130 Kilometer Mohamed Salah

Konon katanya, semakin tua, daya imajinasi manusia kian terkikis dan ia semakin realistis. Atas nama kebutuhan, untung-rugi dan wani piro menjadi prinsip dan basis bagi hampir segala pertimbangan. Kehidupan pun semakin banal dan kita gagal melihat sesuatu  lebih dari sekadar hal-hal yang materialistis.

Maka kita pun heran, melihat ada orang seperti Butet Manurung, yang tanpa pamrih membangun Sokola Rimba bagi suku Anak Dalam di Jambi. Atau, ada orang seperti Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang tak pernah meminta imbalan jika diundang dan hanya berprinsip In lam takun ‘alayya ghodlobun fala ubali (Asalkan Engkau tak marah kepada ku wahai Tuhan, maka kuterima apa saja nasibku di dunia: bahagia atau derita, dijunjung atau dibanting, nyaman atau sengsara, hidup atau mati, ada atau tiada) dalam menjalani hidupnya.

Juga jangan heran, ketika kita pun hanya menganggap sepele anak-anak yang bermain sepak bola di lapangan bulutangkis dengan bola plastik dan gawang seadanya. Kita menganggap mereka sekadar sedang bermain biasa, menghabiskan waktu, atau malah menambah pekerjaan kita karena baju-bajunya yang kotor. Padahal, di dalam benak mereka, imajinasi sedang berkembang, blue print masa depan mereka sedang dicetak. Dengan membayangkan sosok pemain idola: Zinedine Zidane, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo atau siapapun, mereka berkata dalam benaknya: Saya ingin menjadi pesepakbola. Dan pada saat itu, mereka membutuhkan bantuan kita mewujudkan mimpinya.

Namun karena kedangkalan, prinsip untung-rugi dan wani piro  yang telah merasuk dalam diri, kita patahkan mimpi mereka. Kita paksa arahkan mereka untuk mengikuti kemauan kita dengan dalil ‘untuk kebaikan mereka’ atau ‘supaya mereka tidak susah nantinya’. Padahal mungkin sesungguhnya bukan itu tujuannya. Kita arahkan mereka menjadi seseorang yang bukan mereka, supaya nama baik, gengsi keluarga dan status sosial kita terjaga, supaya kita bisa menepuk dada di antara teman-teman bahwa kita telah membesarkan anak-anak kita dengan sukses. Atau dalam bahasa Cak Nun, kita jadikan mereka batu pijakan di bawah kaki nafsu egosentrisme kita. Kita gagal mengendus bakat dan kemauan kerasnya.

Kerelaan Orangtua

Mohamed Salah beruntung, orangtuanya tidak termasuk kategori itu. Bagi Salah, sepak bola menjadi satu-satunya hal yang ia pikirkan, bahkan sepak bola menjadi alasannya untuk bersekolah.

Salah berasal dari Nagrig, 130 kilometer ke utara dari ibukota Mesir, Kairo. Tak seperti Kairo dan Alexandria yang merupakan kota besar, Nagrig hanya kampung kecil dengan mayoritas penduduknya hidup sebagai petani. Jumlah penduduknya pun hanya sekitar 15 ribu jiwa. Bangunan-bangungan di Nagrig mayoritas tak sampai empat lantai. Jalan-jalannya juga masih banyak yang tidak diaspal.

Di kampung kecil itu, anak-anak terbiasa bermain sepak bola dengan telanjang kaki di atas lapangan berdebu dan gawang tanpa jaring. Di sana, mereka, termasuk Salah kecil, bermain sembari membayangkan pemain-pemain idola mereka. “Ketika kecil, Francesco Totti adalah idola saya,” kata Salah.

Salah kecil  tak pernah membayangkan bisa bermain di Eropa. Pada mulanya, ia bahkan menganggap sepak bola hanya sekadar permainan. Sampai pada suatu saat, seorang pemandu bakat mengendus kemampuan Salah dan membawanya ke klub El Mowkaloon di Kairo. Ketika itu, usia Salah baru 14 tahun dan ketika itu pula, Salah harus bolak-balik Nagrig-Kairo untuk mengejar mimpinya.

Setiap hari, dia bersepeda dulu sekitar satu kilometer ke kota dekat Nagrig, Basyoun. Dari sana, dia masih harus pergi lagi ke kota yang lebih besar, Tanta, sebelum tiba di Kairo dan naik bus ke markas klub. “Empat jam berkomuter, dia ulang setiap hari,” tulis Jahd Khalil, wartawan The National yang menulis soal Salah.

“Empat jam perjalanan dari El-Mokawloon ke rumahnya adalah perjalanan panjang yang melelahkan. Namun saya hanya melakukannya sekali, sementara Salah muda melakukannya setiap hari, pulang-pergi, hanya agar dia bisa tetap bersama keluarga dan orang-orang terpenting di hidupnya,” tulis Abdel Fattah Faraj, dan Asharq Al-Awsa, dua wartawan Arab News yang me-napaktilasi perjalanan Salah.

Salah sendiri mengakui, orangtuanya agak berat membiarkannya bermain sepak bola. Bukan apa-apa, selain bermimpi anaknya mengejar karier yang lebih menjanjikan, sepak bola membuat Salah beraktivitas lebih keras dari biasanya.

“Itu sangat sulit bagi mereka. Saya dulu harus meninggalkan rumah pagi hari dan kembali malam sekali. Saya dipaksa berganti bus sebanyak lima kali untuk mencapai klub saya,” kata Salah.

“Lima hari seminggu, setiap minggu selama tiga atau empat tahun, saya melakukan perjalanan ini. Saya berangkat jam sembilan pagi, lalu tiba di markas latihan jam dua atau setengah tiga siang. Latihan dimulai jam setengah empat. Saya akan selesai jam enam sore, pulang dan tiba di rumah jam 10 atau 11:30 malam. Kemudian saya makan, tidur, dan mengulangi perjalanan yang sama keesokan harinya,” kata Salah.

Butterfly Effect Bernama El Mowkaloon

Ada teori yang terkenal disebut Butterfly Effect. Sebuah teori, yang mengatakan satu kejadian tak peduli betapa kecilnya, dapat mengubah perjalanan alam semesta. Satu kepak sayap kupu-kupu di hutan Amazon, bisa menimbulkan tornado di benua Eropa. Demikian tulis Neil Goldman dalam novelnya, Good Omens.

Bagi Salah, Butterfly Effect itu terjadi di El Mowkaloon lewat keputusan pelatihnya. “Ketika saya berada di sana, pelatih mengatakan kepada saya bahwa saya akan masuk tim utama. Bagi saya itu luar biasa. Saya ketika itu baru berusia 16 tahun!” katanya. Keputusan pelatihnya telah mengubah karier Salah sebagai pesepakbola.

Salah tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dua musim di tim utama, Salah mencetak sembilan gol dari 41 kali pertandingan. Ia pun masuk ke dalam tim nasional Mesir U-23. Bersama timnas Mesir U-23, Salah bertanding melawan klub Swiss, FC Basel dalam laga persahabatan pada 16 Maret 2012, demi memperingati tragedi Port Said Stadium, di mana 74 orang meninggal dalam kerusuhan di pertandingan antara Al Ahly melawan Al Masry.

Dalam pertandingan melawan Basel, Salah masuk sebagai pemain pengganti. Namun Basel sudah terlanjur kepincut setelah Salah mencetak dua gol. Timnas Mesir U-23 menang 4-3 asal Basel.

“Klub Basel menemukan di babak kedua, pemain pengganti Mohamed Salah, yang akan berlatih bersama klub di beberapa hari kedepan. Salah menunjukkan penampilan luar biasa, dia tahu bagaimana mengeksploitasi kesempatan yang dia punya. Dia mencetak satu gol, 1-2 dan saat 2-4,” tulis Basel di situs resmi klub.

Salah bermain bagi Basel dari 2012 hingga 2014 dan sukses mempersembahkan satu trofi juara Liga Swiss. Kecepatan dan kelincahan Salah ternyata terendus Chelsea yang memboyongnya pada Januari 2014. Sayang, Salah kurang mengilap bersama The Blues dan dipinjamkan ke Fiorentina.

Rencana Tuhan memang indah, begitu kata orang bijak. Kegagalannya bersama Chelsea ternyata membuat Salah justru bisa bermain bersama idolanya di AS Roma, Francesco Totti. Meskipun, ia lebih dulu harus berkostum Fiorentina. “Saya belajar banyak darinya. Saya bangga bisa bermain bersama salah satu idola masa kecil saya,” kata Salah.

Kebanggaan Salah, dibalas Totti dengan pujian. “Dia salah satu yang terbaik di dunia. Saya pikir, dia akan lebih baik,” kata Totti.

Salah sendiri mengaku tak pernah bermimpi bisa bermain di Eropa. Baginya, saat itu target realistis adalah bermain di level atas sepak bola Mesir. “Saya ingin bermain di level atas di Mesir. Tetapi Eropa… Saya tidak mengira. Namun ketika saya berada di level atas Mesir, saya bertanya kepada diri saya, mengapa saya tidak bermain di Eropa? Saya seharusnya bermain di sana. Ketika saya di Basel, saya mengatakan kepada diri saya, ayo bermain di klub yang lebih besar,” kata Salah.

Dan Kemudian Liverpool

“Liverpool selalu membuat saya berani. Ini adalah kota yang yang tak pernah mengkritisi seseorang yang berani mengambil kesempatan,” kata Aktor asal Liverpool, David Morrisey.

Salah mungkin tak mengenal David Morissey, tetapi ucapan Morrisey itu kiranya tepat menggambarkan langkah Salah yang bergabung ke Liverpool pada awal musim 2017/18. Salah tak kapok merumput di Inggris dan mengambil kesempatan bermain bagi Liverpool. Fans Liverpool pun tak skeptis saat timnya memboyong Salah dari AS Roma. Meskipun, Salah pernah gagal bersama Chelsea.

There is always a second chance, begitu kata pepatah. Dan Liverpool benar-benar menyediakan itu bagi Salah. Di bawah asuhan Jurgen Klopp, Salah memanfaatkan kesempatan kedua itu dengan baik. Bermain sebanyak 44 kali, Salah membukukan 39 gol. Salah juga menyamai rekor delapan gol milik legenda Barcelona, Samuel Eto’o sebagai pemain Afrika dengan gol terbanyak di Liga Champions.

Di luar lapangan, performa Salah membuat fans Liverpool membuat chants  berjudul I’ll be Muslim too.  Chants  itu berlirik If he’s good enough for you, he’s good enough for me. If he scores another few, then I’ll be Muslim, too.”  Sitting in the mosque, that’s where I wanna be! “Mo Salah-la-la-la, la-la-la-la-la-la-la.”

Hajj Mohamed El Bahsani punya pendapat sendiri mengenai Mo Salah’s effect  terhadap fans Liverpool “Salah mengajarkan Eropa bahwa Islam mendorong rasa ramah dan ketekunan dalam segala hal yang kami lakukan. Suksesnya bukan kebetulan, karena sukses membutuhkan kerja keras,” kata El Bahsani, pria yang mengurusi yayasan amal milik Salah di Nagrig. Ia sendiri mengaku menangis terharu saat mengetahui chants  tersebut dan Salah yang  masih memegang teguh identitas keislamannya.

A Hero Can Be Anyone

“Idenya adalah untuk menjadi simbol. Siapapun bisa menjadi Batman,”

“Siapapun bisa menjadi pahlawan, Bahkan dia yang melakukan hal sederhana, seperti menyelimuti bocah laki-laki, dan mengatakan kepadanya, dunia belum berakhir,”

Dua kutipan itu muncul dalam film Batman The Dark Knight Rises  (2012). Diucapkan oleh seorang Bruce Wayne. Inti dari dua kutipan itu kurang lebih sama; siapapun dia, bisa menjadi pahlawan dan Batman tak lebih dari sekadar simbol.

Seperti Batman, Salah sejatinya adalah simbol. Sosoknya yang santun, agamis, dan ramah merepresentasikan wajah Islam yang lain dari yang distigmakan media Barat. Meskipun, Salah bukan tokoh agama atau mereka yang biasa berceramah di masjid.

Dan karena Salah adalah simbol. Siapapun bisa menjadi seperti dirinya, dari anak-anak di Nagrig, atau malah anak-anak kita sendiri. Maka ketimbang menyerimpung kaki juang mereka, memaksa mereka menjadi seperti yang kita mau, akan lebih baik jika kita (seperti yang dikatakan Cak Nun) kawal mereka dengan kasih sayang dan doa. Kita lepas dan merdekakan mereka dari pendapat dan kemauan kita, kecuali sesekali mereka meminta pertimbangan dan diskusi agar waspada. Kita tunggu mereka dengan rasa rindu, jika ruh kita ditakdirkan pulang lebih dulu ke hadapan-Nya, sembari menegosiasikan permafaan kepada Tuhan, atas satu dua kekhilafan mereka.

Ada satu cerita unik saat orangtua Salah akhirnya merelakan anaknya untuk mengejar mimpi menjadi pesepakbola. Salah Ghaly, ayah Salah harus bernegosiasi dulu dengan istrinya soal nasib Salah. Seperti lumrahnya orangtua, Ghaly dan istrinya ingin Salah mengejar karier yang lebih menjanjikan. Sebuah hal yang bisa dimengerti jika melihat latar belakang keluarga Salah yang begitu sederhana, dan Nagrig yang begitu terpencil.

Namun melihat pengorbanan anaknya itu, mereka akhirnya merelakan Salah mengejar mimpi menjadi pesepakbola. “Kami menyerahkan semua kepada Tuhan dan menjaganya tetap di sepak bola,” kata Salah Ghaly, ayah Mohamed Salah.

Bukankah orangtua seharusnya seperti itu?

 

Advertisements

Derai-derai Cemara di Stadion Emirates

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Di atas adalah puisi karya Chairil Anwar. Konon katanya, puisi ini ditulis Chairil saat ia terbaring sakit dan beberapa bulan sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Chairil meninggal 28 April 1949 di usia 26 tahun.

Derai-derai Cemara bercerita tentang si aku yang mulai merasa terasing dari kehidupannya. Si aku, yang diceritakan Chairil, merasa segala yang ada di kehidupannya mulai berubah seiriing pertambahan waktu dan usia. Sayangnya, perubahan itu bukanlah yang si aku harapkan. Si aku merasa, hari-hari yang pada awalnya terasa indah, berubah menjadi muram.

Kata-kata jauh, malam, merapuh di bait pertama menyiratkan perubahan itu.  Daun cemara yang semula dekat ternyata mulai menderai menjauh. Hari yang semula siang penuh cahaya, berubah menjadi malam yang gelap. Dahan yang tadinya kokoh, kini merapuh hanya karena disapu angin. Chairil memanfaatkan latar alam untuk menggambarkan perasaan si aku yang merasa dunianya mulai berubah.

Di bait kedua, kita bisa melihat usaha si aku yang mencoba bertahan terhadap perubahan itu. Ia merasa bahwa ia bukanlah yang dulu. Di saat yang bersamaan, si aku pun merasa, nilai-nilai yang ia pegang dahulu, tak bisa lagi menjadi dasar yang ia pegang untuk berkompromi dengan perubahan keadaan. Keadaan telah berubah drastis, melampaui apa yang ia perkirakan.

Pada bait ketiga, kita bisa merasa, si aku mulai menyerah pada keadaan. Ia mulai berpandangan bahwa pada hakikatnya hidup hanyalah soal menunda kekalahan. Sebuah kekalahan yang pasti hadir, suka atau tidak kita suka. Pada akhirnya si aku pun semakin terasing dari hal-hal yang ia suka; cinta dan sekolah rendah. Sehingga, tak ada pilihan lain bagi si aku selain menyerah.

Puisi ini boleh dibilang ‘lawan’ dari puisi Chairil yang berjudul Aku. Puisi Aku diciptakan pada 143, sementara puisi Derai-derai Cemara diciptakan pada 1949. Di puisi Aku, Chairil menunjukkan tekadnya untuk melawan semua keadaan. Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang. Ia bahkan meminta orang-orang untuk tak mengasihaninya. Kalau sampai waktuku/‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu/Tidak juga kau/Tak perlu sedu sedan itu. Puncaknya, Chairil dengan lantang menulis pada bait terakhir, Dan aku akan lebih tidak perduli/Aku mau hidup seribu tahun lagi. Sayangnya bagi Chairil, tekad hanya sekadar tekad. Pada akhirnya, ia pun harus menyerah. Pada kehidupan. Pada keadaan.

***

Jumat 2 Maret 2018 dinihari WIB

Salju turun perlahan di Emirates Stadium, markas Arsenal. Banyak bangku penonton terlihat kosong. Lambang meriam, yang biasa tertutup oleh kerumunan penonton, pun terlihat jelas. Di atas lapangan hijau, tuan rumah sedang meladeni kunjungan kandidat juara Liga Inggris musim ini, Manchester City. Seharusnya, ini jadi laga balas dendam setelah beberapa hari sebelumnya, tim tuan rumah kalah 0-3 dari Manchester City dalam final Piala Liga di Stadion Wembley. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Arsenal kembali kalah 0-3.

Seusai laga, suporter Arsenal mencemooh pemainnya sendiri. Mereka menganggap para pemain yang ada, tak pantas membela Arsenal. Namun dibanding para pemain, semua mata tertuju kepada sang Manajer, Arsene Wenger. Sosok yang dulu begitu dihormati karena berjasa mempersembahkan trofi emas Liga Inggris, kini menjadi pesakitan. Malam itu, bagi Wenger dan pemainnya, tatapan dingin dan cemoohan para penonton jauh lebih menusuk tulang daripada udara dan salju yang turun.

Kekalahan melawan Manchester City malam itu seolah menjadi titik puncak kekesalan kepada Wenger. Manajer yang telah 22 tahun berada di Arsenal tersebut, dianggap sudah tak mampu mendongkrak prestasi klub yang stagnan sejak terakhir kali menjuarai Liga Inggris pada 2003/04. Sejak saat itu, Arsenal hanya berusaha finis di empat besar sembari meraih beberapa trofi minor seperti Piala FA dan Community Shield. Wenger ball yang dulu dipuja-puji sebagai salah satu permainan sepak bola terindah di dunia, kini tak lebih dari permainan usang. Wenger yang dulu dikenal lihai mencium bakat muda dan mengorbitkannya menjadi pemain bintang, kini justru dianggap lebih pandai menurunkan kemampuan pemain karena taktiknya yang itu-itu saja.

dulu memang ada suatu bahan /yang bukan dasar perhitungan kini

Keadaan menjadi semakin tragis bagi Wenger tatkala para pemainnya dikabarkan berkumpul membahas nasib klub. Ironisnya, pertemuan itu berlangsung tanpa sepengetahuan dan dihadiri Wenger. Para pemain Arsenal disebut sudah mulai tak yakin dengan sosok Wenger. Manajemen Arsenal pun kabarnya sudah mulai mempertimbangkan mencari pengganti Wenger di akhir musim. Suara-suara yang meminta manajer asal Prancis itu untuk mundur juga menggaung keras. Salah satu yang turut menyeru Wenger untuk mundur adalah Peter Hill Wood, mantan direktur Arsenal yang dulu mendatangkan Wenger ke  Arsenal.

Hidup hanya menunda kekalahan/ tambah terasing dari cinta sekolah rendah/ dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah

Wenger semakin terpojok. Ia mau tak mau, harus menyerah(?)

***

Dalam membaca sebuah karya sastra, ada kecenderungan pembaca untuk mengasosiasikan si aku dalam karya, dengan pengarang karyanya. Namun sesungguhnya, si aku dalam karya sastra, bisa menjelma siapa saja. Ia bisa teman, ia bisa orang lain, bahkan ia bisa menjadi si pembaca itu sendiri. Itulah mengapa, terkadang kita bisa merasakan apa yang dialami oleh si aku dalam karya tersebut. Kita merasa, si aku dalam karya sastra itu adalah diri kita sendiri.

Saat ini, ketika membaca puisi Derai-derai Cemara, bukanlah Chairil yang saya ingat melainkan sosok manajer berusia 68 tahun yang saat ini melatih Arsenal. Ya, saya teringat sosok Arsene Wenger.

 

Midnight Sale: Aku Berbelanja, Maka Aku Ada

Segala produksi ada di sini
Menggoda kita untuk memiliki
Hari-hari kita diisi hasutan
Hingga tak tahu lagi diri sendiri

(Mimpi Yang Terbeli, Iwan Fals)

Jam sudah menunjukkan pukul 21:00, namun antrean panjang mobil yang hendak masuk ke area parkir sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta masih tampak. Ah ya, ini akhir tahun dan ada midnight sale. Orang-orang menyerbu pusat perbelanjaan yang menyelenggarakan midnight sale dengan mengorbankan waktu istirahat mereka.

Mengapa demikian?

Fenomena kerelaan orang untuk berbelanja hingga larut di midnight sale tidak bisa kita lepaskan dari peran media massa. Coba saja googling dengan kata kunci midnight sale Jakarta. Di lima baris pertama, kita akan disuguhi berita-berita bernada ajakan untuk mengunjungi pusat perbelanjaan yang menyelenggarakan midnight sale. Tengok salah satu judul berita soal midnight sale dari Okezone berikut ini: Serbu Midnight Sale Akhir Tahun di Mal-Mal Ternama Jakarta!

Jelas terlihat bahwa judul tersebut bernada imperatif. Lihat penggunaan tanda seru di akhir judul tersebut, seolah-olah mengajak kita untuk menyerbu dengan segera midnight sale di pusat-pusat perbelanjaan ternama di Jakarta. Atau berita dari Liputan6.com tertanggal 31 Mei 2017 ini, Catat Jadwal Midnight Sale di Jakarta, Jangan Sampai Ketinggalan.

Kalimat ‘Jangan Sampai Ketinggalan’ bermakna, kalau kita ketinggalan midnight sale, maka sesuatu akan menimpa kita. Meski tidak secara tersurat, judul ini sebetulnya ingin berkata, kalau Anda ketinggalan midnight sale, Anda tidak akan mendapatkan barang yang Anda inginkan dengan harga murah. Oleh karena itu, kita seolah-olah harus mencatat jadwal midnight sale yang ada di Jakarta.

Bukan rahasia lagi jika media massa punya efek psikologis pada manusia. Contohnya, pemberitaan tentang konflik di suatu daerah, bisa memicu kesedihan penonton televisi atau pembaca koran, hingga mungkin pada tingkat penggalangan dana untuk membantu korban konflik tersebut.

Graeme Burton dalam Media and Society menuliskan ada sembilan efek dari media di antaranya efek pada perilaku salah satunya adalah purchasing behaviour. Pemberitaan midnight sale sedikit banyak memicu kita untuk minimal datang ke pusat perbelanjaan sampai pada tingkat membeli barang yang didagangkan.

Jangan lupakan peran iklan yang ketimbang berita, memang ditujukan agar penerima atau pembaca iklan membeli produk yang diiklankan. Meskipun mungkin, si penerima iklan sebetulnya tidak butuh-butuh amat terhadap produk yang diiklankan. Hal ini persis seperti apa yang ditulis Jib Fowles dalam Advertising and Popular Culture (1996).

Advertising manipulates consumers and instils false values, it extols a materialistic and consumerist ethic, it deals in emotions and irrationality, it leads people to buy unnecessary or overvalued items.

Eksistensi dan Perlombaan Kelas

Rene Des Cartes pernah berkata, Cogito Ergo Sum yang berarti aku berpikir maka aku ada. Dalam kerangka homo economicus, kalimat itu berubah menjadi aku berbelanja, maka aku ada. Dan salah satu cara mewujudkan eksitensi kita sebagai homo economicus adalah lewat panggung midnight sale.

Homo Economicus sendiri adalah istilah yang dikatakan ahli ekonomi, John Stuart Mill yang berarti mahluk ekonomi yang ingin mendapatkan kenyamanan, kemewahan, dan kebutuhan dengan usaha yang seminimal mungkin.

Di midnight sale, kita bisa mengeluarkan usaha seminimal mungkin untuk mendapat barang sebanyak mungkin lewat diskon-diskon yang diberikan. Jika biasa dengan sejumlah uang kita hanya mendapat satu barang, di midnight sale kita bisa mendapatkan mungkin dua atau tiga barang yang sama.

Selain sebagai wujud eksistensi sebagai homo economicus, kehadiran orang-orang di midnight sale juga adalah dalam rangka menaikan dan mempertahankan kelas mereka.

Mereka yang memiliki kemampuan finansial cukup (menengah ke atas) datang ke midnight sale tidak semata-mata karena diskon yang ditawarkan. Mereka datang untuk menegaskan kelas sebagai yang berkecukupan. Dengan kemampuan finansial melimpah, mereka bisa memborong barang branded lebih banyak dari biasa karena adanya diskon.

Di saat yang bersamaan, mereka yang berada di kelas menengah ke bawah mengintip-intip kesempatan untuk naik kelas. Caranya? Membeli barang branded saat midnight sale. Dalam keadaan normal, kelas menengah ke bawah ini bakal berpikir seribu kali untuk membeli barang branded. Ini karena kemampuan finansial yang terbatas, sehingga mereka masih menaruh barang branded tersebut ke dalam urutan kesekian dalam skala prioritas. Skala prioritas ini berubah saat midnight sale berlangsung. Barang branded yang semula berada di skala prioritas kesekian, bisa berubah tempatnya ke urutan terdepan, karena finansial si kelas menengah ke bawah telah mencukupi untuk membeli barang tersebut.

Barang branded yang dibeli tadi kemudian menentukan kelas kita sebagai pembelinya. Jean Baudrillard dalam buku For A Critique of The Political Economy of The Sign mengatakan bahwa ketika kita mengonsumsi suatu barang, kita sebetulnya juga sedang mengonsumsi tanda yang terkandung dalam barang tersebut. Contohnya kita membeli BMW bukan semata-mata karena spesifikasi BMW lebih bagus dari Hyundai, melainkan karena merek BMW lebih prestis ketimbang Hyundai. BMW yang kita beli kemudian menjadi tanda akan kelas kita sebagai pembelinya.

Tanda tersebut kemudian membuat si pembeli BMW memiliki kelas yang berbeda dari pembeli Hyundai. “We seek to align ourselves with some and differentiate ourselves from others on the basis of the object-signs we consume. What we come to need in capitalism is not a particular object (say a BMW) but rather we seek difference, and by being different we acquire social status and social meaning,” tulis George Ritzer dalam buku Postmodern Social Theory saat menerangkan tentang Jean Baudrillard.

Berdasarkan apa yang ditulis Ritzer, mereka (baik kelas menengah atas dan bawah) yang berpartisipasi di midnight sale sesungguhnya tengah berlomba untuk membedakan diri mereka dengan yang lain. Dengan membeli katakanlah Adidas, kelas menengah atas berusaha mempertahankan kelas mereka sekaligus membedakan kelas mereka dengan kelas menengah bawah.

Pun begitu dengan kelas menengah bawah. Dengan membeli Adidas atau barang branded lain, mereka sedang berusaha naik kelas dan membedakan kelas mereka dengan kelas yang sama sekali tidak bisa membeli barang branded tersebut. Meskipun, kelas menengah ke bawah tadi (mungkin) hanya bisa membeli barang branded tadi saat midnight sale.

Lewat sebuah lagu berjudul Mimpi Yang Terbeli, Iwan Fals menggambarkan betapa kita sebagai manusia terlibat perlombaan tanpa henti untuk membeli. Saking sengitnya perlombaan itu, manusia sampai mengorbankan harga dirinya. Aku ingin membeli..kamu ingin membeli. Kita ingin membeli…semua orang ingin membeli. Apa yang dibeli…mimpi yang terbeli…Tiada pilihan selain mencuri..

Lagu tersebut dirilis pada 1988, saat teknologi belum semaju sekarang. Dan seiring kemajuan teknologi, perlombaan membeli kian sengit. Bagaimana tidak, setiap hari kita hampir selalu dijejali iklan produk lewat gawai, televisi, aplikasi di google dll. Belum lagi midnight sale yang menjajakan barang branded yang bisa mempertahankan atau menaikan kelas kita.

Kita pun baik secara sadar atau tanpa sadar, bakal mengamini apa yang dituliskan Efek Rumah Kaca dalam lagu Belanja Terus Sampai Mati.

Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak zaman
Kita belanja terus sampai mati

Sudahkah Anda ke midnight sale? Kalau belum, Ayo buruan!

 

Jakarta Dalam Sebuah Gerbong Kereta

(Kereta komuter melesat, meninggalkan Jakarta menuju Bogor. Di setiap gerbong, penumpang berdesakkan. Ini jam 16:30, yang berarti waktunya pulang bagi para pekerja di Jakarta)

Perlahan, Amri mengangkat tangan kananya dari himpitan badan penumpang lain. Ia ingin mengelap keringat yang menetes dari dahinya. Sesekali, Amri mendengar penumpang lain menghembuskan nafas panjang. “Fyuuh,” hembus salah satu penumpang.

Meski berada di kereta commuter line AC, padatnya penumpang membuat AC dan kipas angin seperti hati nurani para koruptor; ada, tapi tak ada gunanya!

Kereta masih melaju, mata Amri menerawang ke hampir setiap sudut gerbong yang ia tumpangi, melihat beragam wajah penumpang. Ada yang menampilkan rona kelelahan. Ada juga yang terlihat menutup wajah dengan saputangan, merasa bau keringat orang di sebelahnya, begitu mengganggu.

Memandangi wajah-wajah mereka, Amri teringat dua paragraf pembuka dalam cerita pendek (cerpen) Kota-Harmoni di buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karangan Idrus yang baru selesai ia baca kemarin. Cerpen itu berlatar kehidupan Jakarta sekitar tahun 1945 dan buku Idrus sendiri terbit sekitar tahun 1948.

“Trem penuh sesak dengan orang, keranjang-keranjang, tong-tong kosong dan berisi, kambing dan ayam. Hari panas dan orang dan binatang keringatan. Trem bau keringat dan terasi. Ambang jendela penuh dengan air ludah dan air sirih, kemerah-merahan seperti buah tomat,”

“Dalam trem susah bernapas. Tapi orang merokok juga, menghilang bau keringat dan terasi. Seorang perempuan muda, Belanda-Indo, mengambil sapu tangan, kecil sebagai daun pembungkus lemper, dihirupnya udara di sapu tangannya, lalu katanya ‘Siapa lagi yang membawa terasi ke atas trem. Tidak tahu aturan, ini kan kelas satu,”

Jakarta telah dibangun. Tak ada lagi trem. Tak ada lagi cerita ayam naik komuter atau nenek-nenek makan sirih di transjakarta atau komuter. Gedung-gedung mewabah seperti jamur di musim hujan. Dan rumah penduduk digusur dengan dalih pembangunan. Namun toh, pikir Amri, ada satu hal yang tak berubah dari kota ini: kepadatannya.

(Kereta sampai di Stasiun Manggarai. Meski sudah penuh sesak, ada juga penumpang yang bersikukuh masuk. “Kasih yang turun dulu bu,” kata salah satu penumpang. “Aduh, jangan dorong-dorong dong mas. Sudah penuh nih,” kata penumpang lainnya. Sementara, dari pengeras suara, pembantu masinis berkata: sebentar lagi pintu kereta akan ditutup. Bagi penumpang diharapkan tidak memaksa masuk)

Paradoks, pikir Amri. Di satu sisi, kita begitu membenci kota ini karena kemacetan, kesemberonoan orang-orangnya, juga karena kemampuan luar biasa kota ini mengikis kesabaran diri kita. Akan tetapi di sisi lain, makin banyak orang berduyun-duyun datang ke Jakarta. Saat makan siang di kantor, Amri terkejut oleh penjaga warteg yang wajahnya tak ia kenal. “Baru ya mba?” tanya Amri. “Iya mas, diajak mba saya. Sekalian kalau bisa cari kerja lain,” jawabnya.

Ah ya, jawabannya tentu saja karena uang. Bukankah upah Jakarta adalah yang tertinggi di Jakarta, sekitar Rp 3,6 juta. Jumlah itu sekitar satu juta lebih tinggi dari kota yang pekan lalu didatangi Amri saat dinas luar kota. Uang, kata Amri, memang tidak bisa membeli ketenangan yang mungkin didapat jika kita tinggal di kota lain yang lebih kecil dan jauh dari Jakarta. Tapi dengan uang lah kita membayar KPR, tagihan listrik dan keperluan rumah tangga. Maka persetan dengan ketenangan. Memang bisa hidup tenang jika cicilan motor dan KPR tak terbayar?

Hp dalam saku celana Amri bergetar. Susah payah, Amri mencoba mengambilnya. Terlihat di layar hp, pesan Whatsapp dari bosnya, “Jangan lupa laporan dinas kemarin. Deadline lusa,” Amir membalas singkat, siap. Hp kembali meluncur ke kantongnya. Selang satu penumpang, seorang laki-laki melirik ke arah Amri. “Sasaran empuk,” kata laki-laki itu.

(Kereta berhenti di stasiun Cawang. Lagi, satu-dua penumpang memaksa masuk. Saat hendak jalan kembali, roda kereta berdecit membuat kereta berguncang. Para penumpang yang berdiri, termasuk Amri, dengan kuat memegang pegangan yang menggelayut di tiang, berjuang agar tidak jatuh. “Astagfirullah,” kata salah satu penumpang. Selain berpegangan, mata Amri juga melihat ke bawah, mencari tempat untuk kakinya berpijak dengan lebih nyaman. Saat hendak kembali menatap ke depan, mata Amri sekilas memandang wanita yang baru naik tadi, yang berdiri sekitar dua meter darinya. Berjilbab, matanya belo, bibirnya tipis, kulitnya putih. Cantik)

Wajah wanita itu mengingatkan Amri pada temannya, Wina, seorang anker (anak kereta) juga. Wina pernah bercerita kalau wanita terkadang lebih memilih naik gerbong umum, daripada gerbong khusus wanita karena di gerbong khusus sana, persaingan mendapatkan tempat duduk lebih keras daripada di gerbong umum. “Sering ada yang ribut sampai jambak-jambakan. Lu lembek, lu diinjek,” kata Wina.

Wanita ini, pikir Amri, sepertinya mengikuti kata Wina: memilih untuk naik gerbong umum. Sukur jika ada pria yang bersedia menawarinya tempat duduk. Atau minimal ia bisa berlindung di belakang tubuh pria yang turun di stasiun yang sama dengannya. Ah, wanita butuh pria. Pun sebaliknya. Kita saling membutuhkan. Saling melengkapi.

Amri sendiri sebetulnya capek, setiap hari, setiap pulang ke kosnya di daerah Depok, harus bergelut dengan padatnya penumpang di kereta. Kata-kata dari sastrawan favoritnya, Seno Gumira Aji Darma sesekali terngiang di kepalanya. “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Amri tak ingin menjadi orang yang dimaksud dalam kata-kata Seno tadi. “Tapi kalau harus pindah ke mana? Ke kampung? Jadi petani? Ah, petani di kampung saja tinggal yang tua-tua. Mereka hidup miskin. Yang muda, pergi ke Jakarta, bekerja. Lahan pertanian disulap menjadi pabrik-pabrik atau jalan tol. Dan Presiden berkata: mengapa lulusan pertanian bekerja di bank, tak jadi petani?” Kalau lulusan Fakultas Kehutanan UGM saja bisa jadi Presiden. Kenapa yang lulusan pertanian harus jadi petani?

Jadi sastrawan? Ah itu lagi. Kalau tak tenar-tenar sekali seperti Seno atau Pramoedya, atau  Tere Liye, atau siapapun, tak ada uangnya. Persetan soal idealisme. Memang makan di warteg bisa bayar pakai idealisme? Amri sebetulnya bisa menulis karena hobi sejak kecil, ia pun pernah membuat buku. Namun jangan ditanya soal penjualannya. Jangankan menembus toko buku besar. Buku yang terjual cuma 10. Satu dibeli ibunya, sembilan lainnya dibeli teman yang telah dibujuk-bujuk Amri untuk membeli.

(Kereta sudah memasuki stasiun Universitas Pancasila. Sebagian besar penumpang sudah turun. Masih satu stasiun lagi sebelum Amri turun di stasiun Pondok Cina. Amri duduk sembari memangku tasnya. Sekedar melepas lelah sebelum turun. Sesekali, ia memandangi wajah wanita berjilbab tadi, yang kali ini juga mendapat tempat duduk. Tak ingin ketahuan, Amri memutuskan lebih baik bermain hp. Naas, hp Amri ternyata raib dari kantong celananya. Ia menduga, si maling mengambil hp saat penumpang berdesak-desakan turun di stasiun Lenteng Agung. Amri pun hanya bisa menepuk jidat. Ia kemalingan. Sementara si wanita berjilbab tadi asyik memainkan hp, bersama temannya)

Jakarta itu keras Amri. Yang lembut itu cinta.

Dan entah di Jakarta, cinta itu apa masih ada?

 

 

 

 

Akhir Pahit Seorang Buffon

Ada dua hal, setidaknya yang manusia tidak bisa memilih. Pertama, manusia tidak bisa memilih dari rahim ibu mana dia ingin dilahirkan. Kedua, manusia tidak bisa memilih, dengan cara apa ia akan berpisah dengan seseorang/sesuatu yang ia cintai.

Milan 13 November 2017

Italia berhadapan dengan Swedia untuk perebutan tiket ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia. Di leg pertama, Italia kalah 0-1 lewat gol pemain pengganti Jakob Johansson. Kekalahan ini membuat Italia harus menang minimal dua gol di leg kedua.

Sadar timnya butuh kemenangan, suporter Italia yang memadati Stadion San Siro sudah menebar psywar sejak sebelum pertandingan dimulai. Siulan nyaring terdengar saat lagu nasional Swedia, Du Gamla Du Fria berkumandang. Tujuannya jelas, mereka ingin para pemain Swedia terintimidasi dan tak konsentrasi saat pertandingan.

Situasi berubah saat Il Canto Degli Italiani, lagu kebangsaan Italia bergema. Di atas lapangan, kiper sekaligus kapten tim, Gianluigi Buffon dan para pemain timnas Italia bernyanyi dengan penuh penghayatan. Leonardo Bonucci sampai mengguncang bahu Ciro Immobile. Mulutnya lantang menyanyikan Il Canto Degli Italiani.

L’Italia chiamo, Italia telah memanggil. Siam pronti alla morte, kami siap berkorban nyawa.

Di atas tribun, puluhan ribu suporter tak ketinggalan ikut bernyanyi. Tangan mereka terangkat ke atas, memegang kertas warna Tri Colore: hijau, putih, merah, bendera nasional Italia. Kecuali suporter timnas Swedia, tak ada mungkin orang Italia di stadion yang tak menyanyikan lagu nasional itu.

Stringiamci a corte, biarkan kami bergabung. Siam pronti alla corte, kami siap berkorban nyawa.

Pertandingan berlangsung, Italia terus menyerang pertahanan Swedia. “Kami tak punya senjata lagi. Kami hanya bertahan dan berharap hasilnya tetap seperti ini. Kami tak bisa berbuat yang lain, mereka sungguh luar biasa,” kata Pelatih Swedia, Jan Andersson.

90 menit waktu normal berakhir, wasit memberikan lima menit waktu tambahan. Menit 94, Italia mendapat tendangan sudut, Buffon maju ke kotak penalti Swedia. San Siro penuh dengan teriakan suporter Italia.

Sepak pojok dieksekusi, kemelut terjadi di kotak penalti. Bernardeschi menendang, bola mengenai pemain Swedia lalu bergulir ke kaki Chiellini. Sayang, Chiellini offside. Di layar televisi, waktu menunjukan angka 5:01. Waktu tambahan habis. Wasit Mateu Lahoz meniupkan peluit akhir pertandingan. Pemain Swedia berlarian gembira ke arah pelatih mereka.

Kontras dengan itu, Beberapa pemain Italia terduduk lesu: Buffon berjalan gontai. Immobile duduk lemas di atas lapangan. Andrea Belotti menangis. Skor pertandingan tetap 0-0. Swedia melenggang ke Piala Dunia 2018 dengan agregat 1-0.

Italia tersingkir.

Dalam wawancara usai pertandingan, Buffon tak bisa menahan air mata. Ia tahu, ia telah mengecewakan seluruh rakyat Italia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mulai dari para petani anggur di Pulau Sisilia, hingga pendayung kano di Venesia.

“Kami gagal di sesuatu yang juga punya arti di level sosial,” kata Buffon.

Bagi Italia, kegagalan ke Piala Dunia adalah aib besar. Italia adalah juara dunia empat kali. Italia adalah salah satu negara sepak bola, penghasil pelatih dan pemain berkualitas. Tempat lahir  taktik legendaris catenaccio. Gudangnya para bek-bek handal dunia.

Maka jangan heran, harian terkemuka Italia, La Gazetta dello Sport melabeli kegagalan ini sebagai sebuah apokalips. Jurnalis Italia, Mina Rzouki menyebut kegagalan ini sebagai tragedi nasional.

Tragisnya, kegagalan ini juga memaksa Buffon untuk mengakhiri kariernya bersama timnas Italia. Semula, Buffon berniat pensiun selepas Piala Dunia 2018. “Saya meminta maaf ternyata pertandingan terakhir saya bersama timnas, bersamaan dengan gagalnya kami ke Piala Dunia. Saya tidak meminta maaf untuk diri saya sendiri, tapi untuk sepak bola Italia,” kata Buffon.

Kegagalan jelas bukan jalan yang tepat untuk melepas Buffon, kiper yang sudah berjasa membawa Italia juara dunia 2006. Kiper yang sejak 1997 terus menjadi andalan timnas Italia. Kiper yang disegani kawan maupun lawan.

Buku sejarah telah mencatat kegemilangan itu, namun buku sejarah juga akan mencatat Buffon adalah kapten saat Italia gagal ke Piala Dunia 2018.

Jika bisa memilih, Buffon tentu tidak ingin perpisahan seperti ini. Sayang, takdir telah memilih cara paling getir untuk Buffon berpisah dari sesuatu yang sangat ia cintai:

Tim nasional Italia.

Salam Perpisahan dari Saya, Pirlo

Mulai dari Gianluigi Buffon hingga Frank Lampard sudah menuliskan salam perpisahan dan tribut mereka pada Andrea Pirlo. Isinya penuh dengan sanjungan pada Pirlo. Namun karena saya bukan mereka, dan Pirlo juga tidak kenal saya, saya punya cara sendiri menuliskan salam perpisahan pada Pirlo, yang pensiun kemarin.

Pirlo sebetulnya bukan pemain yang sangat saya idolakan seperti Zinedine Zidane atau Toni Kroos. Namun saya rasa kejiwaan saya perlu diperiksa, jika sebagai penggemar sepak bola, saya tidak menyebut Pirlo sebagai salah satu gelandang tengah terbaik di dunia.

“Pemain Italia terbaik yang pernah saya lihat,” kata Legenda Barcelona, Xavi Hernandez.

“Saat melihat Pirlo dengan bola di kakinya, saya berpikir, apakah saya benar pemain sepak bola,” kata Genaro Gattuso.

Sebagai gelandang, Pirlo tidak banyak berlari mengejar bola, atau naik-turun ke area pertahanan lawan. Pirlo bermain seolah-olah ia sedang berjalan di taman: santai dan menikmati setiap hijaunya tetumbuhan yang ia lihat.

Namun di situlah keunikan dan keunggulan Pirlo. Ia boleh saja tidak rajin berlari mengejar bola, atau naik-turun membantu serangan tim, namun Pirlo memiliki akurasi operan jarak jauh yang luar biasa. “Picking out passes like NFL quarterback,” tulis kolumnis Guardian, Franco Baldini dalam tulisan berjudul Andrea Pirlo was a rare talent – a winner and dreamer who oozed creative cool.

Satu lagi, Pirlo juga memiliki kelihaian mengeksekusi tendangan bebas. Dalam bukunya, ia mengakui kalau ia belajar dari maestro tendangan bebas asal Brasil, Juninho Pernambucano.

Dan kemampuan inilah yang membuat saya menyukai Pirlo dengan cara saya sendiri.

Setiap bermain play station dan memakai AC Milan, Juventus atau timnas Italia, saya akan selalu memilih Pirlo sebagai eksekutor tendangan bebas. Pirlo adalah salah satu eksekutor favorit saya.

Saya suka caranya mengeksekusi bola dengan sederhana. Ia tidak mengambil ancang-ancang yang wow seperti Cristiano Ronaldo, atau melengkungkan bola dengan sangat curvy seperti David Beckham.

“Pada intinya, bola harus ditendang dari bawah menggunakan tiga jari kaki Anda. Anda harus menjaga kaki Anda selurus mungkin dan kemudian ayunkan dalam satu ayunan pelan. Dengan begitu, bola tidak berputar di udara, melainkan menukik tiba-tiba menuju gawang. Saat itulah bola mulai berputar. Dan singkatnya, ketika itulah maledetta (kutukan) dari saya dimulai,” tulis Pirlo dalam bukunya.

Dalam play station, saya menerjemahkan maledetta Pirlo ke dalam beberapa cara. Jika tendangan bebas diambil dari jarak 16-20 meter saya akan mengarahkan bola sejauh mungkin dari jangkauan kiper, lalu menendang bola dengan menekan tombol kotak dan arah bawah secara bersamaan. Saat bola di udara, Saya akan menekan tombol arah kiri/kanan, agar bola itu melengkung dan berputar.

Cara yang hampir sama akan saya praktekkan apabila tendangan bebas diambil dari jarak 20-24 meter, dan 24-32 meter. Bedanya, pada jarak 20-24 saya tidak menekan tombol arah bawah agar bola melaju kencang. Pada jarak 24-32, arah bawah saya ganti dengan arah atas supaya bola meluncur lebih bertenaga.

Saya memang tidak selalu memakai klub yang ada Pirlo di dalamnya saat bermain play station. Namun saya selalu memilih eksekutor yang punya cara mengambil ancang-ancang sesederhana Pirlo. Dan memakai kaki kanan.

Entah sudah berapa gol tendangan bebas yang saya buat dengan cara ini dan dengan Pirlo sebagai eksekutor. Terakhir kali, saya mencetak gol penyelamat dari kekalahan, dengan memilih Xabi Alonso sebagai eksekutor tendangan bebas.

Kini, Andrea Pirlo telah menyusul Xabi Alonso pensiun. Otomatis, pada game FIFA atau PES edisi selanjutnya, mereka berdua tidak ada. Yah, berkurang deh eksekutor favorit saya.

Grazie Mille Pirlo.

Semarang, 8 November 2017

Narasi Edmond Dantes dalam laga Persija Vs Persib di Solo

the count of monte cristo

Perdebatan soal keputusan wasit menganulir gol striker Persib Bandung Ezechiel N’Douassel ke gawang Persija Jakarta masih berlangsung di media sosial. Ada yang menyinggung soal fair play pemain Persija, ada juga yang hanya memanas-manasi dengan saling lempar ejekan.

Bagi yang belum tahu, pertandingan Persija Vs Persib di Stadion Manahan, Solo, Jumat (3/11/2017) menyisakan kontroversi setelah wasit asal Australia, Shaun Evans menganulir gol N’Douassel. Padahal dari tayangan ulang, bola telah melewati garis dan bahkan menyentuh jala gawang.

Kontroversi belum berhenti sampai di situ. Pertandingan terpaksa dihentikan di menit 83 setelah para pemain Persib dianggap enggan melanjutkan alias walk out. Meskipun, Manajer Persib, Umuh Muchtar membantah timnya enggan melanjutkan pertandingan.

Beragam komentar dan reaksi muncul setelah pertandingan. Dari pihak Persib, mereka telah berencana mengirim surat ke PSSI sebagai bentuk protes. Namun yang menarik adalah pernyataan kiper Persija, Andritany soal gol N’Douassel.

Dalam tulisan di blognya (yang entah kemudian dihapus mungkin), Andritany mengakui kalau gol N’Douassel memang sah. “Sampai saat ini saya, dan Bepe tidak berkata bahwa bola itu tidak goal. Bola itu mutlak goal”, tulis Andritany di blog pribadinya, seperti saya kutip dari bolasport.

“Penjaga gawang bola gol kan?” tanya Ezechiel.

“Gol, tapi wasit mempunyai keputusannya” ucap Andritany kala itu.

Lalu, mengapa Andritany tidak mengatakan pada wasit kalau bola memang masuk saat pertandingan?

***

Membaca pernyataan Andritany, saya jadi teringat cerita Edmond Dantes di dalam film The Count of Monte Cristo yang digarap berdasarkan novel karangan Alexandre Dumas. Diceritakan, Dantes adalah tokoh yang jujur dan lugu, seorang yang noble.

Sayangnya, kejujuran dan keluguan membawa Dantes justru menjadi korban konspirasi. Fernand Mondego, temannya sendiri, mantan kapten kapal Dantes, Danglard, dan Villefort, pejabat di kota Marseille, Prancis bekerjasama menjebak Dantes untuk keuntungan masing-masing.

Ketiganya lalu bekerjasama menuduh Dantes sebagai seorang Bonapartist, simpatisan Napoleon Bonaparte, karena memiliki surat dari Napoleon untuk mata-matanya di Marseille. Tanpa sepengetahuan Dantes, Mondego yang turut berkelana bersama Dantes ke Pulau Elba dan bertemu Napoleon, dan Danglard lalu memberitahu Villefort terkait surat Napoleon pada Dantes.

Lewat interogasi oleh Villefort Dantes dengan kejujurannya memberitahu kalau surat tersebut ditujukan pada Monsieur Clarion, yang tak lain adalah rekan dekat Villefort sendiri. Villefort yang merasa terancam atas surat tersebut kemudian menjebloskan Dantes ke penjara Chateau d’If karena takut surat tersebut akan mengancam posisinya sebagai administrator di kota Marseille.

Konspirasi ketiganya menjatuhkan Dantes berhasil. Villefort tetap aman di posisinya malah kemudian naik jabatan sebagai jaksa di Paris, sementara Mondego mendapatkan Mercedes, kekasih Dantes yang ia idam-idamkan. Danglard? Ia naik menjadi kepala perusahaan pengiriman barang, Morell and Company.

Bahwa kejujuran adalah nilai yang mulia, itu tidak bisa dibantah. Namun apakah kejujuran itu selalu tepat? Bagi Edmond Dantes kejujuran ternyata bukan hal tepat. Karena kejujuran ia justru mendapat petaka. Dantes harus ditahan di penjara Chateau d’If selama enam tahun. Ia kehilangan kekasihnya, Mercedes, juga ayahnya yang bunuh diri setelah tahu Dantes dipenjara.

Pada lakon Persija Vs Persib di Solo, Andritany dan para pemain Persija tidak ingin menjadi Edmond Dantes. Andritany bisa saja berlari ke wasit lalu mengatakan bahwa bola memang telah masuk. Namun jika ia mengatakan hal itu, Persija tertinggal 0-1 dan bisa saja kalah. Meskipun, ia mungkin akan disanjung oleh suporter Persib sebagai pemain yang sportif.

Legenda timnas Jerman, Miroslav Klose pernah mengakui golnya tidak sah saat membela Lazio melawan Napoli. Paolo Di Canio pernah membatalkan golnya sendiri saat membela West Ham di partai melawan Everton karena melihat kiper Everton, Paul Gerrard cedera. Padahal, jika Di Canio tetap ingin gol itu tercipta, West Ham bisa menang. Atas aksinya ini, FIFA menganugerahi Di Canio gelar FIFA Fair Play Award tahun 2000.

Akan tetapi, berharap kisah-kisah serupa selalu terjadi di sepak bola adalah harapan yang naif.  Sepak bola adalah pertarungan dan yang bisa kita harapkan adalah perjuangan diri kita sendiri. Berharap lawan akan  selalu bersikap jujur dan ‘berpihak’ pada kita adalah hal yang sia-sia. Namanya juga lawan, tugasnya adalah mempersulit dan menjadi lawan kita di pertandingan.

Republik Irlandia harus rela gagal lolos ke Piala Dunia 2010 setelah kalah agregat 1-2 dari timnas Prancis. Padahal, gol William Gallas di leg kedua bermula dari handball Thierry Henry. Dalam rekaman ulang, Henry memang terlihat sengaja mengarahkan bola dengan tangannya, dan ia pun mengakui hal tersebut. Henry pun lalu dikecam tak hanya oleh rakyat Irlandia melainkan rakyat Prancis dan beberapa eks pemain timnas Prancis.

Namun, Pelatih Timnas Irlandia kala itu, Giovanni Trapattoni ternyata tidak menyalahkan Henry atau meminta pertarungan ulang. “Saya yakin, FIFA akan berbuat sesuatu terkait insiden handball Henry. Bukan menjadi kewajiban Henry untuk mengakui kalau ia handball,” kata Trapattoni.

Trapattoni paham Henry tidak mungkin mengakui handballnya saat pertandingan. Ia toh bukan pemain timnas Irlandia. Lagipula, Prancis juga membutuhkan kemenangan agar lolos ke Piala Dunia 2010.

Kembali ke film The Count of Monte Cristo, Dantes berhasil kembali menghirup udara bebas setelah enam tahun di Chateau d’If. Lebih dari itu, ia menjadi seorang kaya raya berkat harta karun Spada. Ia menemukan harta karun itu berkat peta dari seorang pendeta, Abbe Faria yang ia temui di penjara Chateau d’If. Abbe Faria pula yang mengajari Dantes membaca, ilmu pengetahuan, dan ilmu pedang.

Berkat bekal harta dan ilmu dari Faria, Dantes berhasil membalaskan dendam pada Villefort, Danglard dan Mondego. Di scene akhir, Dantes semula ingin mengampuni Mondego. Sayang, Mondego yang terbakar amarah dan dendam justru menantang Dantes berduel pedang.

Sebelum mati, Mondego meminta ampun kepada Dantes. Namun Dantes ternyata telah berubah pikiran  dan  berkata: “Saya bukan santo, saya seorang count (bangsawan)” Maksud Dantes jelas, ia bukan santo atau orang suci yang selalu baik dan bebas dari kesalahan, yang dengan begitu saja mengampuni lawannya. Sebaliknya, Dantes ‘hanya’ seorang bangsawan.

Andritany dan para pemain Persija mungkin juga bisa mengucapkan seperti Dantes saat ditanya N’douassel atau fans Persib, mengapa ia tak mengaku kalau bola masuk, ketika pertandingan berlangsung. Andritany bisa menjawab:

“Saya bukan orang suci, saya pemain bola. Pemain Persija. Bukan Persib,”

Dan seperti manusia pada umumnya, pemain bola toh bebas memilih, kapan ia harus jujur, kapan ia harus berbohong.