan teknik mind maping yang membuatnya punya gambaran jelas mengenai buku yang akan ia tulis. “Jadi kalau saya get lost, saya tinggal lihat lagi map nya,” kata dia. Setelah punya mid map yang jelas, kita bisa menuliskan pointer-pointer yang bisa kita turunkan lagi menjadi paragraf. Saat menjelaskan ini, Uda Fuadi memperlihatkan draft dan point-point yang ia kerjakan dulu sewaktu menulis Negeri Lima Menara.

IMG_20170825_160557
Proses menulis seorang Ahmad Fuadi

Jam sudah menunjukkan pukul 16:15 saat Uda mulai menerangkan soal bagaimana menerbitkan buku. Uda Fuadi mengaku beruntung, bukunya ditemukan penerbit dan bisa laris di pasaran. “Jadi kalau ditanya apa resep untuk jadi best-seller, saya tidak tahu,” kata Uda. Alumni Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini mengakui, jika bukan karena waktu yang tepat, bukunya mungkin tidak akan jadi best-seller dan ia tidak jadi penulis terkenal.

Proses penerbitan buku itu sendiri memakan waktu yang cukup panjang. Mulai dari penyuntingan, hingga masalah seperti pemilihan sampul buku. Uda Fuadi bercerita bagaimana ia memilih dan akhirnya memutuskan gambar untuk sampul buku terbarunya, Anak Rantau. Untuk buku ini, Uda Fuadi menyelenggarakan pemungutan suara via media sosial. Para pengikut akun media sosial Uda Fuadi di @fuadi1 dipersilakan memilih satu di antara dua gambar yang sebelumnya telah dipilih oleh tim. Dari polling itu, terpilihlah gambar anak yang sedang menggendong ransel, menatap bus di depannya yang sedang melaju. Uda bercerita, ia sebetulnya lebih suka gambar pertama, yang menampilkan tas berwarna merah bertuliskan Anak Rantau. “Tapi sebagai penulis, kita tidak bisa egois,” begitu kata dia.

IMG_20170825_161049
Alur menulis sebuah buku oleh Ahmad Fuadi

Idealis Vs Oportunis

Pada sesi terakhir, para peserta dipersilakan bertanya pada Uda Fuadi. Para penanya rata-rata menjelaskan dulu background mereka seperti apa. Di sinilah, saya melihat ternyata para peserta ini hebat-hebat betul. Ada yang sudah menulis buku, pernah membuat novel, namun tak kunjung terbit. Ada juga peserta yang mengaku sudah punya draft novel tentang pencak silat. Luar Biasa. Saya sendiri menanyakan pendapat Uda soal menulis menuruti kata hati atau menulis menurut pasar. Sebab saya berpikir, rata-rata penulis pastinya ingin bukunya dibaca banyak orang, yang berujung pada income yang lumayan.

IMG_20170825_163659
Suasana workshop menulis bersama Ahmad Fuadi

Menurut Uda Fuadi, keduanya bukan hal yang harus terpisah, malah lebih baik disatukan. Saat menulis trilogi Negeri Lima Menara, Uda Fuadi mengaku tidak berpikir bagaimana agar bukunya laku dipasaran. Sebaliknya, ia menulis karena ingin menceritakan kehidupannya yang pernah menyenyam pendidikan di pesantren. “Awalnya saya bahkan ragu bisa menulis novel. Istri saya lalu membelikan banyak buku mengenai teknik bagaimana menulis novel. Ya saya baca satu-satu,” ujar Uda Fuadi. Timing yang tepat, kata Uda, mungkin menjadi penentu bagaimana sebuah buku bisa jadi best-seller atau tidak. Uda mencontohkan bagaimana draft novel pencak silat yang dipunyai salah satu peserta, bisa saja diluncurkan jadi buku saat film Wiro Sableng muncul tahun depan.

Selain timing, Uda Fuadi berpendapat pemilihan sampul buku juga bermain peran dalam keberhasilan sebuah buku. Sebab, sampullah yang akan dilihat oleh para pengunjung toko buku pertama kali, sebelum mereka memutuskan untuk membeli buku. “Kalau sampul Negeri Lima Menara seperti ini, mungkin tidak ada yang beli kali ya,” canda Uda Fuadi sembari memerlihatkan slide tiga sampul awal Negeri Lima Menara. Saya pribadi memang menilai ketiga sampul itu tidak menarik karena lebih mirip buku motivasi atau buku agama ketimbang novel.

Seperti pepatah klasik, waktu jugalah yang memisahkan kita. Workshop penulisan ini akhirnya berakhir saat jam menunjukkan pukul 17:30, lebih panjang 30 menit dari waktu berakhir semula yaitu 17:00. Sebelum menutup workshop,, Uda mengingatkan lagi soal menulis satu halaman per satu hari. Jadi, pada akhir tahun, kami minimal sudah punya 365 halaman tulisan.

“Jadi bisa ya, akhir tahun sudah punya minimal satu buku?” kata Uda pada kami. Mudah-mudahan bisa, entah buku apa yang akan jadi. Kamu mau ikutan juga? Boleh. 🙂